Mencintai Putri Ayahku

Mencintai Putri Ayahku
Bab 20


__ADS_3

Viona langsung menangis tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh dokter.


“Lalu apa solusi yang harus kita tempuh, Dok?” tanya Rayhan.


“Kita harus melakukan operasi, tapi operasi itu pun belum bisa menjamin pasien akan sembuh total, karena operasai hanya sebagai jalan usaha bagi kita,” ujar Dokter menjelaskan.


“Lakukan yang terbaik untuk pasien, Dok,” ujar Rayhan memohon.


Viona menggelengkan kepalanya, dia tidak mungkin bisa membayar biaya operasi itu.


“Kak,” lirih Viona.


“Kau tenang saja, tidak usah banyak pikiran.” Rayhan memeluk Viona.


Rayhan dapat merasakan kecemasan yang saat ini dirasakan oleh Viona. Dia pun berjanji akan membantu segala biaya yang dibutuhkan Viona untuk pengobatan ayahnya.


“Kalau memang akan dioperasi, kami minta pihak keluarga menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu,” ujar Dokter.


“Baik, Dok.” Rayhan mengangguk.


Rayhan pun membawa Viona keluar dari ruangan itu, dia melangkah menuju tempat bundanya yang kini menunggu mereka.


“Bagaimana keadaan ayah Viona, Ray?” tanya Alisya saat dia melihat Rayhan dan Viona melangkah menghampirinya.


“Ayah Viona mengidap penyakit kangker paru paru, Bun,” jawab Rayhan.


Alisya merasa kasihan dengan apa yang menimpa Viona saat ini, dia pun memeluk tubuh gadis malang itu. Walaupun Alisya masih mengingat rasa sakit yang ditorehkan ayah Viona padanya, tapi dia tidak bisa membiarkan Viona bersedih tanpa adanya pundak yang menopang berat ujian hidup yang kini dijalaninya.


“Kamu sabar ya, Nak,” bisik Alisya sembari membelai lembut punggung Viona.


Seketika Alisya teringat dengan sahabatnya, Tania. Alisya pun mengajak Viona untuk duduk di kursi agar Viona dapat merasa lebih tenang.


“Lalu apa lagi yang dikatakan dokter, Ray?” tanya Alisya lagi.


“Ayah Viona harus dioperasi secepatnya, tapi itu belum tentu bisa menyembuhkan penyakitnya,” jawab Rayhan lagi.


“Kalau begitu, kamu urus sekarang juga prosedur operasi ayah Viona. Berapa pun biaya yang dibutuhkan biar bunda yang nanggung,” ujar Alisya.


Awalnya Rayhan berencana untuk menggunakan tabungannya untuk biaya operasi ayah Viona, tapi tawaran sang bunda pun diterimanya.


Rayhan bahagia dengan apa yang dilakukan sang bunda tehadap Viona dan keluarganya, Rayhan merasa sang bunda setuju dengan hubungannya dan Viona sehingga dia rela melakukan apa saja agar Viona dapat menyelesaikan masalah yang tengah dihadapinya.

__ADS_1


“Baik, Bun,” sahut Rayhan.


“Vio, kamu sama bunda dulu di sini, aku ke bagian administrasi dulu,” ujar Rayhan pada Viona.


“Bun, aku titip Vio, Ya,” ujar Rayhan pada sang Bunda.


Alisya menganggukkan kepalanya, setelah itu Rayhan pun melangkah menuju bagian administrasi. Dia mulai mengurusi prosedur operasi ayah Viona.


“Vio, kamu harus kuat ya, Nak. Inilah yang namanya hidup, selalu ada ujian dalam hidup kita,” ujar Alisya menasehati Viona.


“Iya, Bun. Terima kasih, Bunda,” ucap Viona.


“Bun, maafkan aku yang sudah merepotkan Bunda dan Kak Rayhan,” ujar Viona lagi.


Alisya menatap dalam pada Viona, perlahan dia mencermati paras cantik Viona, sekilas dia melihat beberapa kemiripan dengan Tania, sahabatnya.


Alisya pun membelai rambut Viona, dia merapikan rambut Viona yang berantakan, Alisya juga menyelipkan rambut Viona ke belakang telinga gadis kecil itu.


“Sayang, kamu tidak merepotkan kami. Sesama insan kita harus saling membantu, apalagi kamu dan Rayhan sudah sangat dekat,” ujar Alisya.


“Tapi, Bun. Bagaimana aku bisa mengganti uang bunda nantinya?” lirih Viona merasa bingung.


“Iya, Bun,” lirih Viona.


“Oh iya, Vio.” Alisya ingin menanyakan sesuatu pada Viona.


“Iya, Bun,” sahut Viona.


“Kalau bunda boleh tahu, ibu kamu di mana?” tanya Alisya tak sanggup menahan rasa penasaran yang ada di hatinya.


“Ibu?” lirih Viona.


“Iya, di mana ibumu sekarang?” tanya Alisya lagi.


“Mhm, Ibu sudah di syurga, Bun. Beliau meninggalkan aku dan ayah saat aku masih berumur 5 tahun,” cerita Viona sendu.


Kini matanya mulai berkacakaca mengingat ibunya yang telah 12 tahun meninggalkannya.


“Apa?” lirih Alisya tak percaya.


“Iya, Bun. Ibu meninggal karena mengidap kangker darah stadium 3. Kehidupan kai yang sangat paspasan membuat ayah tidak bisa membiayai pengobatan ibu, hingga akhirnya ibu pun pergi meninggalkan kami,” cerita Viona lagi.

__ADS_1


“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” lirih Alisya tak percaya.


Tanpa disadarinya Alisya kini mulai menjatuhkan buliran bening di pipinya. Dia merasa sedih atas berita meninggalnya sahabatnya. Dia merasa bersalah karena di saat itu Yoga harus hidup sulit karena semua kekayaan keluarga Herlambang jatuh ke tangannya.


Hatinya begitu bersedih saat mengetahui bahwa sahabatnya sudah meninggal dunia.


“Bun, aku takut kehilangan ayah. Jika, ayah pergi, maka aku akan tinggal sebatang kara,” isak Viona pun pecah.


Dia membayangkan operasi sang ayah tidak berhasil dan ayahnya ikut menyusul wanita yang telah melahirkannya.


Alisya kembali memeluk tubuh Viona, dia membiarkan Viona menangis di dalam pelukannya, Alisya memberi kasih sayang eorang ibu pada putri dari sahabatnya dan mantan suaminya.


“Kamu harus kuat, Vio. Kita akan tetap berdo’a agar operasi yang akan dijalani oleh ayahmu berhasil dan kalian bisa kembali menjalankan hidup seperti biasa,” ujar Alisya menenangkan hati Viona yang sangat risau.


Viona masih saja menangis di dalam pelukan Alisya, dia pun mengusap air matanya setelah puasmeluapkan rasa sedih yang ada di hatinya.


“Kau tidak boleh terus terusan menangis, kalau begitu bagaimana kalau kita shalat dzuhur dulu,” ajak Alisya.


Kebetulan waktu dzuhur sudah masuk, dan menurut Alisya, satu satunya yang bisa menenangkan hati insan yang risau adalah Allah.


“Iya, Bun.” Viona mengangguk.


Mereka pun berdiri lalu melangkah menuju mushala yang ada di rumah sakit itu. Viona masuk ke dalam toilet, dia pun membasuh mukanya. Dia mulai berwudhu’ lalu bersiap siap untuk melaksanakan ibadah shalat dzuhur.


Usai berwudhu’ Viona langsung melaksanakan shalat dzuhur, dia tidak lupa melaksanakan shalat qobilyah dan ba’diyah seperti yang biasa dilakukannya.


Usai shalat, Viona berdo’a pada Tuhan agar memberi umur panjang pada ayahnya, serta berharap Allah mengabulkan permohonannya.


Setelah selesai shalat, Alisya mengajak Viona untuk melihat keadaan Ayahnya. Kini mereka berdua pun melangkah menuju tempat sang ayah masih terbaring lemas di tempat tidur rumah sakit.


Alisya dan Vion akini telah berada di ruangan tempat ayah Viona dirawat. Alisya berdiri dibelakang Viona yang duduk dikursi di samping tempat tidur ayah Viona.


Alisya menatap sedih pada pria yang dulu pernah menjadi orang yang paling disayang dan dicintainya. Wajah dulu yang tampan kini telah berubah renta. Pahitnya kehidupan membuatnya jauh lebih tua dari umurnya saat ini.


Viona menggenggam erat tangan sang ayah, dia berharap pria yang kini berbaring di hadapannya mau membukakan matanya. Tak berapa lama ayah Viona pun membuka matanya, dia melihat wajah putrinya yang sembab karena menangis.


Ayah Viona juga dapat melihat wanita yang berdiri di belakang Viona.


“Alisya,” lirih Yoga tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2