
Mata Viona tertuju pada suara pria yang tiba-tiba datang.
Nara menghentikan perbuatannya, dia terdiam saat melihat Rayhan yang kini menghampiri Viona.
Rayhan meraih tangan Viona, lalu menarik Viona menjauh dari tempat itu.
Saat mereka berada di lorong sekolah yang sepi, Viona menghentikan langkahnya sehingga Rayhan ikut menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Rayhan.
Viona hanya diam, dia menatap dalam ke arah Rayhan, saat ini Viona mencari cinta yang selama ini ada terpancar untuk dirinya dari sorotan mata Rayhan.
Rayhan terdiam melihat mata Viona yang kini mulai berkaca-kaca.
Ingin rasanya Viona mempertanyakan alasan Rayhan yang terus menjauhi dirinya, tapi lidahnya terasa kaku sehingga tak sanggup berkata apa-apa.
Rayhan tak sanggup melihat mata Viona yang kini telah menjatuhkan air mata.
Dia pun langsung memeluk erat tubuh Viona.
"Maaf," lirih Rayhan hanya kata itu yang dapat diucapkannya.
Viona yang sangat merindukan Rayhan kini memeluk pria yang dicintainya itu dengan erat, dia meluapkan rasa rindu itu, begitu juga dengan Rayhan, dia memeluk erat tubuh wanita yang sangat dicintainya.
Keduanya larut dalam rasa rindu yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Beberapa menit mereka berpelukan, Rayhan melepaskan pelukan itu.
Dia mengusap air mata Viona yang terus mengucur deras di pipinya.
"Sudahlah, jangan menangis lagi," ujar Rayhan.
Viona pun mengusap pipinya yang tak kunjung kering karena air matanya tak dapat dihentikannya.
Saat ini dia meluapkan rasa sesak yang dirasakannya beberapa hari terakhir karena Rayhan menjauhi dirinya.
Rayhan mengerti perasaan Viona saat ini, karena dia juga merasakan hal yang sama beberapa terakhir ini.
"Sudahlah, aku tidak sanggup melihatmu terus menangis," ujar Rayhan.
Rayhan pun mengajak Viona untuk duduk di sebuah bangku panjang yang ada di pinggir lapangan basket.
Dia menunggu Viona tenang.
"Aku terpaksa melakukan ini,"lirih Rayhan mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
__ADS_1
"Aku tahu, mana mungkin kedua orang tuamu akan membiarkanmu berhubungan denganku, aku hanyalah seorang putri dari kuli bangunan," lirih Viona.
"Tidak, Vio. Bunda tidak seperti itu, Bunda memilik alasan sendiri melarang hubungan kita, tapi aku sendiri belum mendapatkan jawaban dari alasannya yang melarang kedekatan kita," cerita Rayhan pada Viona.
"Lalu apa?" lirih Viona.
Viona ingin sebuah kejelasan dari Rayhan.
"Aku akan mencari tahu alasan bunda menentang hubungan kita, tapi aku harap kamu harus kuat dalam menghadapi masalah kita ini," ujar Rayhan.
Rayhan berharap Viona dapat menahan diri untuk sementara waktu berjauhan dengan dirinya.
"Sampai kapan pun, kamu akan selalu ada di hatiku, aku akan memperjuangkan hubungan kita," ujar Rayhan berjanji pada Viona.
Viona menatap dalam pada Rayhan, dia berusaha mempercayai ucapan Rayhan.
Akhirnya Viona pun menganggukkan kepalanya, dia mencoba memahami posisi Rayhan saat ini.
"Baiklah, aku percaya denganmu, Kak," lirih Viona pada Rayhan.
Viona berusaha menenangkan hatinya, dia pun berdiri lalu meninggalkan Rayhan yang masih duduk di bangku panjang itu.
Rayhan hanya diam, dia menatapi punggung Viona yang kini semakin menjauh dari posisinya.
Dia memandangi Viona yang kini keluar dari gerbang sekolah.
Setelah itu Rayhan berdiri, lalu dia melangkah menuju parkiran.
Dia masuk ke dalam mobilnya lalu dia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia kini mengikuti Viona dari kejauhan.
Rayhan ingin memastikan Viona sampai di rumah dalam keadaan selamat.
Beberapa menit perjalanan Viona pun sampai di rumah, sesampai di rumah, Viona langsung masuk ke dalam rumah.
Rayhan pun meninggalkan kawasan perumahan Viona setelah memastikan Viona masuk ke dalam rumahnya.
"Mungkin untuk saat ini, aku hanya bisa memantau dirimu dari kejauhan, aku harap kamu mengerti situasi yang kini aku hadapi," lirih Rayhan.
Rayhan melajukan mobilnya menuju kediaman keluarganya.
Sesampai di rumah Rayhan langsung masuk ke dala kamarnya, setelah beberapa hari ini Rayhan memang lebih sering mengurung diri di kamarnya dari pada berkumpul dengan ayah dan bundanya.
"Yah," lirih Alisya memanggil sang suami.
Saat ini Alisya dan Firman tengah duduk di ruang keluarga sambil menyaksikan film india kesukaan Firman.
__ADS_1
"Mhm," gumam Firman.
"Bunda perhatikan, Rayhan sekarang lebih sering di kamar dari pada berkumpul dengan kita," ujar Alisya menyampaikan isi hatinya pada sang suami.
Firman menoleh ke arah sang istri..
"Kamu ini kenapa, sih?" lirih Firman.
"Biarkan saja dia melakukan apa yang saat ini ingin dia lakukan, kamu tidak usah teru memikirkan perubahan sikap Rayhan. Wajar saja dia merasa terpukul dengan permintaanmu untuk menjauhi Viona, yang penting saat ini dia bisa mengikuti apa yang kamu katakan," ujar Firman lagi menasehati sang istri.
"Tapi, Yah. Bunda tidak sanggup melihat sikap Rayhan yang semakin hari terlihat semakin pendiam," curhat Alisya lagi.
"Itu wajar, Bun. Selama ini Viona adalah wanita yang membuat hari-harinya terasa cerah dan gembira, dan kini kamu justru melarangnya untuk berdekatan dengan cahaya yang membuatnya selama ini tersenyum, war dia berubah sikap," ujar Firman lagi.
"Tapi, Yah,-" Alisya belum melanjutkan ucapannya.
Firman kini menatap dalam pada sang istri.
"Ayah mengerti dengan apa yang saat ini bunda rasakan, tapi bunda tak boleh terlalu memikirkan masalah ini, cepat atau lambat Rayhan akan kembali seperti semula menjelang dia terbiasa hidup tanpa hadirnya Viona di dalam dirinya," ujar Firman lagi.
Alisya pun terdiam mendengar ucapan sang suami, semua yang dikatakan Firman memang benar adanya, hanya saja Alisya yang tak sanggup melihat wajah putranya yang terlihat semakin kaku dan sombong.
"Lalu menurut kamu apa yang harus kita lakukan?" tanya Alisya pada sang suami.
"Maksud kamu?" tanya Firman sembari mengernyitkan dahinya geran mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh sang istri.
"Ya, apa yang harus kita lakukan terhadap Yoga atau Viona, haruskah kita memberitahukan kenyataan yang sesungguhnya pada Yoga agar Yoga dapat mengerti dengan sikap putra kita," ujar Alisya.
Alisya ingin memberitahu Yoga akan kenyataan yang sesungguhnya agar Yoga tidak berprasangka buruk terhadap putranya.
Alisya takut Yoga akan mengira putranya tak bertanggung jawab karena tiba-tiba menghilang dari kehidupan putrinya.
"Kalau kamu memang ingin memberi tahu Yoga akan kenyataan yang sesungguhnya itu juga bagus, agar Yoga mengerti," ujar Firman setuju.
"Lalu bagaimana caranya aku memberitahukan Yoga akan kenyataan itu?" lirih Alisya masih bimbang.
"Apakah kamu ingin aku ikut menemuinya, atau haruskah aku yang mengatakan kenyataan ini padanya?" ujar Firman.
Alisya terdiam sejenak.
"Kenyataan apa yang sebenarnya bunda dan ayah sembunyikan dariku?" tanya Rayha pada kedua orang tuanya..
Ternyata sejak tadi Rayhan berada di tangga samping ruang keluarga.
Dia mendengarkan apa yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
Firman dan Alisya terdiam mendengar pertanyaan dari Rayhan.
Bersambung...