
4 jam perjalanan mereka pun sampai di bumi perkemahan Bogor.
Viona masih saja nyenyak dalam tidurnya. Perlahan Rayhan menepuk pipi Viona, dia berusaha membangunkan Viona.
"Vio, bangun," bisiknya pelan.
Semua yang ada di dalam bus sudah mulai turun, Viona baru saja terbangun.
"Udah sampai, ya?" tanya Viona.
"Iya, kita sudah sampai," jawab Rayhan.
"Kak Ray," lirih Viona kaget dengan keberadaan Rayhan yang ada di sampingnya.
"Iya, ayo bangun, teman-teman yang lai udah pada turun," ajak Rayhan.
Viona masih bingung, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya dia pun mengikuti langkah Rayhan yang mulai turun dari bis, Rayhan membantu membawakan barang-barang milik Viona.
"Biar aku aja, Kak," lirih Viona merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa, ayo kita turun."
Mereka pun turun dari bis setelah semua orang turun.
Di luar bis semua peserta disuruh berkumpul dan mendengarkan arahan dari guru pembiusan senior.
Guru pembimbing dan senior memberitahukan beberapa peraturan yang harus mereka patuhi, dan beberapa tugas yang harus mereka lakukan saat berada di bumi perkemahan nantinya.
"Vio, kita satu tenda," ujar Rasya senang menghampiri Viona.
"Iya, ayo kita dirikan tenda kita," ajak Viona pada sahabatnya itu.
Panitia memang telah membagi kelompok dalam satu tenda. Pada satu tenda terdapat 5 atau 6 orang.
Viona dan Rasya serta 3 orang temannya pun mulai mendirikan tenda mereka.
Rayhan melihat Viona dan teman-temannya terlihat kesulitan dalam mendirikan tendanya.
"Bro, kalian lanjutkan dulu, ya," ujar Rayhan pada teman-temannya yang kini juga tengah sibuk mendirikan tenda untuk mereka.
"Mau ke mana, Ray?" tanya Ridwan.
"Bentar," sahut Rayhan.
Rayhan pun melangkah menuju tenda Viona dan teman-temannya.
"Bagaimana, bisa enggak?" tanya Rayhan saat dia sudah berada di lokasi tenda Viona.
"Mhm, kak Rayhan," seru teman-teman Viona senang melihat keberadaan Rayhan.
Rayhan memang senior yang paling banyak dikagumi oleh junior si sekolahnya, selain parasnya yang tampan, dia juga pintar dan tak lupa dia sangatlah ramah pada siapa pun yang ada di sekolah tersebut.
"Sini aku bantuin," ujar Rayhan.
__ADS_1
Viona hanya tersenyum, dia tersipu merasa Rayhan sangat perhatian terhadap dirinya.
Sebagai seorang wanita yang mendapat perhatian lebih dari pria yang setiap hari selalu bersamanya membuat Viona mulai ada rasa yang berbeda pada Rayhan, tapi dia masih berusaha menyembunyikan perasaannya itu.
"Iya, kak. Ini, kak," ujar Rasya mengulurkan sebuah tali pada Rayhan.
"Ada yang bisa dibantu?" tiba-tiba Ridwan juga telah berada di lokasi mereka.
Rasya pun tersipu melihat kehadiran pria yang dikaguminya itu. Ridwan langsung mengambil tali yang diulurkan Rasya tadi, seolah dia tidak rela Rayhan membantu Rasya.
Rayhan pun membiarkan Ridwan melakukan apa yang diinginkannya, Rayhan pun mengambil tali sisi yang lain untuk Viona.
"Sepertinya Ridwan mulai naksir dengan temanmu," ujar Rayhan.
"Iya, Kak. Rasya itu sudah suka sama kak Ridwan sejak pertama kali mereka kenal," ujar Viona.
"Kira-kira kalau Ridwan nembak Rasya bakal diterima, enggak?" tanya Rayhan pada Viona.
Rayhan tahu kalau Rasya adalah sahabat Viona, makanya Rayhan berani menanyakan hal itu.
"Mungkin," jawab Viona simple.
"Kalau aku nembak kamu bakal diterima, enggak?" tanya Rayhan terus terang pada Viona.
Rayhan tak dapat lagi menahan rasa sukanya pada adik kelasnya itu.
Kedekatan mereka semakin hari membuat Rayhan ingin memiliki Viona, Rayhan ingin semua orang di sekolah tahu bahwa Viona adalah pacarnya dan tidak ada seorang pun yang bisa mendekatinya.
Viona hanya diam, dia berdiri dan membiarkan Rayhan mengikat simpul tenda seorang diri.
Viona sadar bahwa dirinya hanyalah seorang anak yang tak berpunya.
Perbedaan antara Rayhan dan dirinya bagaikan langit dan bumi, karena Rayhan merupakan keturunan orang yang berada.
"Aku cuma bercanda, jangan diambil hati," lirih Rayhan setelah selesai mengikat tali tenda.
Viona membalikkan tubuhnya, dia menatap bola mata Rayhan dalam.
Viona dapat merasakan sorotan mata Rayhan menyatakan bahwa senior tampan itu memang menaruh hati padanya.
"Mhm, i-iya, Kak," lirih Viona.
"Vio, maafkan aku. Aku takut kamu malah menjauhiku," gumam Rayhan di dalam hati.
Rayhan sengaja menyangkal ucapannya sebelumnya karena dia tidak tahu bagaimana perasaan Viona padanya.
Setelah memasang tenda, semua peserta pun disuruh istirahat sejenak agar mereka memiliki tenaga dalam acara yang akan diadakan setelah ashar.
"Vio," lirih Rasya saat mereka mulai membaringkan tubuh mereka di tenda.
"Mhm," gumam Viona menanggapi ucapan sahabatnya.
"Menurut kamu Kak Ridwan suka enggak ya sama aku?" tanya Rasya merasa ge-er dengan apa yang telah dilakukan Ridwan tadi padanya.
__ADS_1
"Ya jelas sukalah, Sya. Kalau dia enggak suka sama kamu mana mau dia bantuin kamu," jawab Viona menyampaikan pendapatnya.
"Iya juga, sih. Berarti kak Rayhan juga naksir sama kamu, dong," celetuk Rasya ikut mengeluarkan pendapatnya.
"Apaan, sih," gerutu Viona.
Viona pun membalikkan tubuhnya membelakangi Rasya, dia malas membahas perasaannya terhadap Rayhan.
"Ye, mana tahu memang benar Kak Rayhan suka sama kamu," ujar Rasya lagi.
"AU ah, gelap," sahut Viona.
Viona pun mulai memejamkan matanya berpura-pura tak lagi mendengar ucapan sahabatnya, dia kembali mengingat kata-kata Rayhan tadi.
"Ya Allah, jagalah hati hamba agar tak jatuh pada seseorang yang salah," gumam Viona di dalam hati.
Setelah semua peserta selesai menunaikan ibadah shalat ashar, mereka pun kembali berkumpul untuk mengikuti agenda yang telah dirancang oleh panitia.
Sore ini mereka akan melakukan lomba memasak, mereka akan diminta untuk menyiapkan menu makan malam sesuai dengan bahan-bahan masak yang sudah dibagikan pada setiap kelompok.
"Vio, kita masak apa?" tanya Rasya pada sahabatnya setelah mereka kembali ke tenda masing-masing.
"Vio, kamu sama Rasya pergi ambil air ke sungai aja buat masak, biar kami yang masak," ujar Dea teman kelompok Rasya dan Viona juga.
"Oh ya udah kalau gitu," lirih Viona setuju dengan pembagian tugas yang telah diberikan oleh teman sekelompoknya.
Rasya dan Viona mengambil dirigen tempat air bersih yang telah disediakan panitia.
Mereka pun mulai melangkah menuju sungai yang tak terlalu jauh dari bumi perkemahan.
Beberapa peserta lain juga pergi ke sungai untuk mengambil air bersih di sungai tersebut.
"Wah, airnya bersih banget, ya," seru Rasya senang.
Mereka turun ke dalam sungai tersebut untuk mengambil air.
Saat Viona mau mengisi dirigen, dia membuka jam tangan pemberian ayahnya, dia takut jam itu basah, lalu meletakkan jam tersebut di atas batu tidak jauh dari posisi mereka.
Setelah mengisi dirigen mereka pun langsung ke kembali ke bumi perkemahan, saat di tengah perjalanan Viona teringat dengan jamnya yang ketinggalan.
"Sya, jam tanganku ketinggalan di sungai," ujar Viona.
"Lalu bagaimana? Ayo, kita jemput," ajak Rasya.
"Enggak usah, kamu duluan aja ke bumi perkemahan, biar aku yang jemput," ujar Viona.
"Enggak,..ah, biar aku temani," ujar Rasya.
"Tidak usah, kamu duluan aja, mereka pasti menunggu air ini," ujar Viona menolak tawaran Rasya.
Akhirnya Rasya pun melangkah menuju bumi perkemahan sedangkan Viona melangkah menuju sungai.
Saat Viona sampai di sungai, keadaan sungai mulai sepi.
__ADS_1
Saat Viona mengambil jam tangannya, seseorang mendorong tubuh Viona hingga Viona terjatuh ke dalam sungai yang berarus deras.
Bersambung...