Mencintai Putri Ayahku

Mencintai Putri Ayahku
Bab 23


__ADS_3

"Maaf, Nona. Operasi masih berlanjut, saya keluar untuk mengambil obat yang diperlukan," jawab si perawat tidak bisa memberi penjelasan.


"Tapi kenapa operasinya begitu lama, Suster?" isak Viona.


"Dokter sedang melakukan yang terbaik untuk pasien, Kak. Yang penting kakak saat ini berdo'a saja yang terbaik buat pasien," ujar perawat itu pada Viona.


"Iya, Vio. Kamu harus banyak berdo'a, jangan pikirkan hal yang aneh-aneh," nasehat Rayhan.


Akhirnya Viona pun menghapus air matanya.


Rayhan kembali mengajaknya duduk di kursi tunggu yang telah tersedia.


Beberapa menit setelah itu, Alisya dan Firman sampai di rumah sakit.


"Ray," panggil Alisya.


Rayhan menoleh ke arah asal suara yang menyebut namanya.


"Bunda," lirih Rayhan.


"Ayah," lirih Rayhan lagi.


Rayhan merasa terharu melihat kedua orang tuanya berada di rumah sakit untuk menjenguk ayah Viona.


Dari sikap kedua orang tuanya itu, Rayhan yakin bahwa kedua orang tuanya setuju dengan hubungannya dan Viona.


"Bagaimana keadaan ayah Vio?" tanya Alisya pada Rayhan.


"Saat ini operasinya masih berlangsung, Bun," jawab Rayhan.


"Oh, begitu." Alisya pun duduk di samping Viona.


DIa merangkul tubuh kecil gadis itu.


"Kamu yang sabar ya, Nak. Kita harus berdo'a agar Allah berikan yang terbaik untuk ayah kamu," ujar Alisya menghibur Viona.


Alisya dapat melihat dengan jelas wajah sembab Viona menunjukkan bahwa gadis itu tak berhenti menangis sejak tadi.


"Iya, Bun," lirih Viona.


Viona pun kini merebahkan kepalanya di dalam pelukan Alisya, wanita paruh baya itu pun memeluk erat tubuh putri dari sahabatnya itu.


Alisya memberikan kasih sayang seorang ibu pada Viona yang tidak dapat merasakan kasih sayang itu karena sang ibu telah pergi untuk selamanya.


Sesaat Viona merasakan kehangatan cinta seorang ibu, hatinya merasa tentram dan nyaman berada di dalam pelukan wanita yang seumuran dengan ibunya itu.


Alisya masih dapat mengingat perbuatan yang dilakukan ibu Viona terhadap dirinya, tapi dia tidak ingin melampiaskan rasa sakitnya pada gadis tak berdosa yang kini berada di dalam pelukannya.


Saat ini, Alisya hanya bisa menahan air matanya yang telah menggenang di pelupuk matanya.

__ADS_1


Tak berapa lama Viona berada di dalam pelukan Alisya, dokter pun keluar dari ruang operasi.


Tampak dokter itu tengah membuka masker dan kaca matanya.


Mereka semua berdiri, lalu melangkah menghampiri sang dokter.


"Bagaimana keadaan pasien, Dok?" tanya Aliya yang terlihat juga mencemaskan keadaan Yoga.


Firman melihat ekspresi wajah sang istri, dia berusaha bersabar dan memaklumi hal itu, meskipun di hatinya terbesit sedikit rasa cemburu.


Walaupun mereka sudah bertahun-tahun membina rumah tangga, tapi Firman tahu Yoga merupakan masa lalu istrinya.


Dokter menghela napas sejenak.


"Alhamdulillah, operasi telah berjalan dengan lancar. Saat ini kita menunggu respon dari tubuh pasien, semoga pasien lekas sadar dan sembuh total," jawa sang dokter.


"Alhamdulillah." Semua orang menghela napas lega.


"Perawat akan memindahkan pasien ke ruang rawat, keluarga pasien bisa bertemu dengn pasien setelah itu," ujar Dokter lagi pada mereka.


"Baiklah, Dok. Terima kasih," ucap Alisya.


Viona senang mendengar jawaban dari dokter.


Sang dokter pun berpamitan untuk kembali ke ruangannya pada mereka.


Tak berapa lama setelah itu, terlihat 2 orang perawat membawa tubuh Yoga yang ada di atas brangkar rumah sakit menuju ruang rawat.


Viona masih duduk di samping tempat tidur sang ayah, dia terus memeluk tangan ayahnya yang lemah.


Kali ini Viona tak banyak bicara, dia hanya menatap dalam wajah ayahnya yang terlihat pucat, dia menanti mata yang terpejam itu terbuka lalu memberikannya sebuah senyuman.


Rayhan menemani bunda dan ayahnya duduk di sofa yang tersedia di ruang rawat itu.


Alisya sengaja meminta pihak rumah sakit memberikan fasilitas terbaik untuk Yoga agar Rayhan juga nyaman menemani Viona di rumah sakit itu.


Satu hari telah berlalu tapi Yoga masih saja belum sadarkan diri.


Firman dan Alisya juga sudah berpamitan dnegan Viona, mereka tidak bisa lebih lama lagi berada di rumah sakit itu.


Kedatangan kedua orang tua Rayhan membuat Viona merasa sedikit terhibur, dari sikap keduanya Viona dapat menyimpulkan bahwa kedua orang tua Rayhan merestui hubungan mereka.


Malam pun sudah berlalu, Viona masih belum beranjak dari kursi yang ada di samping tempat tidur sang ayah.


"Vio," panggil Rayhan yang masih setia mendampingi Viona di rumah sakit.


Viona menoleh ke arah Rayhan.


"Kamu istirahat dulu di sofa itu, biar aku yang menemani ayah kamu," ujar Rayhan.

__ADS_1


Dia merasa kasihan dengan Viona yang sejak tadi hanya duduk di kursi tersebut.


"Tidak, Kak. Biar aku yang menemani ayah hingga beliau sadarkan diri," ujar Viona masih enggan menjauh dari samping sang ayah.


"Tapi, Vio. Kamu pasti sangat lelah," ujar Rayhan terus membujuk Viona.


"Kak, kakak istirahat saja dulu di sofa itu, aku akan mendampingi ayah di sini, aku akan tidur di samping ayah," ujar Viona tetap teguh dengan pendiriannya.


Berkali-kali Rayhan mencoba membujuk Viona, tapi tetap saja Viona tidak mau beranjak sedikit pun dari posisinya.


Akhirnya Rayhan pun tidak bisa lagi memaksa wanita yang dicintainya itu, Rayhan berpindah ke sofa setelah memastikan Viona kini terlelap di samping tempat tidur ayahnya.


****


Sementara di rumah Alisya lebih sering murung, hal ini dapat dirasakan secara langsung oleh Firman, ada suatu hal yang berbeda pada diri sang istri.


Firman menghampiri istrinya yang kini terlihat tengah menonton TV tapi pikirannya melayang entah ke mana.


Firman duduk di samping sang istri, dia melingkarkan tangannya di pinggang ramping istri tercinta.


"Sayang," lirih Firman menyapa sang istri.


Alisya masih bergeming, dia sama sekali tidak menghiraukan panggilan suami, bahkan dia masih belum sadar bahwa saat ini sang suami sudah duduk tepat di sampingnya.


"Sayang." Firman mengulangi panggilannya.


Firman mengguncang sedikit tubuh sang istri hingga istrinya pun tersentak.


"Eh," lirih Alisya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Firman penasaran apa yang kini tengah mengganggu pikiran sang istri.


"Mhm, enggak ada, Sayang," jawab Alisya berbohong.


Firman pin menatap dalam sang istri, dia menyorot bola mata sang istri.


"Sayang, aku sangat mengenali dirimu," lirih Firman.


"Kamu tidak bisa membohongiku," ujar Firman lagi.


Alisya menundukkan kepalanya.


"Sayang, maafkan aku yang kini tengah memikirkan keadaan Yoa," tutur Alisya jujur.


Dia tak lagi bisa menyembunyikan beban pikirannya.


"Meskipun dia adalah masa laluku, tapi aku merasa kasihan dengan jalan hidup yang telah dipilihnya," ujar Alisya.


"Wajar kamu merasa kasihan terhadap dia, apalagi saat ini Yoga tengah menghadapi maslaah yang serius, aku tidak akan mempermasalahkannya selagi hati kamu masih tetap tertuju padaku," ujar Firman berlapang dada.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2