Mencintai Putri Ayahku

Mencintai Putri Ayahku
Bab 19


__ADS_3

“Yoga?” lirih Alisya tak percaya saat melihat sosok yang dipanggil Viona sebagai ayah itu adalah seorang pria di masa lalunya.


“Bun,” panggil Rayhan.


Rayhan heran melihat sang bunda diam mematung. Sayup dia mendengar sang bunda menyebut sebuah nama. Tanpa disadarinya, buliran bening kini jatuh membasahi pipinya. Kilasan kenangan masa lalu yang menyakitkan kini membuat kesedihan itu terungkap kembali, meskipun dia sudah bahagia bersama Firman.


“Bunda?” Rayhan semakin penasaran apa yang terjadi pada bundanya.


Viona juga heran melihat bunda Rayhan yang menangis saat melihat ayahnya terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit.


“Bunda kenapa?” Rayhan terus bertanya pada sang Bunda yang masih diam terpaku.


“Bun.” Rayhan mengguncang tubuh sang bunda.


“Eh, iya, Sayang. Ada apa?” tanya Alisya tersentak.


Dia mengusap air mata yang tadi sempat membasahi pipinya.


“Bunda kenapa nangis?” tanya Rayhan lagi.


“Tidak apa apa, Sayang. Bunda Cuma teringat seseorang,” jawab Alisya masih berusah menyembunyikan kebenaran yang ada.


Sejak Alisya menikah dengan Firman, dia tak lagi pernah mendengar kabar tentang Yoga dan Tania, sahabatnya.

__ADS_1


Delapan belas tahun telah berlalu, dan kini dia kembali bertemu dengan mantan suaminya itu. Dia tak menyangka akan dipertemukan kembali dnegan mantan suaminya dala keadaan seperti ini.


Tak berapa lama seorang dokter datang menghampiri mereka.


“Keluarga pak Yoga?” ujar sang Dokter.


“Iya, Dok. Saya putrinya,” sahut Viona.


“Bisa kita bicara di ruangan saya?” tanya sang Dokter pada Viona.


Dokter ingin membahas kondisi kesehatan Yoga, dia merasa tidak etis membahas hal penting itu di luar ruangannya.


“Bisa, Dok,” sahut Viona.


Rayhan juga ingin tahu apa yang tengah terjadi pada ayah Viona, melihat wajah dokter, Rayhan dapat memprediksi bahwa saat ini ayah Viona tengah mengidap penyakit yang serius.


“Boleh,” jawab dokter.


Rayhan menoleh ke arah sang bunda.


“Bunda, aku ke ruang dokter dulu, ya. Bunda bisa tunggu di sini sebentar, ya,” pinta Rayhan.


Alisya mengangguk.

__ADS_1


“Iya, Nak. Kamu harus temani Viona, jangan biarkan dia sendiri,” lirih Alisya.


Setelah itu Viona dan Rayhan pun melangkah menuju ruang dokter, mereka melangkah tepat di belakang dokter yang tadi memeriksa keadaan ayah Viona.


Alisya pun duduk di bangku panjang yang tersedia di sana, dia menunggu Rayhan dan Viona di sana sambil terus menatapi wajah lusuh dan lelah Yoga.


Penampilan Yoga saat ini jauh berbeda dengan penampilannya dulu, saat Yoga masih sah menjadi suaminya.


Wajar saja penampilan Yoga kini kumuh dan lusuh, dia tak lagi sekaya saat bersama Alisya. Semua harta kekayaan yang akan diwariskan untuk Yoga jatuh ke tangan Alisya, alasan kekek Herlambang melakukan hal itu karena keluarga Yoga kecewa dengan sikap Yoga yang lebih memilh Tania dari pada istrinya, Alisya yang tengah mengandung putranya.


Alisya tak menyangka hukuman itu membuat hidup Yoga begitu sulit di luar rumah besar keluarga Herlambang.


Viona dan Rayhan kini telah berada di dalam ruang dokter. Mereka duduk di kursi yang tersedia tepat di depan sang dokter.


“Bagaimana keadaan ayah saya, Dok?” tanya Viona pada dokter.


Gadis itu sudah tidak sabar ingin mengetahui penyakit sang ayah. Viona sangat mengkhawatirkan keadaan sang ayah saat ini.


“Mhm, begini,saat ini pak Yoga tengah mengidap kanker paru stadium akhir.” Dokter menjeda ucapannya.


“Apa?” pekik Vina tak percaya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2