
“Aaaa!” pekik Nara.
Gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur ukuran besar yang ada di kamarnya yang luas.
Nara merupakan seorang anak yang terlahir dari kalangan berada. Sejak kecil dia hidup dengan berbagai kemewahan, apa pun yang diinginkannya selalu dituruti oleh kedua orang tuanya karena dia merupakan putri tunggal di keluarganya.
Makanya di saat dia menginginkan Rayhan, dia akan melakukan apa saja agar pria yang disukainya menjadi miliknya.
Nara menatap langit langit kamarnya sembari memikirkan cara untuk menyelamatkan dirinya dari tindakan kriminal yang baru saja dilakukannya bersama teman temannya.
“Satu satunya cara yang harus aku tempuh adalah menemui gadis itu lalu mengancamnya,” gumam Nara.
Nara pun langsung menghubungi Rika dan Yola. Dia meminta kedua sahabatnya itu untuk datang ke sekolah esok hari agar mereka dapat bertemu dengan Viona sebelum bel masuk berbunyi.
Keesokan harinya, seperti biasa Viona tetap bersiapsiap untuk berangkat ke sekolah. Apa yang telah terjadi pada dirinya tidak membuat dirinya ciut untuk tetap menuntut ilmu di sekolah favoritnya.
“Vio,” lirih Ayah Viona saat Viona sedang menyantap sarapan yang ada di atas meja.
Sarapan yang telah disiapkan oleh ayahnya sebelum putrinya itu berangkat sekolah.
Seketika Viona menghentikan kegiatan makannya.
“Iya, Yah,” lirih Viona menatap sang ayah.
“Apa kamu yakin akan pergi ke sekolah hari ini?” tanya ayah Viona.
Pria paruh baya itu merasa khawatir dengan keselamatan putrinya, dia takut orang yang sama kembali ingin melukai gadis kecilnya yang kini mulai dewasa.
“Iya, Yah. Vio akan hati hati. Vio akan berusaha menghindari mereka,” ujar Viona yakin bahwa dia akan baik baik saja.
“Ya udah, kalau memang begitu. Tapi, kamu harus tetap berhati hati, ya,” nasehat ayah Viona.
“Sip, Yah. Ayah tenang saja,” ujar Viona.
Viona pun kembali melanjutkan kegiatan makannya, dia menyantap sarapan nasi gorng itu dengan lahap, berharap nasi goreng buatan ayahnya akan menjadi tenaga dan penyemangat bagi dirinya untuk terus menuntut ilmu dalam mencapai cita cita yang diimpikannya.
__ADS_1
Ayah Viona hanya bisa pasrah, sembari memohon pada Allah untuk tetap menjaga gadis kecilnya itu.
Setelah selesai sarapan, Viona pun berpamitan pada ayahnya. Dia membaca bismillah dalam memulai aktivitasnya hari ini, dia berharap hari ini menyenangkan dan dijahi dari halhal yang jahat.
Sesampai di sekolah, Viona langsung dicegat oleh Rika dan Yola. Melihat 2 senior yang kemarin telah mengurung dirinya di gudang, Viona mulai berhati hati.
“Hei,” teriak Yola membentak Viona.
Viona berusaha mengabaikan teriakan Yola, tapi Rika langsung mencengkram lengan Viona.
“Maaf, Kak. Lepaskan aku,” pinta Viona.
Kebetulan saat itu, di sekeliling mereka terlihat sepi karena Viona memang datang lebih awal. Sehingga siswa dan siswi yang datang belum seberapa.
“Apa? Lepaskan? Yang benar saja,” ujar Rika.
“Kami akan melepaskanmu, tapi harus ada syaratnya,” ujar Yola.
“Apa?” lirih Viona mulai takut.
“Kau harus berjanji untuk menutup mulut dalam kejadian kemarin,” ujar Yola memberi penekanan pada Viona.
“Satu lagi,” ujar Rika tegas.
“Apa?” tanya Viona lagi.
“Jauhi Rayhan, karena Rayhan adalah pria yang disukai oleh Nara!” ancam Rika.
“Mhm,” gumam Viona.
Viona tidak bisa menjanjikan untuk menjauh dari Rayhan, karena beberapa hari ini bukan dirinya yang ingin mendekati Rayhan, tapi pria itulah yang selalu menginginkan dirinya untuk membantu dalam berbagai pekerjaannya di OSIS.
“Kamu dengar,enggak!” bentak Yola kesal melihat tanggapan Viona.
“Maaf, Kak. Kalau kakak mau menyuruhku untuk menjauhi Kak Rayhan, aku minta tolong pada kakak untuk menyampaikan padanya untuk tidak mendekatiku,” ujar Viona.
__ADS_1
Viona pun menghentakkan lengannya hingga cengraman Yola. Setelah itu Viona pun pergi begitu saja meninggalkan Yola dan Rika.
“Ya Allah, mulai hari ini aku harus berhati hati dengan 2 orang itu,” gumam Viona sembari melangkah menuju kelasnya.
Baru saja Viona meletakkan tasnya di bangkunya, Rayhan sudah datang mencarinya.
“Vio,” panggil Rayhan.
Viona menoleh ke arah seseorang yang telah memanggilnya, dia kaget melihat sosok Rayhan yang sudah ada di dalam kelasnya.
Dia menautkan kedua alisnya heran.
“Ada apa, Kak?” tanya Viona.
“Vio, kamu masih bisa bantu aku, kan?” tanya Rayhan penuh harap.
“Bantu apa, Kak?” tanya Viona bingung.
Gadis itu telah lupa dengan janjinya pada Rayhan untuk menyelesaikan mading sekolah.
“Mhm, pekerjaan kita yang kemarin belum selesai,” ujar Rayhan.
Rayhan menatap Viona dengan memelas, berharap Viona akan meluangkan waktunya pagi ini untuk memasang artikel di mading sekolah.
“Ya udah, yuk, Kak.” Viona mengangguk.
Lalu mereka pun melangkah beriringan menuju ruang OSIS. Setelah itu mereka berdua asyik memasang artikel yang kemarin sudah mereka pilih.
Sebelum bel masuk kelas berbunyi pekerjaan mereka pun sudah selesai.
“Terima kasih ya, Vio,” lirih Rayhan senang.
“Sama sama, Kak.” Viona mengembangkan senyuman manisnya membuat jantuh Rayhan berdetak semakin kencang.
Dari kejauhan Nara melihat dengan jelas kedekatan Viona dan Rayhan saat ini, seolah olah mereka saat ini sudah saling mengenal dan memiliki hubungan khusus, hal ini membuat Nara semakin panas.
__ADS_1
Ingin rasanya Nara memberi pelajaran lagi pada Viona, tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat. Naea akan memikirkan cara untuk melenyapkan Viona agar hubungannya dengan Rayhan tak ada yang bisa mengganggunya.
Bersambung