Mencintai Putri Ayahku

Mencintai Putri Ayahku
Bab 24


__ADS_3

"Sayang, kalau boleh jujur. Kamu adalah cinta pertamaku," lirih Alisya mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya.


Firman menautkan kedua alisnya tak percaya.


"Benarkah?" tanya Firman tak percaya.


"Kamu adalah satu-satunya pria yang kusukai saat kuliah, tapi aku tak bisa menunggumu yang mana. saat itu ibuku sudah mendesakku untuk menikah," cerita Alisya mengenang masa lalunya.


Saat dia menunggu Firman mengungkapkan perasaannya, Yoga hadir mengajak dirinya menikah.


Tapi, sayang pernikahan itu hanya berlangsung selama 1 tahun.


Sementara itu Firman juga menikah dalam jangka beberapa bulan karena sang istri tidak tahan hidup susah bersama Firman yang waktu itu hanyalah karyawan biasa.


"Berarti Allah menjodohkan kita setelah kita berbagi dengan orang lain," ujar Firman.


"Iya," lirih Alisya.


"Saat ini, kita harus membantu Yoga yang dalam musibah, tapi kamu harus tetap menjaga jarak dengannya karena kamu hanya milikku seorang," ujar Firman.


Kali ini Firman. menunjukkan bahwa dirinya juga memiliki rasa cemburu saat melihat Alisya berada di dekat Yoga.


"Iya, Sayang. Kamu adalah satu-satunya pria yang aku cintai setelah rumah tanggaku hancur dengan mas Yoga," ujar Alisya meyakinkan sang suami bahwa dia sangat mencintai suaminya.


****


Di rumah sakit Viona dan Rayhan telah tertidur karena lelah, Viona tidur tepat di samping sang ayah, dia memeluk lengan sang ayah yang kini terlihat semakin kurus.


Sedangkan Rayhan sudah tidur di atas sofa, dia mulai tertidur setelah melihat Viona mulai memejamkan matanya.


Saat menjelang subuh, Viona merasakan tangan sang ayah bergerak, dia pun membuka matanya dan langsung menoleh ke arah sang ayah.


Viona melihat pria kekar yang selalu mengukir senyum di setiap waktu yang dilewati Viona kini membuka matanya.


"Ayah," lirih Viona.


Viona langsung berdiri lalu dia pun merangkul tubuh yang semakin kurus itu.


"Viona takut kehilangan ayah," bisik Viona senang melihat ayahnya sudah sadar.


Yoga hanya bisa tersenyum mendengar ucapan sang putri, saat ini kondisinya masih sangat lemah.


Perlahan dia mencoba mengangkat tangannya lalu membelai lembut kepala sang putri.


"Alhamdulillah, ayah sudah sadar. Semoga ayah cepat sembuh," lirih Viona.


"Ini semua berkat do'a kamu juga sayang." Terdengar suara Yoga lirih.

__ADS_1


Setelah itu vIona teringat pesan dokter, dokter memintanya memanggil dokter saat sang ayah telah sar.


Viona pun menekan tombol hijau yang ada di atas kepala tempat tidur sang ayah.


Tak berapa lama perawat dan dokter jaga masuk ke dalam ruangan itu.


Mereka langsung memeriksa kondisi pasien, mereka mencoba memastikan bahwa hasil operasi berjalan dengan baik.


"Alhamdulillah, pasien sudah melewati masa kritisnya," ujar sang dokter jaga.


"Alhamdulillah," lirih Viona.


Viona bersyukur bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh sang dokter.


Setelah itu dokter dan perawat pun ke luar dari ruang rawat itu.


Rayhan terbangun saat perawat dan dokter meninggalkan ruangan itu, dia langsung berdiri lalu menghampiri Viona.


"Ada apa, Vio?" tanya Rayhan.


"Alhamdulillah, ayah sudah sadar dan membaik, Kak," jawab Viona degan bahagia.


"Alhamdulillah." Rayhan ikut senang mendengar perkataan Viona.


Saat pagi tiba, Rayhan masih saja menemani Viona, sudah beberapa hari ini Rayhan meninggalkan pelajarannya di sekolah demi menemani Viona di rumah sakit.


"Kak," lirih Viona menghampiri Rayhan yang masih saja duduk di sofa.


Rayhan menoleh ke arah Viona.


"Ada apa, Vio?" tanya Rayhan.


"Sebaiknya kakak pulang, sudah beberapa hari ini kakak tidak masuk sekolah karena aku, aku takut kakak ketinggalan pelajaran," ujar Viona meminta Rayhan untuk masuk sekolah karena dia merasa tidak enak hati pada orang tua Rayhan.


Gara-gara dirinya, Rayhan tidak masuk sekolah, dia juga tidak ingin nanti orang tua Rayhan mengira bahwa dirinya membawa hal negatif pada diri putranya.


Rayhan menatap dalam Viona.


"Memangnya kamu merasa keberatan dnegan keberadaanku di sini?" tanya Rayhan.


"Bukan begitu, Kak. AKu hanya merasa tidak enak terlalu sering merepotkan dirimu," ujar Viona berharap Rayhan mengerti apa yang saat ini dirasakannya.


"Vio, bagaimana aku bisa sekolah dengan tenang jika pikiranku saat ini selalu tertuju padamu," ujar Rayhan pada Viona.


Viona tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa diam mendengar ucapan Rayhan.


Rayhan tersenyum melihat ekspresi wajah Viona.

__ADS_1


Rayhan pun mendekati Viona, lalu dia meraih tangan Viona lalu menggenggam erat tangan gadis yang dicintainya itu.


"Vio, aku melakukan ini karena aku mencintaimu," tutur Rayhan.


"Iya, Kak. AKu mengerti, tapi aku tidak mau nanti kedua orang tua kakak mengira bahwa aku pembawa hal negatif pada diri kakak," ujar Viona menyampaikan apa yang saat ini dirasakannya.


"Kamu tenang saja, mama dan papa pasti mengerti dengan keadaanmu saat ini, mereka tidak akan marah dnegan pilihanku," ujar Rayhan.


Rayhan berusaha menenangkan hati Viona yang risau.


Akhirnya Viona tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali membiarkan Rayhan tetap berada di sisinya menemani sang ayah yang dalam masa pemulihan.


Sementara itu Alisya dan Firman telah siap untuk berangkat ke rumah sakit, Firman akan mengantarkan sang istri terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor.


Alisya sengaja pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali untuk membawakan sarapan untuk Viona dan Rayhan agar Rayhan tidak perlu repot-repot mencari makanan di rumah sakit.


Mereka melangkah keluar rumah lalu masuk ke dalam mobil yang telah terparkir di depan rumah.


Saat ini Firman berusaha untuk berlapang dada membiarkan sang istri mengunjungi mantan suaminya, karena dia tahu bahwa mereka masih memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan, yaitu hubungan sebagai orang tua kandung bagi Rayhan.


Sesampai mereka di rumah sakit, Firman menghentikan mobilnya di depan lobi rumah sakit.


"Kamu yakin tidak ikut turun terlebih dahulu?" tanya Alisya pada Firman.


"Iya, Sayang. Aku langsung ke kantor saja karena masih banyak urusan yang harus aku selesaikan," jawab Firman.


"Kamu yakin membiarkan istrimu ini bertemu dengan mantan suaminya?" tanya Alisya sengaja menggoda sang suami.


Firman menatap dalam ke ara sang istri, lalu dia pun menangkupkan tangannya di wajah cantik sang istri, meskipun sudah mulai berumur.


"Aku yakin istriku akan menjaga hatinya untukku, dia tidak akan merusak kepercayaan yang aku berikan padanya," lirih Firman.


Lalu Firman pun mengecup lembut bibir sang istri memberi tanda bahwa sang istri hanyalah miliknya seorang.


"Ya sudah, nanti kamu pulang dengan apa?" tanya Firman.


"Aku bisa pulang pake taksi," jawab Alisya.


"Ya sudah, kamu hati-hati, ya," ujar Firman.


"Iya, Sayang. Kamu juga hati-hati, ya," sahut Alisya.


Alisya pun mengecup pipi sang suami, lalu dia pun turun dari mobil.


Alisya melangkah menuju ruang rawat Yoga.


Betapa kagetnya Alisya saat membuka pintu ruang rawat Yoga, dia melihat sang putra kini tengah menatap dalam ke arah Viona, putranya suha bersiap hendak mencium bibir gadis itu.

__ADS_1


"Rayhan!" teriak Alisya.


Bersambung...


__ADS_2