
Viona juga menoleh ke arah ayahnya, dia ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh ayahnya pada Rayhan.
"Ray, om perhatikan kamu sudah sangat terlalu dekat dengan Viona." Ayah Viona menjeda ucapannya.
"Om tidak mau kamu menyakiti Viona, karena Viona adalah satu-satunya putri Om, dan hanya dia yang Om miliki di dunia ini," ujar Ayah Viona.
Rayhan terdiam, dia menoleh ke arah Viona, wanita yang kini telah memenuhi hatinya.
"Om, aku janji akan jaga Viona dengan baik," ujar Rayhan.
"Terima kasih, Ray," lirih Ayah Viona.
Ayah Viona merasa lega mendengar janji Rayhan, dia sangat percaya bahwa Rayhan akan menjaga putrinya dengan baik.
****
Sejak hari itu Ayah Viona memberi kebebasan kepada putrinya bersama Rayhan, karena dia yakin Rayhan tidak akan mengingkari janji yang telah diucapkannya.
Di hari libur, Rayhan bermalas-malasan di rumah. Jam sudah menunjuk angka 9 dia masih juga berbaring di atas kasur dengan kehangatan selimut yang membalut seluruh tubuhnya.
Tok tok tok.
Alisya mengetuk pintu kamar putranya, berkali-kali wanita paruh baya itu memanggil Rayhan, tapi yang dipanggil masih nyenyak dalam tidurnya.
Akhirnya Alisya pun membuka pintu kamar yang tidak dikunci putranya itu.
"Ya ampun,. sudah siang begini dia masih saja tidur," gumam Alisya geram melihat tingkah putranya.
Alisya pun melangkah menuju tempat tidur sang putra, dia duduk di pinggir tempat tidur.
Alisya pun membelai lembut kepala putra satu-satunya itu.
"Rayhan sayang," lirih Alisya berusaha membangunkan sang putra.
Rayhan masih saja nyenyak tidur, dia begitu tenggelam dengan mimpi indahnya.
"Rayhan, bangun," ujar Alisya sambil mengguncang tubuh Rayhan.
Rayhan masih saja tak menggubris ucapan wanita yang telah melahirkannya.
"Ray, bangun." Kali ini Alisya mengguncang tubuh Rayhan lebih keras.
"Mhm," gumam Rayhan setelah merasakan ada seseorang yang mengganggu mimpi indahnya.
"Ray, bangun!" ujar Alisya dengan nada yang lebih tinggi.
"Mhm, ada apa sih, Bun?" tanya Rayhan masih dalam keadaan memejamkan matanya.
"Bangun, Ray. Sudah siang," ujar Alisya lagi mengingatkan putranya.
"Mhm, iya, Bun. Aku udah bangun, kok," jawab Rayhan.
"Udah bangun, tapi matanya masih merem gitu," ujar Alisya kesal.
Dia menimpuk pelan sebuah bantal guling ke wajah putranya.
"Bunda," gerutu Rayhan.
__ADS_1
Rayhan pun membuka matanya, lalu dia bangkit mengambil posisi duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
"Apakah kamu lupa dengan janjimu sama bunda?" tanya Alisya mengingatkan rencana mereka hari ini.
"Astaghfirullah, aku lupa, Bun," lirih Rayhan setelah dia benar-benar sadar.
"Ya udah, ayo sana kamu siap-siap," perintah Alisya pada putranya.
"Siap, Bundaku sayang," ujar Rayhan.
"Ya udah, bunda tunggu kamu di bawah," ujar Alisya.
"Oke, Bunda," sahut Rayhan.
Setelah itu, Alisya pun keluar dari kamar putranya. Sepeninggal sang bunda Rayhan turun dari tempat tidur lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak sampai satu jam Rayhan pun kini sudah tampil rapi, dia akan menemani bundanya pergi ke salon lalu ke mall.
Setelah dia rapi, pria tampan itu kini melangkah keluar kamar lalu menuruni anak tangga.
"Ayo, Bun," ajak Rayhan setelah dia berada di lantai 1.
Alisya pun langsung berdiri, lalu mereka melangkah menuju mobil yang telah terparkir di depan rumah.
Rayhan melajukan mobilnya meninggalkan rumah. Awalnya mereka menuju salon, karena Alisya memang sudah lama tidak merawat dirinya karena sibuk dengan pekerjaannya.
Sedangkan Firman, suami Alisya kini masih berada di luar negeri mengurus perusahaan yang ada di sana.
Sesampai di salon, Alisya langsung masuk ke dalam ruang perawatan sedangkan Rayhan menunggu sang Bunda di ruang tunggu sambil memainkan ponselnya.
Rayhan menekan tombol panggil agar dapat berbicara dengan Viona.
Berkali-kali Rayhan menghubungi Viona, tapi tak satu pun panggilan dari Rayhan diangkat oleh Viona.
Rayhan merasa khawatir dengan sikap Viona yang tidak seperti biasanya.
"Apa yang terjadi pada Vio? Kenapa dia tidak mengangkat panggilan dariku?" gumam Rayhan bertanya-tanya di dalam hati.
Rayhan pun mengirimi Viona pesan, tapi masih sama Viona tak membalas pesan yang dikirim oleh Rayhan.
Akhirnya Rayhan pun mengalihkan perhatiannya dengan membuka media sosial yang dimilikinya sekadar menghibur kebosanannya.
Saat Rayhan sedang asyik berselancar di media sosial miliknya, terlihat panggilan dari Viona.
Rayhan pun langsung menekan tombol hijau.
"Halo," ujar Rayhan.
"Kak, hiks hiks." Viona langsung menangis setelah panggilan itu tersambung.
"Vio? Apa yang telah terjadi?" tanya Rayhan panik.
"Kak, ayah, hiks hiks.' Viona terus menangis tanpa bisa menyampaikan apa yang telah terjadi pada ayahnya.
"Vio, kamu tenang dulu, ya. Kamu tenang, jangan nangis dulu," ujar Rayhan berusaha menenangkan Viona melalu panggilan itu.
Viona menghela napas panjang, dia berusaha menenangkan diri.
__ADS_1
"Ayah, Kak. Ayah masuk rumah sakit, hiks." Akhirnya Viona pun dapat menyampaikan apa yang telah terjadi.
"Apa? Lalu kamu di mana sekarang?" tanya Rayhan ikut panik.
"Di rumah sakit Bhayangkara, Kak," jawab Viona.
"Ya udah, kamu tenang dulu, ya. Sebentar lagi aku datang," ujar Rayhan.
Rayhan tahu saat ini hanya dirinya yang menjadi tempat Viona mengadu selain ayahnya.
Saat Rayhan masih menelpon dengan Viona, Alisya pun keluar dari ruang perawatan. Dia baru saja menyelesaikan segala perawatan yang ada di salon itu.
"Ada apa, Ray?" tanya Alisya penasaran melihat wajah putranya yang terlihat panik.
"Ma, ayah Viona masuk rumah sakit," jawab Rayhan.
Alisya memang sudah tahu hubungan putranya itu dengan Viona karena Rayhan selalu menceritakan berbagai hal menyangkut Viona pada sang Bunda.
Alisya menyetujui hubungan putranya dengan Viona karena dia tidak ingin Rayhan tertekan dengan berbagai larangan darinya.
Kebebasan dalam memilih, itulah yang ditanamkan Alisya pada sang putra.
"Ma, kita ke rumah sakit dulu, ya. Aku kasihan sama Viona, pasti di rumah sakit dia seorang diri," ujar Rayhan membujuk bundanya agar mau menemaninya ke rumah sakit.
"Ya udah, ayo kita langsung ke rumah sakit, jalan-jalan ke mall-nya kita batalkan saja. kita bisa ke mall besok atau di waktu lain," ujar Alisya.
Alisya ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada Viona saat ini, sehingga dia mengabulkan permintaan sang putra, apalagi selama ini dia belum pernah bertemu dengan Viona.
Mereka pun bergegas menuju rumah sakit, selang beberapa menit mereka sampai di rumah sakit.
Rayhan langsung menghubungi Viona untuk menanyakan posisi Viona saat ini.
"Bagaimana keadaan ayah?" tanya Rayhan pada Viona saat Rayhan dan bundanya sampai di rumah sakit.
Tanpa memperhatikan keberadaan Alisya di samping Rayhan, Viona langsung memeluk tubuh kekar pria yang selama ini selalu berada di sampingnya.
"Kak, aku takut," isak Viona.
Rayhan membalas pelukan Viona, dia berusaha menenangkan Viona yang gini sangat mencemaskan keadaan ayahnya.
"Apa sebenarnya yang telah terjadi?" tanya Alisya penasaran.
Viona menoleh ke arah wanita yang berdiri di samping Rayhan.
"Vio, ini bunda," ujar Rayhan memperkenalkan bundanya pada Viona.
"Maaf, Tante," lirih Viona merasa malu memeluk Rayhan begitu saja.
"Ayah tiba-tiba pingsan." Viona menjawab pertanyaan Alisya.
"Di mana beliau sekarang?" tanya Alisya.
"Itu, Tante." Viona menunjuk ke arah ruangan yang di sana berbaring ayahnya yang kini diperiksa oleh dokter.
Alisya terdiam saat melihat ayah Viona. Dia terpaku.
Bersambung...
__ADS_1