
Viona heran saat mendengar ayahnya memanggil nama bunda Rayhan.
Viona menoleh ke arah Bunda Rayhan, dia melihat bunda Rayhan menatap sendu ke arah ayahnya.
“Apa yang terjadi di antara ayah dan bunda Rayhan? Apakah mereka saling mengenal?” gumam Viona di dalam hati.
“Ayah, ayah sudah sadar?” lirih Viona.
Ayah Viona langsung beralih menoleh ke arah gadis kecil yang sangat disayanginya. Pria paruh baya itu pun tersenyum menatap wajah sang putri yang sembab karena menangis.
Perlahan dia mengangkat tangannya, lalu membelai lembut kepala sang putri.
“Aku takut ayah kenapa kenapa,”lirih Viona.
“Ayah, baik baik saja, kok. Kamu tidak usah khawatir,” ujar Ayah Viona dengan senyuman yang dipaksakan.
“Apa kabarmu, Sya?” lirih Yoga pelan.
Viona menoleh ke arah Bunda Rayhan, dia melihat wanita yang berdiri di belakangnya itu tersenyum pada sang ayah.
“Alhamdulillah, aku baik,” jawab Alisya.
Viona masih bertanya tanya di dalam hati tentang dua insan yang kini saling bertegur sapa di hadapannya.
“Dari mana kamu tahu aku ada di sini?” tanya Yoga mulai penasaran tentang keberadaan Alisya di ruangan tempat dirinya dirawat.
“Rayhan yang memberitahuku, dia adalah putraku,” jawab Alisya jujur.
“A apa?” tanya Yoga tak percaya.
“Ya, Rayhan adalah putraku,” jawab Alisya.
“Ayah, ayah kenal bunda kak Rayhan dari mana?” tanya Alisya tak bisa menahan dirinya untuk mempertanyakan hal ini.
“Mhm, ayah dan bunda Rayhan adalah teman lama,” jawab Yoga berbohong.
Yoga tidak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi antara dirinya dan Alisya.
Alisya terpaksa menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang dikatakan Yoga saat Viona menoleh padanya.
“Oh, begitu.” Viona mengangguk paham.
“Om, sudah sadar?” tanya Rayhan yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Yoga.
Dia baru saja menyelesaikan berbagai administrasi yang harus diselesaikannya sebelum Yoga dioperasi esok hari.
Yoga menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah, jadwal operasi akan dilaksanakan besok pagi, Om harus kuat biar sehat," ujar Rayhan memberitahukan Yoga dan yang lainnya.
"A apa?" Yoga tak percaya apa yang dikatakan oleh Rayhan.
__ADS_1
"Vio, ayah sakit apa?" tanya Yoga pada putrinya.
"Yah, ayah akan baik-baik saja, yang penting ayah harus dengarkan apa yang dikatakan oleh dokter," ujar Viona.
Viona sengaja tidak memberitahukan sang ayah penyakit yang kini diderita oleh Ayahnya, cukup dia yang menahan derita itu seorang diri.
"Iya, benar apa yang dikatakan Vio. Kamu harus patuh dengan apa yang dikatakan oleh dokter," ujar Alisya menambahkan.
"Tapi, Vio. Dari mana kita dapat uang untuk operasi?" tanya Yoga pada putrinya.
Selama ini, Yoga memang sering merasa sakit di bagian dadanya, tapi dia tidak berani membawa sakitnya itu ke dokter karena masalah keuangan juga.
"Kamu tenang saja, masalah biaya rumah sakit jangan kamu pikirkan," ujar Alisya.
"Tapi, Sya," lirih Yoga.
"Sudahlah, jangan bahas itu lagi," ujar Alisya.
Lagian Alisya juga berpikir harta yang kini dimilikinya merupakan harta keluarga Yoga, jadi tidak ada salahnya dia menggunakan sebagian uang itu untuk Yoga.
"Iya, Yah. Ayah tidak perlu risau, aku juga akan mencari pekerjaan agar bisa membayar biaya operasi ayah," ujar Viona.
Yoga terharu mendengar ucapan sang putri, dia tak menyangka Viona akan rela berkorban untuk dirinya.
Yoga menatap dalam ke arah sang putri.
"Maafkan ayah yang selalu menyusahkan dirimu, ayah tidak bisa membuatmu bahagia," lirih Yoga penuh penyesalan.
Alisya dan Rayhan terharu melihat ikatan cinta yang mengalir di hati ayah dan anak itu.
Rayhan memeluk tubuh Alisya dengan erat, mereka merasa kasihan dengan nasib yang harus dijalani oleh ayah dan anak itu.
Saat sore hari tiba, Rayhan dan Alisya berpamitan pada Viona dan Yoga.
"Vio, aku antar bunda pulang terlebih dahulu. Nanti aku akan datang lagi," ujar Rayhan pada wanita yang dicintainya itu.
Viona menganggukkan kepalanya, dia membiarkan Rayhan pulang terlebih dahulu.
Sedangkan saat ini, ayah Viona tengah terlelap karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter padanya.
Rayhan mengajak sang Bunda pulang, Rayhan dapat melihat wajah sang bunda yang kini tampak lelah.
Mereka melangkah keluar dari ruang rawat ayah Viona menuju parkiran.
Yoga pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit menuju rumah mereka.
Di sepanjang jalan terlihat Alisya hanya diam, Rayhan merasa ada yang aneh pada sikap sang bunda yang biasanya selalu ceria.
"Bun," panggil Rayhan.
"Mhm," gumam Alisya menanggapi panggilan sang putra.
__ADS_1
"Bunda kenapa? Kok sejak tadi aku perhatikan, bunda terlihat murung," tanya Rayhan pada wanita yang telah melahirkannya itu.
Alisya membelai lengan sang putra yang kini memegangi stir mobil.
"Tidak apay, Sayang. Bunda hanya merasa kasihan dengan nasib Viona," lirih Alisya.
"Iya, Bun. Makanya aku mau langsung kembali ke rumah sakit lagi setelah mengantarkan bunda," ujar Rayhan.
"Iya, Nak. Kamu boleh pergi lagi ke rumah sakit," ujar Alisya memberi izin pada putranya.
Sesampai di rumah Alisya turun dari mobil, lalu Rayhan pun kembali menuju rumah sakit tanpa singgah terlebih dahulu di rumahnya.
****
Saat malam tiba, Alisya berdiri di balkon kamarnya seorang diri.
Sang suami masih belum pulang karena mengurus perusahaan yang ada di luar negeri.
Alisya menatap langit malam yang ditaburi bintang, terangnya langit tak membuat hatinya terasa hangat. Namun, di malam ini hatinya merasa sendu dan sedih.
Kilasan luka yang ditorehkan Yoga pada dirinya kembali menyeruak dalam ingatannya.
Sakit dan luka yang sudah sempat sembuh kini terasa kambuh lagi.
Buliran bening kini mulai membasahi pipinya. Rasa sakit itu kembali terlintas saat melihat Yoga sama sekali tidak mempertanyakan sosok Rayhan yang bersamanya.
Sosok anak yang ditinggalkan Yoga saat masih 3 bulan berada di dalam kandungannya demi wanita lain.
Hati Alisya begitu hancur saat melihat ayah dari putranya sama sekali tidak merasakan ikatan bathin di antara keduanya.
Hati Alisya juga terasa sakit saat mendengar putranya memanggil sang ayah dengan sebutan 'Om'.
Di saat ini, Alisya tidak bisa memberitahu Rayhan kenyataan yang sebenarnya, karena yang Rayhan tahu. ayahnya adalah Firman, sosok pria yang hadir memberikan kasih sayang seorang ayah padanya tanpa memikirkan ikatan darah di antara dirinya dan anaknya.
Kini Alisya semakin terisak, dia merasa tidak kuat memendam kenyataan yang kini dihadapinya.
"Jika Viona adalah putri kandung mas Yoga, maka aku harus berusaha menjauhkan Rayhan dari Viona," gumam Alisya di dalam hati.
"Tapi, bagaimana aku bisa melakukan itu di saat Viona membutuhkan sosok Rayhan untuk bertumpu dalam masalah yang kini dihadapinya," gumam Alisya lagi di dalam hati.
Hatinya berkecamuk, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar di pinggang Alisya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Firman yang sedari tadi telah masuk kamar tanpa diketahui Alisya.
Firman memang sengaja tidak memberi tahu Alisya dia pulang hari ini, karena ingin memberi sebuah kejutan pada sang istri.
Alisya kaget mendengar suara sang suami, dia pun langsung membalikkan badannya, lalu menangis di dalam pelukan pria yang telah mengobati luka yang ditorehkan oleh Yoga.
"Hei, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu nangis?" tanya Firman heran.
__ADS_1
Bersambung...