Mencintai Putri Ayahku

Mencintai Putri Ayahku
Bab 13


__ADS_3

Rayhan menarik tangan Viona hingga gadis itu jatuh ke dalam pelukan Rayhan.


Rayhan tak dapat menumpu tubuh Viona yang tiba-tiba, sehingga mereka pun jatuh ke tanah. Dengan posisi Rayhan berada di bawah Viona.


Kini mereka saling memandang, tatapan mata mereka bertemu. Keadaan seperti ini membuat jantung mereka berdetak dengan kencang rasa kagum yang telah menyelinap di hati mereka, membuat wajah mereka memerah.


Hati dan pikiran mereka mulai tak keruan.


"Dek, kalian tidak apa-apa?" tanya seorang ibu-ibu paruh baya menghampiri dua insan yang kini diselimuti rasa kagum satu sama lain.


"Eh." Viona tersadar dari lamunannya.


Gadis itu langsung berdiri diikuti oleh Rayhan yang juga ikut berdiri.


"Iya, Bu. Saya baik-baik saja," lirih Viona menjawab pertanyaan dari wanita paruh baya tersebut.


Rayhan dan Viona merasa malu pada wanita paruh baya yang ada di hadapannya.


"Lain kali hati-hati ya, Nak. Zaman sekarang banyak yang berkendara ugal-ugalan, padahal ini masih kawasan parkir," ujar si wanita paruh baya itu pada Viona.


"Iya, Bu." Viona mengangguk.


"Terima kasih, Bu." Rayhan ikut berterima kasih.


Mereka pun langsung melangkah menuju mobil Rayhan yang terparkir setelah wanita paruh baya itu meninggalkan mereka.


"Kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Rayhan pada Viona setelah mereka berada di samping mobil Rayhan.


"Mhm, enggak apa-apa kok, Kak," jawab Viona.

__ADS_1


"Syukurlah, ayo kita pulang," ajak Rayhan.


Rayhan pun membawa Viona pulang ke rumahnya.


Sementara itu di tempat lain seorang wanita tengah menelpon.


"Dasar Bodoh! Harusnya dia sekarang sudah berada di rumah sakit!" bentak Nara pada seorang pemuda di seberang sana.


"Maaf, Nona." Si pemuda hanya bisa meminta maaf.


"Kau memang tak ada gunanya!" bentak Nara lagi lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Rencana kali ini gagal, aku harus berusaha melenyapkan wanita itu," gumam Nara dengan tatapan penuh kebencian membayangkan sosok Viona yang selalu menempel dengan pria yang sangat disukainya itu.


Nara membanting ponselnya ke atas tempat tidur kesal.


Keesokan harinya semua siswa sudah berkumpul di lapangan, Viona dan Rasya berbaris berdampingan.


Mereka sudah siap untuk mengikuti acara pertama yang diadakan di SMA Garuda selama mereka menjadi salah satu peserta didik di sekolah itu.


Rasya dan Viona sangat antusias dalam acara kali ini, dengan mengikuti acara-acara di sekolah, mereka akan mendapatkan pengalaman yang baru dan wawasan yang semakin luas.


Semua siswa-siswi yang ikut dalam acara ini diarahkan untuk menaiki bus yang telah terparkir di lapangan sekolah.


Sebentar lagi semua bus akan berjalan membawa siswa-siswi ke bumi perkemahan yang ada di Bogor.


Viona dan Rasya melangkah masuk ke dalam mobil yang terparkir paling depan.


Mereka memilih bangku bagian tengah, tanpa mereka sadari di bus tersebut Ridwan dan Rayhan juga berada di mobil itu.

__ADS_1


Setelah mendapatkan tempat duduk, Viona membuka ponselnya, dia membuka beberapa aplikasi media sosial miliknya sekadar untuk mengisi waktu sebelum bus benar-benar melaju meninggalkan kawasan sekolah.


Bus mulai berjalan, Ridwan pun berdiri dan melangkah menuju tempat Rasya dan Viona berada.


"Sya," sapa Ridwan setelah dia berdiri tepat di samping Rasya.


Rasya mengangkat wajahnya lalu melihat Ridwan telah berada di sampingnya.


"Kak Ridwan," lirih Rasya kaget.


Dia tak menyangka pria yang dikaguminya itu juga berada di bus yang sama dengannya.


Dia pikir, panitia dan peserta akan berada di bus yang berbeda.


"Kamu bisa ikut aku?" tanya Ridwan pada Rasya.


"Ke mana?" tanya Rasya bingung.


"Ikut aja, ayo," ujar Ridwan.


Rasya merasa senang, tanpa pikir panjang dia pun langsung berdiri dan melangkah mengikuti langkah Ridwan, sedangkan Viona yang sejak tadi takut pusing memilih untuk tidur.


Sehingga Viona tidak tahu Rasya kini telah berpindah ke bangku bagian depan bersama dengan Ridwan.


Viona terlihat tidur dengan nyenyak. Sebelum berangkat, sang ayah yang mengerti bahwa sang putri selalu mabuk perjalanan menyuruh Viona untuk meminum obat anti*o.


Viona yang terlihat nyenyak, tak menyadari kini kepalanya bersandar di bahu Rayhan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2