
"Mampus, lu. Gue harap lu langsung ko it," lirih Nara geram.
Dia pun membalikkan badannya, dia langsung meninggalkan tempat itu agar tidak ada yang mengetahui apa yang baru saja dilakukannya.
"Sya," panggil Rayhan.
Rayhan menghampiri Rasya yang sedang asyik memasak membantu temannya yang lain.
"Iya, Kak," sahut Rasya.
"Viona mana, ya?" tanya Rayhan.
Sejak tadi Rayhan tidak melihat sosok Viona.
"Oh, masih di sungai, Kak. Tadi kami pergi ngambil air, pas di tengah jalan ke sini, Viona lupa dengan jamnya yang diletakkannya di atas batu, jadi dia kembali ke sungai lagi untuk mengambil jam miliknya jelas Rasya.
"Kenapa dia belum datang juga? Ini sudah mulai gelap," ujar Rayhan merasa cemas.
"Eh, iya juga ya," lirih Rasya ikut khawatir.
Tanpa pikir panjang Rayhan pun langsung melangkah masuk hutan menuju sungai, Rayhan sangat mencemaskan keadaan Viona.
"Kak," seru Viona.
Rayhan mengabaikan panggilan Rasya, saat ini dia merasa sudah terjadi hal buruk terhadap Viona.
Sebagai seorang sahabat, Rasya pun ikut khawatir dengan keadaan Viona, dia pun berlari mengejar Rayhan.
Dia meninggalkan kegiatan memasaknya begitu saja, dia berusaha mengiringi langkah Daffa.
"Kakak mau cari Viona?" tanya Rasya.
"Ya iyalah, sejak tadi aku tidak melihatnya, aku takut terjadi hal buruk padanya," jawab Rayhan.
Setelah berjalan sekitar 200 meter mereka pun sampai di sungai.
Mereka tak mendapati seorang pun berada di sungai itu.
__ADS_1
Rayhan dan Rasya pun mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat. Mereka sama sekali tidak melihat siapa pun.
Langit pun semakin gelap, jantung Rayhan berdebar kencang mengkhawatirkan keadaan Viona.
Rayhan ingat dengan janjinya pada ayah Viona yang akan menjaga Viona dengan baik.
"Vio!" teriak Rayhan.
"Viona!" teriak Rasya ikut memanggil sahabatnya.
Berkali-kali mereka memanggil Viona, tapi tak seorang pun yang menyahut panggilan mereka.
"Bagaimana ini, kak. Langit semakin gelap," ujar Rasya cemas.
"Lebih baik sekarang kita kembali ke bumi perkemahan terlebih dahulu, mana tahu Viona sudah berada di bumi perkemahan," ujar Rayhan.
Rasya mengangguk setuju, mereka pun kembali ke bumi perkemahan.
Mereka sampai di bumi perkemahan sebelum malam, mereka langsung berpencar mencari Viona di kumpulan siswa yang ikut serta dalam acara happy camp itu.
Rasya juga sudah mencari Viona di tenda mereka tapi tetap saja tak menemukan Viona.
"Viona tidak ada di tenda, Kak," jawab Rasya.
"Andai saja tadi aku menemani Viona mengambil jamnya, pasti hal ini tidak akan terjadi," lirih Rasya menyesal.
Rasya merasa bersalah telah meninggalkan Viona.
"Baiklah, sekarang kamu tolong laporkan perihal Viona pada panitia," ujar Rayhan.
Rayhan merasa tidak enak jika dia melaporkan hilangnya Viona pada panitia.
"Baik, Kak." Rasya mengerti posisi Rayhan saat ini.
Rasya pun langsung melangkah menuju tenda panitia, sebelum acara selanjutnya dilaksanakan.
"Apa? Hilang di mana?" tanya Pak Heri ketua panitia happy camp.
__ADS_1
Rasya pun menceritakan apa yang tadi terjadi.
"Hingga saat ini Viona belum kembali, Pak," jawab Rasya.
"Ya sudah, kita akan bentuk tim pencarian Viona malam ini." Pak Heri mengambil keputusan dengan bijak.
Pak Heri mengumpulkan semua senior kelas tiga beserta anggota OSIS.
Malam ini mereka akan membatalkan acara yang telah direncanakan, malam ini mereka akan membagi 3 tim.
Tim pertama tetap berada di posko perkemahan, sedangkan 2 tim lagi berpencar mencari Viona di dalam hutan, meskipun malam hari mereka akan tetap melakukan pencarian, tentunya akan dibantu oleh penduduk sekitar.
"Viona, di mana kamu?" lirih Rayhan semakin khawatir.
Rayhan ikut dalam tim pencarian malam itu, semua peserta happy camp di kondisikan di satu tempat dengan pantauan guru dan senior yang telah ditunjuk tadi.
Awalnya Rayhan terpilih untuk menjaga peserta lainnya di lokasi perkemahan, tapi dia langsung menolak karena dia ingin ikut mencari Viona, dia ingin dialah orang pertama yang akan menemukan Viona.
Terlebih tanggung jawab yang harus diembannya karena telah berjanji pada ayah Viona.
Dua tim berpencar mencari Viona dengan menggunakan senter serta obor api, satu tim menyusuri hulu sungai, dan satu tim lagi menyusuri hilir sungai.
"Menurut bapak, apakah mungkin dia dimakan hewan buas?" tanya pak Heri pada salah satu penduduk yang ikut dengan mereka.
"Tidak mungkin, daerah sini sudah tidak ada lagi hewan buasnya, kemungkinan besar dia terpeleset dan hanyut di sungai," jawab si penduduk itu.
"Syukurlah kalau begitu, mudah-mudahan kita bisa menemukan Viona secepatnya," ujar pak Heri penuh harap.
"Amin," sahut anggota tim.
Semalam suntuk mereka mencari Viona, tapi usaha mereka belum membuahkan hasil.
Anggota tim pencarian pun juga sudah lelah, hingga akhirnya mereka mengambil keputusan untuk mencari Viona esok hari, sekaligus mereka akan mengedarkan berita ini pada seluruh penduduk sekitar, mana tahu ada yang melihat Viona.
Rayhan tak bisa tenang, dia semakin cemas.
Akhirnya di dalam perjalanan kembali ke bumi perkemahan, dia mengasingkan diri dari rombongan tim.
__ADS_1
Dia bertekad harus menemukan Viona secepatnya.
Bersambung...