
Saat Rayhan hendak masuk ke pekarangan sekolah, dia melihat bayang orang di koridor sekolah.
Dia pun bergegas melangkah untuk mengejar bayangan itu, karena dia yakin bayangan tersebut seperti bayangan manusia bukan hal ghaib.
Melihat Rayhan yang masuk ke dalam sekolah, mau tak mau ayah Viona pun mengikuti langkah Rayhan.
"Nak Rayhan, sepertinya Viona memang tidak ada di sekolah ini," ujar Ayah Viona tidak mau membuang-buang waktu.
"Sebentar, Om. Saya melihat ada orang yang keluar dari pintu belakang," ujar Rayhan.
Rayhan pun langsung melangkah menuju pintu kecil yang ada di belakang sekolah.
Dia merasa ada hal yang tidak beres, karena saat di melewati koridor sekolah, dia seperti melihat Nara dan teman-temannya.
Saat dia berada di pintu kecil bagian belakang sekolah, terlihat pintu itu terkunci dengan rapat.
Rayhan pun memanjangkan lehernya untuk melihat situasi di luar pagar bagian belakang sekolah itu.
Di sana Rayhan dapat melihat dengan jelas sebuah scooter yang tidak asing baginya terparkir di sana.
"Apa? Scooter itu," lirih Rayhan.
Rayhan membalikkan tubuhnya untuk melihat Ayah Viona yang sejak tadi mengikuti dirinya.
"Om," panggil Rayhan.
Ayah Viona menghampiri Rayhan.
"Ada apa?" tanya Ayah Viona pada Rayhan.
"Lihat scooter itu, bukankah itu scooter milik Viona?" tanya Rayhan pada Ayah Viona untuk memastikan tebakannya tidak salah.
Ayah Viona pun menoleh ke arah tunjuk Rayhan, dia mencoba memperhatikan scooter yang terparkir di balik pagar sekolah itu.
"Iya, benar. Itu scooter milik Viona. Itu artinya Viona ada di sekitar sini," ujar Ayah Viona.
Rayhan mengangguk.
Setelah itu Rayhan pun manjat pagar agar dia bisa keluar dari pekarangan sekolah itu.
"Om tunggu di sini saja, biar aku yang melihat keberadaan Viona di sekitar sini," ujar Rayhan.
Ayah Viona mengangguk, dia pun mulai memperhatikan apa yang dilakukan Rayhan dari balik pagar sembari terus mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sangat disayanginya.
__ADS_1
"Vio!" teriak Rayhan mencoba memanggil-manggil wanita yang kini dicarinya.
Hampir setengah jam Rayhan berjalan mencari Viona, tapi dia masih juga tak menemukan Viona.
"Kamu ke mana, sih?" gumam Rayhan semakin khawatir dengan keadaan Viona saat ini.
Seketika Rayhan teringat dengan bayang-bayang yang mengarah pada sosok Nara dan teman-temannya.
"Jangan-jangan, hilangnya Viona ada sangkut pautnya dengan Nara?" gumam Rayhan bermonolog di dalam hati.
Dia juga teringat dengan sikap Nara pada Viona waktu di perpustakaan beberapa hari yang lalu.
"Ya, ini pasti ada hubungannya dengan Nara." Kalau ini Rayhan yakin sekali Nara dan teman-temannya telah merencanakan sesuatu pada Viona.
Tahun lalu juga pernah kejadian seorang siswi yang dikerjai Nara dan teman-temannya ketika siswi itu dekat dengan pria yang disukai Nara.
"Aku yakin, Nara melakukan ini karena aku dekat dengan Viona, " gumam Rayhan di dalam hati.
Rayhan kembali masuk ke dalam sekolah, dia masuk dengan cara memanjat pagar lagi.
"Om, Viona dalam bahaya. Kita harus cari Viona di seluruh sudut sekolah, sebelum gelap." Rayhan memberitahu Ayah Viona pendapat dan firasatnya saat ini.
Rayhan pun langsung menghubungi beberapa teman-temannya, dia meminta teman-temannya datang ke sekolah agar bisa menemukan Viona lebih cepat .
Ayah Viona mulai khawatir saat mendengar ucapan Rayhan, jantungnya berdetak dengan kencang takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada putri kesayangannya.
"Sepertinya ada seseorang yang ingin mencelakai Viona, untuk itu kita harus mencari Viona di dalam sekolah maupun di sekitar sekolah, aku sudah minta batuan beberapa teman-temanku," jawab Rayhan.
"Ya Allah, apa sebenarnya yang telah dilakukan putriku, kenapa ada orang yang ingin menyakitinya," lirih Ayah Viona mulai cemas.
"Viona tidak melakukan kesalahan, Om. Tapi, ada orang yang iri dengannya. Tenang saja, Om. Kita harus menemukan Viona secepatnya," ujar Rayhan mencoba menenangkan Ayah Viona yang tampak cemas.
Rayhan mengangguk, dia pun ikut berkeliling mencari Viona. Pria yang sudah berumur itu pun ikut berkeliling mencari Viona.
"Viona!" teriak Rayhan.
"Vio!" teriak Ayah Viona.
Sementara itu Viona di dalam gudang mendengar samar-samar Rayhan memanggil dirinya.
Dia berusaha berteriak tapi usahanya sia-sia, lakban yang dipasang di mulutnya sangat kuat.
Viona mulai berpikir untuk memberi isyarat pada Rayhan yang ada di luar gudang itu.
__ADS_1
Viona mulai mengedarkan pandangannya di setiap sudut gudang itu.
Kondisi Viona saat ini terikat di sebuah bangku, tangannya terikat di belakang, begitu juga kakinya juga diikat sehingga dia tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Ya Allah, aku harus melakukan sesuatu agar Kak Rayhan tahu keberadaanku saat ini,'' gumam Viona terus berpikir.
"Viona! Viona!" teriak Rayhan lagi.
Suara Rayhan terdengar semakin jelas, itu artinya Rayhan berada di tempat yang tidak jauh dari gudang.
"Vio! Kamu di mana, Sayang?"
Viona juga dapat mendengar dengan jelas suara ayahnya.
"Ayah, ayah juga ada di sini," gumam Viona.
"Ya Allah, bantu hamba melakukan sesuatu," gumam Viona sembari terus memohon pada sang maha Kuasa.
Viona pun berusaha menggerakkan tubuhnya. Dia berusaha terus agar bisa memberi isyarat pada Rayhan atau ayahnya yang kini berada di luar gudang yang kini tengah mencari dirinya.
"Viona! Viona!" Suara Rayhan terdengar jelas berada tepat di depan gudang tempat Viona berada saat ini.
Viona menggerakkan tubuhnya sehingga kini dia bisa berdiri dalam keadaan tangan dan kaki terikat.
Viona pun menggerakkan bangku yang kini terikat di tubuhnya. Perlahan dia membawa bangku itu sembari menghentakkan bangku tersebut ke lantai agar Rayhan tahu keberadaannya saat ini.
Saat Viona menghentakkan bangku yang mengikat di tubuhnya, Rayhan sudah tak lagi berada di dekat gudang sehingga Rayhan tak dapat mendengar isyarat yang diberikan oleh Viona pada Rayhan.
Viona terus berusaha hingga dia terjatuh, tubuhnya yang masih terikat membuat dirinya tak tahu harus bagaimana lagi.
Posisinya yang sulit membuat tangan dan tubuh Viona terasa sakit.
Viona kini mulai meneteskan air mata, dia mulai berputus asa, dalam posisi sulit seperti saat ini terdengar sesuatu yang merayap mendekati Viona.
Samar-samar Viona melihat seekor ular kini mulai mendekatinya.
Matanya membulat, rasa takut kini mulai menyelimuti dirinya.
Dalam situasi yang sulit itu, Viona tak lagi mendengar suara siapa pun yang mencari dirinya.
Dia yakin Rayhan dan ayahnya tak tahu keberadaannya di gudang itu.
Dalam situasi seperti ini, Viona hanya bisa menangis dan pasrah, dia tak bisa berbuat apa-apa lagi melainkan menangis dan berserah diri pada Allah.
__ADS_1
"Ya Allah, jika iniemjadi hari terakhirku. Aku mohon jagalah ayahku, dan buatlah dia bahagia," gumam Viona memohon pada Allah.
Bersambung...