
"Kamu kenapa, Vio?" tanya Rasya heran.
Viona kembali mengingat kejadian kemarin, dia sempat melihat bunda Alisya menampar Rayhan dnegan keras karena dirinya dan Rayhan hampir melakukan kesalahan.
Viona juga ingat dengan jelas kata-kata bunda ALisya yang tidak mengizinkan Rayhan berhubungan lagi dnegan dirinya, sehingga merasa dirinya telah membuat hal yang fatal untuk Rayhan.
"Vio," panggil Rasya.
Viona kaget mendengar panggilan Rasya, dia sempat termenung sejenak memikirkan kejadian kemari.
"Apa yang telah terjadi sama kamu?" tanya Rasya penasaran.
Rasya tak pernah melihat sahabatnya murung seperti saat ini.
"Eh, tidak apa-apa, Sya," sahut Viona.
"Kamu pasti lagi ada masalah," ujar Rasya menebak.
"Ah, kamu sok tahu," ledek Viona berusaha menutupi rasa sedih yang dirasakannya saat ini.
"Vio, aku ini sahabatmu. Aku sangat tahu bagaimana sifatmu," ujar Rasya sok tahu.
Persahabatan mereka memang sudah terjalin sejak duduk di bangku SMP sehingga mereka saling mengerti antara satu sama lain.
"Sudahlah, jangan bahas ini lagi. Kamu bawakan aku catatan, enggak?" tanya Viona mengalihkan pembicaraan.
Viona merasa saat ini belum waktunya masalah yang kini ada di dalam pikirannya.
"Oh, iya. Aku bawa, nih. Ada beberapa yang harus dikumpulin Minggu depan," ujar Rasya memberikan beberapa buku pada sang sahabat.
"Terima kasih, Sya," ucap Viona.
****
Satu Minggu telah berlalu, keadaan ayah Viona mulai membaik.
Hari ini dokter masuk untuk memastikan kondisi Yoga.
"Alhamdulillah, hari ini Pak Yoga sudah bisa pulang," ujar dokter memberitahukan.
"Alhamdulillah," lirih Yoga senang.
Dia juga sudah merasa bosan berlama-lama berbaring di rumah sakit.
"Anda bisa pulang setelah semua administrasi diselesaikan, silakan Nona Viona untuk mengurus administrasinya," ujar Dokter pada Viona.
"Baik, Dok," sahut Viona.
Viona tampak berpikir keras mendengar ucapan sang dokter, saat ini dia tengah memikirkan di mana akan mendapatkan biaya jika nanti di bagian administrasi mereka meminta uang.
Meskipun begitu, Viona tetap melangkah menuju bagian administrasi untuk mengetahui berapa tagihan yang harus dibayarnya.
"Permisi," sapa Viona saat telah berada di depan conter bagian administrasi.
__ADS_1
"Iya, kak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas administrasi.
"Mhm, pasien atas nama Yoga sudah diperbolehkan dokter untuk pulang, saya mau mengurus administrasinya," ujar Viona.
"Oh, tunggu sebentar ya, Kak," ujar petugas administrasi.
Petugas administrasi itu pun melihat komputer yang ada di hadapannya, dia mengecek status biaya yang harus ditanggung oleh Viona.
"Baik, Kak. Pasien atas nama Yoga sudah diperbolehkan pulang, dan biayanya sudah dibayar seluruhnya. Anda bisa membawa pasien pulang," ujar petugas administrasi.
"Apa? Siapa yang membayarnya, Kak?" tanya Viona heran.
"Saya juga kurang tahu, Kak," jawab petugas administrasi itu.
"Baiklah, Kak. Terima kasih," ucap Viona.
"Apa mungkin kak Rayhan yang membayar biaya rumah sakit ayah?" gumam Viona bertanya-tanya di dalam hati.
"Ah, sudahlah. Besok saat di sekolah aku akan menanyakan hal ini langsung pada kak Rayhan," gumam Viona.
Setelah itu Viona pun melangkah menuju ruang rawat ayahnya, dia mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa pulang.
Saat Viona dan Ayahnya sudah siap untuk pulang, tiba-tiba seorang pria datang.
"Selamat siang, Nona," sapa si pria itu pada Viona.
"Siang," lirih Viona menautkan kedua alisnya heran.
Yoga melangkah menghampiri pria yang tak asing baginya.
"Mang Ujang," lirih Yoga berusaha menebak pria yang kini datang menjemputnya adalah sopir pribadi di rumahnya.
"Tuan Yoga," lirih Mang Ujang.
Mang Ujang masih dapat mengingat dengan jelas sosok majikannya yang dulu sempat diusir dari kediamannya.
Viona menoleh ke arah ayahnya dan pria itu secara bergantian, Viona mulai bertanya-tanya tentang sosok pria yang dikenal jelas oleh ayahnya.
"Siapa bapak ini, Yah?" tanya Viona pada sang ayah.
"Suatu hari nanti kamu akan mengetahuinya," jawab Yoga membuat Viona semakin penasaran.
"Sini saya bantu, Tuan," lirih Mang Ujang.
Mang Ujang pun mengambil barang-barang yang ada di tangan Viona dan Yoga, lalu membawanya menuju parkiran.
Viona dan Yoga mengikuti langkah mang Ujang.
Mang Ujang membuka pintu mobil untuk Yoga setelah mereka berada di samping mobil.
Yoga menoleh ke arah mang Ujang saat mang Ujang membukakan pintu mobil untuknya.
"Silakan, Tuan," lirih Mang Ujang.
__ADS_1
Sekilas ingatan masa lalu terlintas di benak Yoga.
Dia masih teringat bagaiman perlakuan hormat yang dilakukan oleh setiap pelayan yang ada di kediaman Herlambang.
Mata Yoga mulai berkaca-kaca, dia kembali merasakan kehidupan mewah yang dulu pernah dirasakannya.
"Silakan, Tuan," lirih Mang Ujang lagi mengulangi ucapannya karena Yoga kini masih mematung di depan pintu mobil.
Viona semakin bertanya-tanya di dalam hati apa sebenarnya yang telah terjadi.
Yoga pun masuk ke dalam mobil diikuti oleh Viona.
Mang Ujang pun masuk ke dalam mobil setelah memastikan Yoga dan Viona duduk dengan nyaman di dalam mobil.
Ingatan Yoga kini tertuju pada seluruh keluarga besarnya yang dulu ditinggalkannya demi seorang Tania, ibu Viona.
Dulu Yoga rela meninggalkan keluarga besarnya demi cintanya pada Tania, dia rela diusir dari rumah megah keluarga Herlambang dan mulai hidup susah bersama Tania.
Demi cintanya pada ibu Viona, Yoga juga harus mencopot profesi dosennya.
Saat itu dia benar-benar buta akan cintanya pada Tania, dia rela meninggalkan semua hidup bahagianya demi Tania, sahabat dari istrinya.
Entah mengapa dulu dia begitu sangat mencintai Tania sehingga dia kehilangan segala-galanya.
Demi Tania juga dia terus berjuang membesarkan Viona meskipun dia harus banting tulang sebagai kuli bangunan.
Di sepanjang jalan Yoga terus mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
Penyesalan saat ini tak ada gunanya.
Seketika rasa rindu akan keluarganya kini menyelinap di hatinya.
Tanpa disadarinya, Yoga kini mulai meneteskan air matanya.
Ingin rasanya dia kembali ke keluarganya dan meminta maaf atas keegoisan dirinya di masa lalu.
Bayangan wajah papa dan mamanya tengiang jelas di benaknya, begitu juga dengan kakek dan neneknya.
Ingin hatinya bertemu dengan mereka semua.
Viona memperhatikan sang ayah yang kini mulai menangisi nasibnya.
Mang Ujang hanya bisa melihat Yoga yang menangis dari kaca spion, dia tahu apa yang membuat Yoga kini menangis.
Mang Ujang hanya bisa menghela napas panjang, dia tak berani berkata apa-apa untuk saat ini.
"Yah," lirih Viona tak dapat menahan dirinya untuk tidak bertanya.
Yoga tak menghiraukan panggilan sang putri, semakin dia berusaha untuk tidak menangis, sesak di dadanya semakin menjadi.
"Ayah, apa yang telah terjadi?" tanya Viona pada sang ayah.
Bersambung...
__ADS_1