Mencintai Putri Ayahku

Mencintai Putri Ayahku
Bab 16


__ADS_3

Rayhan terus mencari Viona hingga akhirnya dia merasa lelah, dia memilih istirahat di pinggir sungai.


Dia menyalakan api unggun dan tertidur di sana.


Saat pagi tiba, Rayhan membuka matanya. Dia kembali teringat pada Viona, dia langsung bangun. Dia melihat api unggun ya kini tak lagi menyala.


Rayhan berdiri lalu hendak melangkah menuju sungai untuk membasuh muka, di saat dia tengah membasuh mukanya.


Dia melihat ada sebuah kain yang mengambang di antara batu-batu besar.


Rayhan pun mencoba melangkah menuju batu besar itu, dia melihat tubuh seseorang yang mengambang di air.


Rayhan langsung bergegas menghampiri tubuh yang mengambang di air itu.


"Vio," pekik Rayhan cemas.


Rayhan langsung berusaha mengangkat tubuh Viona, lalu membawanya ke pinggir sungai.


Rayhan membaringkan tubuh Viona di atas daun-daun yang ditumpuk Rayhan semalam sebagai tempat tidurnya tadi malam.


Rayhan segera mengecek denyut nadi Viona.


"Syukurlah, Vio masih hidup, aku harus cari bantuan secepatnya," lirih Rayhan.


Rayhan pun langsung mengambil ponselnya di dalam saku celananya, dia mencoba menghubungi Ridwan, tapi sayang tak ada sinyal di tempat mereka berada saat ini.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" Rayhan mulai berpikir keras mencari solusi agar Viona dapat diselamatkan.


Rayhan pun melakukan pertontonkan pertama, dia mencoba memberi napas buatan pada Viona.


Berkali-kali Rayhan mencoba, dia terus berharap Viona bisa sadar secepatnya.


"Huk uhuk." Viona terbatuk.


Gadis itu memuntahkan banyak air dari mulutnya.


"Syukurlah," lirih Rayhan senang.


Saking senangnya, Rayhan langsung memeluk tubuh Viona, dia benar-benar merasa sangat khawatir dengan keadaan Viona.


Kini rasa cemas dan khawatirnya mulai hilang, hatinya lega telah dapat menemukan Viona dalam keadaan selamat.


"Kak Ray," lirih Viona.


"Iya, Vio. Aku di sini bersamamu," ujar Rayhan.


"Kamu istirahatlah dulu sejenak, aku akan mencari sesuatu yang bisa kita makan agar kamu memiliki tenaga untuk kembali ke lokasi perkemahan," ujar Rayhan.


Rayhan kembali membaringkan tubuh Viona yang kini masih terlihat lemas.


Rayhan mengambil sebuah kayu, lalu meruncingkan kayu itu, dia melangkah ke sungai yang dangkal.

__ADS_1


Dia pun mencoba menombak ikan yang berenang di sungai itu.


Dua kali, tiga kali dia mencoba usahanya masih saja gagal. Dia tidak putus asa, hingga akhirnya dia pun mendapatkan seekor ikan yang tidak terlalu besar.


Tanpa memberi bumbu, Rayhan membakar ikan tersebut dengan api yang dinyalakannya.


Viona hanya memperhatikan apa yang dilakukan Rayhan, karena dia sendiri belum memiliki tenaga untuk membantu Viona.


"Vio, kamu makan ikan ini dulu untuk pengganjal perut kamu sebelum kita kembali ke lokasi perkemahan," ujar Rayhan memberikan tersebut pada Viona.


Viona terlihat tidak suka dengan ikan yang diberikan Rayhan tersebut.


"Kamu harus paksakan untuk menghabiskan ikan ini agar kamu kuat untuk kembali ke lokasi perkemahan," ujar Rayhan lagi.


Rayhan sengaja memberikan semua ikan yang dimasaknya itu untu Viona agar Viona memiliki tenaga.


Akhirnya Viona pun mengambil ikan yang diberikan Rayhan padanya, dia pun memakannya secara perlahan, walaupun dia tidak suka, tapi dia tetap memaksakan dirinya untuk menghabiskan ikan tersebut.


Tak berapa lama setelah Viona menghabiskan ikan itu, Viona berusaha untuk duduk.


"Apa sebenarnya yang telah terjadi?" tanya Rayhan pada Viona setelah melihat wajah Viona yang tak lagi pucat.


"Mhm, aku juga tidak tahu. Tapi, aku merasa ada seseorang yang telah mendorongku hingga aku jatuh ke dalam sungai yang dalam dan arusnya deras," jawab Viona.


"Berarti masih ada yang ingin menyakitimu," lirih Rayhan menebak.


"Entahlah, Kak." Viona hanya bisa mengangkat bahunya.


Rayhan mencurigai Nara yang telah mencelakai Viona, tapi sayangnya dia tidak mempunyai bukti menuduh Nara dalam perbuatan itu.


"Ayo, kita kembali ke lokasi perkemahan, Kak," ajak Viona setelah dia merasa sudah membaik.


"Kamu yakin sanggup berjalan?" tanya Rayhan.


"Iya, Kak," lirih Viona.


Dia yakin saat ini banyak orang yang tengah mencarinya.


Akhirnya Mereka pun mulai melangkah menuju lokasi perkemahan.


Satu jam berjalan, terlihat Viona mulai kewalahan dalam mengangkat kakinya.


"Bagaimana, Vio? Apakah kamu masih sanggup? Kalau memang tidak sanggup, kita bisa istirahat terlebih dahulu di sini," ujar Rayhan.


"Masih, Kak." Viona masih berusaha menguatkan dirinya.


Dia ingin nikah sampai di lokasi perkemahan.


"Tidak, kamu pasti sudah lelah, ayo kita beristirahat sejenak di pondok itu." Rayhan menunjuk ke arah sebuah pondok kecil yang ada di tengah hutan tersebut.


Mau tak mau Viona pun menyetujui ajakan Rayhan.

__ADS_1


mereka berhenti tepat di depan sebuah pondok kecil, lalu mereka duduk di teras pondok itu.


"Minum," tawar Rayhan.


Rayhan mengulurkan sebuah botol air minum kepada Viona, sebelum mereka berangkat tadi, Rayhan mengisi botol tersebut dengan air sungai, sebagai persediaan di perjalanan nanti menuju lokasi perkemahan.


Viona menerima botol air minum tersebut lalu menenggak air itu, dia benar-benar merasa kehausan setelah berjalan lumayan jauh.


"Apakah lokasi perkemahan yang masih jauh, Kak?" tanya Viona pada Rayhan setelah dirinya merasa kembali bertenaga untuk melanjutkan perjalanan itu.


"Tidak, kira-kira sekitar 300 meter lagi. Apakah kamu masih kuat berjalan?" tanya Rayhan.


Viona menganggukkan kepalanya.


"Jika kamu tidak kuat, aku masih sanggup kok gendong kamu," ujar Rayhan.


Viona menoleh ke arah Rayhan, dia merasa tersanjung mendengar tawaran dari Rayhan.


"Aku serius," ujar Rayhan.


Rayhan meyakinkan Viona dengan tawarannya.


"Tidak, Kak. Aku tidak bisa terus-terusan merepotkanmu," lirih Viona.


"Vio, aku melakukan ini karena aku sangat peduli padamu. Kamu sangatlah berarti bagiku," ujar Rayhan.


Viona terdiam dengan ucapan Rayhan, dia bahagia mendengarnya, tapi dia masih ingat dengan pesan ayahnya.


"Alu seperti ini karena aku mencintaimu," tutur Rayhan tak lagi bisa menyembunyikan perasaannya terhadap Viona.


Viona hanya diam, dia tidak tahu harus berkata apa.


"Vio," lirih Rayhan sembari menarik tangan Viona.


Kini dia menggenggam erat tangan Viona. Pria tampan itu pun menatap dalam wajah cantik gadis yang dicintainya.


"Aku tulus mencintaimu," lirih Rayhan lagi.


Dia terus berusaha meyakinkan Viona. Dia berharap Viona juga merasakan hal yang sama terhadap dirinya.


Viona membalas tatapan Rayhan, dia juga merasakan apa yang kini dirasakan Rayhan, hanya saja dia takut ayahnya tidak merestui hubungan mereka nantinya.


Ingin rasanya Viona memeluk tubuh Rayhan. Dia juga ingin memberitahu Rayhan akan perasaannya sesungguhnya.


"Rayhan!" Tiba-tiba terdengar suara Ridwan memanggil.


Ridwan dan tim hendak kembali mencari Viona sekaligus Rayhan.


Mereka tak menyangka saat ini Rayhan sudah bersama Viona.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Pak Heri, ketua panitia acara happy camp.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2