Mencintai Pembunuh Suamiku

Mencintai Pembunuh Suamiku
Part 14


__ADS_3

Menangis adalah cara Riena untuk menguatkan diri nya sendiri. Ia ingin melepaskan semua beban yang terasa menusuk jantung nya.


Samar terdengar seseorang menggedor pintu kamar nya. Tapi Riena mengabaikan nya. Rasa sakit itu sama sekali tidak berkurang. Sekelebat bayangan wajah Reno dan Dian melintas saat dia menutup mata nya.


Ia segera bangkit, rasa yang begitu kuat ingin segera menghampiri kedua buah hati nya.


Setelah selesai bersiap, mengganti pakaian dn mengeringkan rambut nya ia melihat sekali lagi ke cermin, jelas terlihat mata sembab nya.


"Sudah lah, aku akan sedikit berbohong."Riena bergumam, namun sedikit senyum di wajah nya sedikit terlihat. Miris suaminya bahkan tak berusaha untuk mengejarnya pulang.


"Reno! Kamu ngapain sayang? lagi belajar ya?"Tanya Riena saat melihat Reona sedang mencoret coret buku gambar nya.


"Ini apa? Kenapa Reno manggambar seperti ini?"Riena melihat ada gambar sebuah keluarga namun ada gambar seorang wanita dan anak kecil yang mempunyai tanduk dan taring.


"Mereka jahat ma. Mereka mau mengbil ayah dari anak anak ini."Suara berat Reno menandakan kalau dia menahan air mata nya.


"Sayang..! "

__ADS_1


"Ma,, apa ayah akan ninggalin kita ma? Apa orang jahat mau mengambil ayah Reno sama Dian ma? kenapa dia ambil ayah kami? Kenapa dia tidak cari ayah yang lain ma, kenapa harus ayah Reno dan Dian? "Reno tak lagi bisa membendung air mata nya.


Sementara Riena tak percaya dengan apa yang di dengar nya. Sejak kapan Reno tau? dan apa yang sudah anak ini rasakan. Tanpa pikir panjang lagi segera Riena memeluk putra nya air mata nya juga lolos begitu saja.


"Sayang, Reno ngomong apa nak? Ayah gak pergi kok."


"Reno lihat Kanza manggil ayah dengan sebutan papa, dan ayah janji kalau ayah akan pergi ke rumah Kanza."


Riena tak lagi mampu bicara apa pun juga.


"Reno yang kuat ya!Masih ada mama dan adek Dian. Reno gak perlu khawatir biar mama yang urus semua nya ya! "Jelas Riena sambil mengkup wajah anak nya yang belum berhenti menangis.


"Reno sayang jangan bicara seperti itu! Kita akan cari jalan yang terbaik. Ok! "


Reno hanya mengangguk kecil.


Hati ibu mana yang tak akan hancur saat anak nya yang masih kecil di tempatkan pada sebuah pilihan. Riena semakin mengutuk perbuatan suami dan sahabat nya itu, bukan hanya dirinya namun juga perasaan Reno dan Dian juga pasti akan hancur.

__ADS_1


"Maas.. kok mas Reno nangis? "Dian berjalan menghampiri ibu dan anak laki laki nya yang sedang berpelukan."Mama juga nangis? ada apa ma? "Riena melirik Reno sesaat sebelum mengulas senyum tipis merentangkan tangan nya ingin memeluk Dian.


Bingung.. Riena tak tau harus bicara apa pada Dian. "Gak apa apa kok sayang! Mama sama mas Reno cuma kelilipan aja."Riena berbohong. Yang di iyakan oleh Reno.


"Emang kelilipan bisa barengan ya ma? "Dian makin penasaran dengan jawaban mama nya.


"Bisa dong, tadi ada angin yang masuk dari jendela bawa debu.Jadi mama sama mas Reno kelilipan deh! "


"Tap.... "


"Sayang...! "Kali ini suara Fajar yang terdengar di ambang pintu.


Riena dan Reno membeku,seakan mencoba mengabaikan suara itu namun berbeda dengan Dian yang berlari menghampiri sang ayah.


"Ayaaahhhh"Dian menghambur ke dalam pelukan Ayah nya.


"Sayang, ayah kangen sama Dian! Dian kangen gak sama ayah? "Tanya Fajar

__ADS_1


"Dian kangen yah"


"Ya udah nanti bobonya di temenin ayah ya. Sekarang Dian sama mas Reno main dulu ayah mau bicara sama mama!"Fajar pun menurunkan Dian dari gendongan nya.


__ADS_2