Mencintai Putri Ayahku

Mencintai Putri Ayahku
Bab 22


__ADS_3

Alisya masih belum menjawab pertanyaan dari sang suami.


Dia masih menangis meluapkan segala rasa sesak yang ada di dalam hatinya.


Firman hanya bisa mendekap erat sang istri memberi kenyamanan untuk sang istri.


Setelah beberapa menit Alisya menangis di dalam pelukan sang suami, dia pun mengusap air matanya yang membasahi pipinya.


Dia mulai menenangkan hatinya yang tadi sempat terguncang.


"Ada apa, Sayang?" tanya Firman mengulangi pertanyaannya.


Alisa pun melangkah menuju kursi santai yang tersedia di balkon kamarnya.


Firman mengikuti langkah Alisya, lalu dia ikut duduk di samping sang istri.


Alisya merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami, meskipun mereka sudah berumur, mereka masih tetap mesra.


"Tadi aku bertemu dengan mas Yoga," lirih Alisya memberitahukan apa yang telah terjadi hari ini pada sang suami.


"Lalu?" tanya Firman.


"Saat ini dia tengah mengidap penyakit berat," ujar Alisya lagi.


"Penyakit apa?" tanya Firman perlahan.


Firman berusaha bersikap santai, meskipun ada rasa sedikit cemburu mendengarkan cerita sang istri.


"Dia kini tengah mengidap penyakit kanker paru-paru," cerita ALisya.


Firman terus berusaha menjadi pendengar yang baik bagi istrinya.


Alisya pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi hari ini pada suaminya, dia juga menceritakan rasa sakit yang mendalam saat Yoga sama sekali tidak menanyakan keberadaan darah daging yang telah ditinggalkannya.


"Sabarlah, Sayang. Mungkin karena dia masih dalam keadaan sakit, sehingga dia tidak sempat mempertanyakan darah dagingnya." Firman berusaha menenangkan sang istri.


Dia juga meminta Alisya untuk tetap berpikir positif, tidak boleh berpendapat negatif yang membuat hati kembali terluka.


"Entahlah, Mas. Aku takut Rayhan merasa kecewa jika tahu bahwa kamu bukanlah ayah biologisnya," ujar Alisya khawatir.


Firman menatap dalam wajah istrinya yang masih sembab.


Dia pun mengecup lembut puncak kepala sang istri.


"Sayang, mau tak mau, cepat atau lambat Rayhan akan tahu siapa ayah kandungnya," lirih Firman berusaha berbesar hati.


Walau bagaimana pun dia harus sadar bahwa anak yang selama ini dibesarkannya dengan penuh kasih sayang bukanlah darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


"Tapi, aku takut kasih sayang Rayhan padamu,--"


"Ssstt." Firman menutup mulut Alisya dengan jari telunjuknya sambil menggelengkan kepalanya.


"Kita tidak boleh mengukuri hati anak kita sendiri, Rayhan itu sudah besar, dia tahu dan pasti dapat merasakan kasih sayangku padanya," ujar Firman mengingatkan sang istri.


Alisya pun mengangguk paham apa yang dikatakan oleh sang suami.


"Ya sudah, udah malam, ayo kita tidur. Besok aku akan ikut menjenguk Yoga di rumah sakit," ujar Firman.


Alisya mengangguk, mereka pun berdiri lalu melangkah menuju kamar, mereka pun berbaring di atas tempat tidur lalu mulai memejamkan matanya.


****


Hari ini Yoga akan menjalani operasi sebagaimana yang telah direncanakan oleh dokter.


Viona dan Rayhan masih berada di rumah sakit untuk mendampingi Yoga.


Hari ini Rayhan terpaksa tidak masuk sekolah, demi menemani Viona di rumah sakit.


Rayhan tidak ingin Viona larut dalam kesediaan dan keputus-asaan.


"Ayah sudah siap untuk operasi?" tanya Viona sebelum dokter membawa Yoga keluar dari ruang rawat menuju ruang operasi.


Yoga hanya menganggukkan kepalanya, saat ini dia benar-benar merasa takut, takut operasi yang akan dijalaninya tidak berhasil sehingga dia meninggalkan putrinya.


Yoga khawatir hidupnya akan berakhir di meja operasi, hanya satu yang menjadi beban dalam pikirannya yaitu hidup Viona tanpa dirinya.


Gadis itu menggenggam erat tangan pria yang selalu membimbing langkahnya sejak dia masih bayi hingga sekarang.


Yoga menatap sendu ke arah gadis cantik yang sangat disayanginya.


"Ayah harus kuat, ayah haus berjuang demi aku," lirih Viona.


Viona pun kini menangis, dia telah membayangkan berbagai hal-hal buruk yang akan terjadi pada ayahnya saat operasi berlangsung.


Yoga mengangkat tangannya lalu dia pun membelai lembut kepala putrinya.


"Iya, Nak. Ayah akan berjuang demi kamu, tujuan hidup ayah saat ini hanya kamu. Kamu adalah satu-satunya alasan ayah masih bertahan hingga saat ini," ujar Yoga.


Tak berapa lama 2 orang perawat masuk ke dalam ruang rawat Yoga.


"Permisi," sapa si perawat pada Viona sambil tersenyum.


"Iya, Sus," lirih Viona.


"Kami akan memindahkan pasien ke ruang operasi, apakah pak Yoga sudah siap untuk menjalani operasi?" tanya si perawat pada Yoga.

__ADS_1


Yoga mengangguk.


Setelah itu perawat pun memindahkan Yoga ke brangkar yang mereka bawa, lalu mereka membawa Yoga menuju ruang operasi.


Viona dan Rayhan mengikuti langkah perawat yang membawa Yoga itu.


Langkah Viona terhenti saat brangkar yang dibawa perawat itu masuk ke dalam ruang operasi, perawat pun langsung menutup pintu ruang operasi saat mereka telah berada di ruangan tersebut.


Viona terpaku di tempatnya, Rayhan pun langsung merangkul tubuh Viona lalu membawa gadis itu duduk di kursi yang tersedia di sana.


"Kak Ray, aku selalu menyusahkan dirimu," lirih Viona pada Rayhan saat mereka sedang duduk di kursi tunggu.


Rayhan menatap dalam ke arah Viona.


"Vio, kamu tidak boleh berkata seperti itu karena bagiku kamu adalah belahan jiwaku, aku tidak an pernah membiarkanmu bersedih," ujar Rayhan mengucapkan janji bahwa dia akan selalu ada di sisi Viona dalam keadaan apa pun.


"Kak," lirih Viona lagi.


"Mhm," gumam Rayhan.


"Aku takut tidak bisa membalas semua kebaikan yang udah kakak berikan padaku," lirih Viona lagi.


Gadis itu sangat sadar diri bahwa Rayhan selalu saja melakukan berbagai hal untuk dirinya dan ayahnya.


"Vio, kamu tidak boleh bicara seperti itu, aku melakukan hal ini karena aku tulus mencintaimu," tutur Rayhan jujur.


Viona langsung memeluk erat tubuh kekar Rayhan, dia bersyukur bisa mengenali pria baik seperti Rayhan.


Rasa yang ada di dalam hatinya juga sama dengan apa yang dirasakan oleh Rayhan. Cinta yang tumbuh di hati Viona untuk Rayhan tulus, bukan karena harta yang dimiliki oleh Rayhan.


Mereka pun saling berpelukan, menyalurkan rasa yang saat ini mereka rasakan di dalam hati mereka.


Satu jam telah berlalu, operasi masih saja berjalan. Rasa khawatir kini mulai menyelimuti hati Viona.


"Kenapa operasinya lama sekali, Kak?" tanya Viona mulai risau.


"Mungkin tim medis saat ini tengah berusaha melakukan yang terbaik untuk Ayah kamu," ujar Rayhan terus berusaha menenangkan hati Viona.


"Aku takut, Kak." Viona ulai terisak.


Buliran bening kini mulai membasahi pipinya. Dia tidak bisa menghilangkan rasa khawatir yang menyelimuti hatinya.


"Kamu tidak boleh berkata seperti itu, kita harus tetap berdo'a untuk ayahmu," ujar Rayhan lagi menasehati Viona.


Setelah lebih satu jam berlalu seorang perawat keluar dari ruang operasi.


Viona langsung berdiri menghampiri perawat.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan ayah saya, Sus?" tanya Viona.


Bersambung...


__ADS_2