Mencintai Putri Ayahku

Mencintai Putri Ayahku
Bab 29


__ADS_3

Viona tidak dapat lagi menhan rasa penasarannya, dia ingin tahu apa sebenarnya yang membuat sang ayah kini menangis.


Selama ini Viona tidak pernah melihat air mata mengalir di pipi sang ayah meskipun sesulit apa pun rintangan hidup yang harus mereka jalani.


Yoga tak sanggup berkata-kata.


Dia hanya bisa memeluk tubuh sang putri dengan erat.


Viona semakin bingung dan penasaran apa yang sebenarnya telah terjadi.


Viona menoleh ke arah mang Ujang yang kini fokus melajukan mobil.


"Mang, apa sebenarnya yang membuat ayah menangis?" tanya Viona pada pria paruh baya itu.


Dia berharap pria yang kini melajukan mobil itu dapat menjawab pertanyaan.


"Maaf, Nona. Saya tidak bisa bicara apa-apa," jawab Mang Ujang masih menghargai Yoga yang berada di samping putrinya.


Viona tak tahu harus bagaimana lagi, akhirnya dia pun memilih untuk dia, berharap suatu hari nanti sang ayah akan bercerita padanya apa gerangan yang telah membuat sang ayah menangis.


Butuh waktu sekitar 30 menit, mereka pun sampai di rumah Yoga.


Mang Ujang menghentikan mobilnya tepat di depan rumah sederhana milik Yoga.


Yoga menghentikan isak dan tangisnya. Dia menghapus wajahnya yang basah karena air mata.


"Mang, mampir dulu ya di rumah sederhanaku," ujar Yoga dnegan suar serak karena dia baru saja menangis.


Yoga meminta mang Ujang untuk masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.


"Maaf, Tuan. Saya harus pulang," ujar Mang Ujang menolak tawaran Yoga.


Mang Ujang takut nanti Alisya dan Firman membutuhkannya di rumah.


"Mang, aku mohon mampirlah sejenak," pinta Yoga pada mang Ujang.


"Tapi, Tuan,-" Mang Ujang tak dapat menyambung ucapannya.


"Aku mohon," lirih Yoga penuh harap.


Mang Ujang terlihat berpikir sejenak. Akhirnya mang Ujang pun turun dari mobil lalu ikut masuk ke dalam rumah sederhana yang ditempati Yoga dan putrinya.


Mang Ujang merasa miris dengan nasib yang harus dijalani majikannya dulu.


"Mungkin inilah karma yang harus dijalani Tuan Yoga akibat dari perbuatannya yang telah mengkhianati cinta Nyonya Alisya," gumam Mang Ujang di dalam hati saat berada di dalam rumah Yoga.


Mang Ujang ikut prihatin dengan keadaan Yoga saat ini.


"Silakan duduk, Mang," ujar Yoga mempersilakan Mang Ujang duduk di kursi rotan yang ada di rung tamu.

__ADS_1


"Vio," panggil Yoga setelah mereka berdua duduk di kursi ruang tamu.


"Iya, Yah." Viona yang tadinya ingin masuk ke dalam kamar kembali keluar kamar.


"Tolong belikan teh dan kopi di warung," pinta Yoga pada putrinya.


"Baik, Yah." Viona pun melangkah keluar dari rumah menuju warung yang ada di ujung gang.


Yoga sengaja menyuruh putrinya ke warung agar dia dapat berbicara dengan Mang Ujang secara pribadi.


Yoga tidak mau Viona tahu bagaimana sifat buruknya dulu di masa lalu.


Kebetulan jarak rumah Viona dan warung lumayan jauh sehingga dia dapat bicara dengan Mang Ujang lebih lama lagi.


"Mang," lirih Yoga saat dia tak lagi mendengar suara langkah Viona di luar rumah.


Mang Ujang menoleh ke arah Yoga.


"Iya, Tuan," sahut Mang Ujang.


Mang Ujang kini menatap wajah pria yang dulu tampan dan gagah saat menjadi majikannya.


"Mhm, bagaimana keadaan keluarga besar Herlambang?" tanya Yoga memberanikan diri untuk bertanya mengenai keluarga besarnya yang telah hilang dari hidupnya puluhan tahun yang lalu.


Dia sudah tak sabar ingin mengetahui bagaimana kabar keluarganya yang ditinggalkannya begitu saja.


AKhrnya Mang Ujang pun mulai menceritakan apa yang telah terjadi setelah Yoga pergi meninggalkan keluarganya.


Satu tahun setelah Nyonya Alisya menikah dengan Tuan Firman.


Semua anggota keluarga besar Herlambang pindah ke luar negeri, Tuan besar Herlambang menjual semua aset yang ada di Jakarta.


Tuan Besar Herlambang sengaja melakukan itu karena dia sering melihat Alisya sesekali menangis mengingat sosok Yoga karena di dalam rumah itu masih banyak kenangan yang membuat Alisya tak sepenuhnya bisa hidup bahagia meskipun telah menikah dengan Firman.


Keputusan itu adalah keputusan yang terbaik dilakukan oleh tuan Herlambang sehingga Alisya dan Firman mulai menjalani hidup bahagia tanpa adanya kenangan luka tentang Yoga.


Dua tahun mereka menetap di luar negeri, mereka semua bahagia, meskipun sesekali mereka mengingat sosok Yoga yang lebih memilih selingkuhannya dari pada keluarga besar.


Rasa kecewa dan luka itu mereka simpan rapat di dalam hati mereka masing-masing.


Kehidupan yang bahagia itu berjalan selama 4 tahun.


Saat umur Rayhan menginjak tahun keenam, keluarga besar Herlambang mengadakan perjalanan menuju Jakarta untuk berlibur.


Nasib naas menimpa semua keluarga, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan, kebetulan Alisya dan Firman berbeda pesawat dnegan keluarga lainnya sehingga mereka selamat.


Semua keluarga Herlambang meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat itu, tak seorang pun yang tersisa.


Akhirnya Alisya dan Firman memutuskan hidup di luar negeri dan tetap melanjutkan perusahaan milik keluarga Herlambang demi pewaris tunggal harta Herlambang yaitu Rayhan.

__ADS_1


Saat Rayhan berumur 15 tahun Alisya dan Firman pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta dengan tetap melanjutkan perusahaan yang ada di luar negeri kebetulan di Jakarta mereka kembali merintis perusahaan baru yang mereka siapkan untuk Rayhan nanti.


"Begitulah ceritanya, Tuan," ujar Mang Ujang mengakhiri kisah masa lalu yang menyakitkan,


Jantung Yoga seakan berhenti berdetak mendengar cerita dari Mang Ujang.


Dia masih tak percaya semua keluarganya meninggalkannya tanpa diketahuinya sama sekali.


Dia terdiam lama, hingga akhirnya Viona datang.


"Yah, ini kopi dan tehnya," ujar Viona.


"Eh, iya. Tolong bikinkan teh untuk Mang Ujang, ya," pinta Yoga.


Yoga tersadar dari lamunan dan duka mendalam yang saat ini dirasakannya.


Viona mengangguk lalu ia melangkah menuju dapur untuk membuatkan teh yang diminta sang ayah.


"Papa dan mama juga ikut meninggalkanku?" lirih Yoga.


Saat ini Yoga merasa terpojok dnegan perbuatan yang telah dilakukannya.


"Apakah ini karma yang harus aku terima, Mang?" tanya Yoga lirih.


Penyesalan semakin saja membuat Yoga tak dapat menahan air matanya.


Lagi-lagi Yoga menangis, dia terisak sejadi-jadinya.


Duka yang saat ini dirasakannya lebih sakit disaat dia ditinggalkan Tania, ibu Viona.


Berita yang diceritakan Mang Ujang membuat dirinya kehilangan semua kelurganya pada waktu yang sama.


Awalnya Yoga berniat untuk datang ke rumah keluarga besar Herlambang untuk menemui semua kelurganya dan memohon maaf dan ampun atas kesalahan yang telah dilakukannya.


Namun, semua harapannya itu sirna begitu saja. Yoga tak lagi memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Kakek dan neneknya serta Mama dan papanya.


Dada Yoga terasa semakin sesak, berita duka ini begitu menyesakkan dadanya.


"Hiks." Yoga kembali menangis.


Kali ini tangisnya terasa sangat memilukan.


Viona yang berada di dapur mendengar tangisan itu, membuat dia langsung berlari keluar.


"Ayah, hiks." Viona pun ikut menangis meskipun dia tidak tahu apa yang menyebabkan sang ayah menangis.


"Ayah kenapa, Mang?" tanya Viona di sela-sela tangisannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2