Mencintai Putri Ayahku

Mencintai Putri Ayahku
Bab 27


__ADS_3

Firman mengajak Rayhan ke sebuah kafe yang terdapat di pinggir pantai.


Mereka menikmati kopi hangat di malam yang dingin.


Rayhan masih diam, dia tidak tahu harus berkata apa.


Rayhan tahu dia sudah melakukan sebuah kesalahan pada bundanya, dan kini dia merasa sang ayah memintanya pergi keluar bersamanya karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh sang ayah.


"Ray," lirih Firman memulai membuka topik pembicaraan.


Rayhan menatap sang ayah.


"Iya, Yah." Rayhan menanggapi panggilan dari sang ayah.


"Apa sebenarnya yang telah terjadi?" tanya Firman.


Rayhan sudah mengerti dari pertanyaan sang ayah.


Rayhan pun terdiam sejenak. Dia menghela napas panjang.


"Aku salah, Yah." Rayhan hanya bisa mengakui kesalahannya.


Tak seharusnya dia berbuat yang tak pantas terhadap Viona.


"Kamu salah? Apa kesalahanmu?" tanya Firman menguji kejujuran putra yang dididiknya sejak kecil.


Akhirnya Rayhan pun menceritakan apa yang telah terjadi kepada Firman.


"Maafkan Rayhan, Yah," lirih Rayhan mengakui kesalahannya.


"Jangan minta maaf pada ayah, tapi minta maaflah pada bundamu, dan berjanjilah untuk tidak melakukan kesalahan lagi," ujar Firman dengan bijak.


"Iya, Yah." Rayhan menganggukkan kepalanya.


"Apa ayah marah padaku?" tanya Rayhan pada ayahnya.


"Ray, kamu sudah dewasa. Ayah yakin kamu sudah tahu mana yang baik dan mana yang salah. Ayah takkan marah padamu selagi kamu berada di jalan yang benar," ujar Firman dengan bijak.


"Terima kasih, Yah. Ayah adalah pria paling hebat dalam hidupku," ujar Rayhan.


Sejak kecil Firman memang mendidik Rayhan dengan baik dan bijak.


Dia tidak pernah sedikitpun memarahi Rayhan, meskipun Rayhan bukan anak kandungnya, tapi dia tetap menyayangi Rayhan seperti dia menyayangi Alisya sehingga Rayhan tidak pernah tahu bahwa Firman bukanlah ayah kandungnya.


"Yah," lirih Rayhan setelah dia merasa lega dengan kesalahan yang telah dilakukannya.


Dia berjanji akan meminta maaf pada bundanya setelah sampai di rumah nanti.


Firman menoleh ke arah Rayhan.


"Mhm," gumam Firman.


"Aku mau tanya ayah boleh?" tanya Rayhan pada sang ayah.


"Tanya apa?" tanya Firman balik.


"Mhm, apa salah kalau aku jatuh cinta dengan Viona?" tanya Rayhan jujur pada sang ayah.


"Apa? Anak ayah sedang jatuh cinta?" tanya Firman memastikan dia tak salah dengar ucapan sang putra.

__ADS_1


Rayhan mengangguk.


"Aku tidak tahu, Yah. Aku merasa Viona adalah wanita yang baik, dia berbeda dengan wanita lainnya. Di setiap aku berada di sampingnya aku merasa bahagia, dan di setiap dia bersedih maka aku merasa sakit dan terluka," tutur Rayhan jujur pada sang ayah tentang apa yang dirasakannya pada Viona.


Firman mengangguk mengerti apa yang dikatakan oleh sang putra.


Dia diam sejenak mencoba mencari kata yang bijak untuk menasehati sang putra.


"Jatuh cinta merupakan hal yang wajar bagi setiap insan, hal itu adalah normal. Bahkan yang tidak normal seseorang yang tidak bisa jatuh cinta pada lawan jenisnya," ujar Firman.


Dia sengaja menjeda ucapannya.


Rayhan masih diam, dia masih menunggu ucapan sang ayah selanjutnya.


"Tapi setiap kali kita jatuh cinta, kita harus bisa menjaga diri kita dari hal-hal negatif dari cinta itu sendiri," ujar Firman.


"Alangkah baiknya setiap kita jatuh cinta pada seseorang, kita kembalikan cinta itu pada Allah dan memohon pada Allah untuk membimbing kita dalam menjalani rasa cinta yang hadir di hati kita," ujar Firman menasehati putranya.


Rayhan terdiam, dia tahu apa yang sudah dilakukan pada Viona tadi pagi telah salah.


Dia telah terbawa hasutan setan untuk melakukan hal negatif terhadap wanita yang dicintainya.


"Terima kasih, Yah," ucap Rayhan.


Setelah itu mereka pun mengobrol hal yang lain.


Rayhan dan Firman pulang sebelum pukul 22.00 malam.


Sesampai di rumah Rayhan langsung menemui bundanya di dalam kamarnya.


"Assalamualaikum, Bunda," sapa Rayhan saat membuka pintu kamar bundanya.


Rayhan langsung menghampiri sang bunda.


Alisya membalikkan tubuhnya lalu menatap putra kecilnya kini yangbtelah tumbuh dewasa.


"Bunda, maafkan Rayhan," lirih Rayhan.


Rayhan langsung meraih tangan sang bunda. Dia mengecup punggung tangan sang bunda berkali-kali sebagai tanda dia telah menyesali apa yang telah dilakukannya.


Alisya terdiam melihat apa yang dilakukan oleh sang putra.


Dia menitikkan air matanya, dia tidak tahu apa yang telah dikatakan oleh suaminya pada putranya, tapi Alisya yakin Firman telah menasehati putranya dengan bijak.


Alisya langsung memeluk tubuh putranya.


"Maafkan Ray, Bun," lirih Rayhan lagi.


Alisya tak menjawab ucapan Rayhan dia hanya memeluk erat tubuh sang putra pertanda dia sama sekali tak marah pada sang putra.


Ibu dan anak itu pun saling berpelukan.


Rayhan mengusap buliran bening yang membasahi pipi sang bunda.


"Rayhan memang anak durhaka, Bun. Ray, sudah membuat malaikat Ray menangis," lirih Rayhan merasa bersalah.


"Tidak, Sayang. Bunda juga minta maaf," lirih Alisya.


Dia juga merasa bersalah telah menampar sang putra.

__ADS_1


"Tidak, Bun. Bunda sama sekali tidak salah, Rayhan yang sudah berbuat nakal," lirih Rayhan.


Alisya membelai lembut kepala sang putra, lalu dia pun mengecup puncak kepala sang putra dengan penuh kasih sayang.


****


Rayhan sudah mulai sekolah. Ingin sekali dia mengunjungi Viona di rumah sakit sepulang sekolah, tapi dia masih ingat apa yang dikatakan oleh sang bunda.


Rayhan ingat bundanya tak lagi mengizinkan dirinya untuk bertemu dengan Viona.


Saat ini Rayhan hanya bisa menyerahkan cintanya pada Allah, dan memohon pada Allah agar menuntun setiap langkahnya.


Semua teman-teman Rayhan senang melihat Rayhan sudah kembali sekolah, 3 hari sang ketua OSIS itu tak masuk sekolah telah banyak orang-orang di sekolah itu merindukannya.


Rayhan merupakan idola di sekolah, hampir semua warga sekolah mengagumi sosok Rayhan.


"Kak Rayhan!" seru Rasya saat melihat Rayhan melintas di depan kelasnya.


Rasya langsung berlari keluar kelas.


Rayhan menghentikan langkahnya, dia membalikkan tubuhnya.


"Ada apa?" tanya Rayhan saat mengetahui siswi yang memanggilnya adalah Rasya.


"Mhm, bagaimana keadaan ayah Viona, Kak?" tanya Rasya penasaran.


Rasya belum memiliki kesempatan untuk bertemu dengan sahabatnya itu.


Rasya berencana nanti siang sepulang sekolah akan pergi ke rumah sakit untuk melihat ayah Viona.


"Ayah Viona sudah melewati masa kritisnya, kini sedang masa pemulihan," jawab Rayhan.


"Oh, begitu..Kak Rayhan nanti siang mau ke rumah sakit, gak?" tanya Rasya lagi.


"Mhm, sepertinya tidak," jawab Rayhan dengan nada sedih.


Rasya menautkan kedua alisnya heran.


"Oh, terima kasih ya, Kak," ucap Rasya.


Rayhan pun berlalu menuju kelasnya. Sedangkan Rasya kembali masuk ke dalam kelasnya.


Pada siang harinya, sepulang sekolah Rasya pun langsung menuju rumah sakit.


Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sahabatnya.


Rasya sampai di rumah sakit, dia mendapati Viona sendang duduk di sofa menemani sang ayah yang kini tengah beristirahat.


"Vio," seru Rasya.


Rasya langsung memeluk sahabatnya.


Kedua sahabat itu saling berpelukan.


"Bagaimana keadaan ayahmu, Vio?" tanya Rasya setelah melepaskan pelukannya.


"Alhamdulillah, ayah baik," jawab Viona.


"Tadi aku bertemu dengan Kak Rayhan, aku ingin mengajaknya ke sini, tapi,--" Rasya menghentikan ocehannya saat melihat wajah Viona yang mulai cemberut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2