
Mang Ujang hanya diam saja, dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Viona karena dia tidak berhak untuk menceritakan kisah masa lalu Yoga pada putrinya.
Mang Ujang tidak mau Viona akan memandang rendah terhadap ayahnya.
Mang Ujang hanya bisa menatap iba pada Yoga dan Viona.
Setelah beberapa menit Yoga menangis, dia pun menghentikan tangisannya, lalu dia mengusap air matanya yang membasahi pipinya.
"Maafkan saya, Mang. Saya sudah membuat Mang Ujang terlambat pulang," ujar Yoga.
Dia merasa bersalah pada pria paruh baya itu.
"Tidak apa-apa, Tuan," ujar Mang Ujang.
Yoga masih belum merasa ngeh dengan status Rayhan sebagai pewaris tunggal di keluarga Herlambang karena dia masih larut dalam duka yang mendalam.
"Mang, kapan Mang Ujang bisa mengantarkan aku ke pemakaman mereka semua?" tanya Yoga berharap Mang Ujang bersedia mengantarkan dirinya pergi ziarah ke makam keluarga besarnya.
"Baiklah, Tuan. Jika saya ada kesempatan saya akan beritahu, Tuan," ujar Mang Ujang.
Mang Ujang tidak tega untuk menolak pesanan dari mantan majikannya itu, walau bagaimanapun dia merupakan cucu satu-satunya dari kakek Herlambang.
"Terima kasih, Mang," ucap Yoga.
Viona masih belum mengerti dengan apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Ayahnya dan Mang Ujang.
"Baiklah, Tuan, kalau begitu saya pamit pulang dulu," ujar Mang Ujang berpamitan.
"Iya, Mang. Terima kasih atas bantuannya, Mang. Sampaikan juga terima kasih dariku pada Alisya," ujar Yoga.
Yoga tahu Alisya lah yang telah membayar semua tagihan rumah sakitnya.
"Baik, Tuan," ujar Mang Ujang.
Setelah itu mang Ujang pun keluar dari rumah Yoga, lalu dia meninggalkan rumah Yoga.
"Yah," lirih Viona setelah mang Ujang sudah pergi.
Yoga menoleh ke arah putrinya, dia mengerti saat ini sang putri tengah bertanya-tanya apa penyebab dirinya tadi menangis.
Yoga pun kembali mendekap tubuh sang putri.
"Maafkan ayah, Nak. Saat ini ayah belum bisa memberi tahumu apa yang sudah terjadi di masa lalu," gumam Yoga di dalam hati
Dia mengelus lembut kepala sang putri, saat ini hanya Viona yang dimilikinya.
Melihat ayahnya tak kunjung bercerita, akhirnya Viona tak lagi bertanya.
Dia ber
****
Pagi yang cerah menjadi awal langkah Viona kembali masuk ke sekolah setelah meliburkan diri selama satu Minggu lebih.
__ADS_1
"Yah, nanti aku pulang terlambat, aku mau langsung ke kafe," ujar Viona sebelum berangkat ke sekolah.
Mulai hari ini Viona memutuskan untuk kembali bekerja di kafe tempat dia dulu bekerja.
Pemilik kafe sudah pernah bilang pada Viona, kapan pun dia ingin bekerja mereka akan menerima Viona.
Di saat ayahnya tak sanggup mencari uang untuk mereka maka Viona akan turun tangan agar mereka tetap dapat bertahan hidup.
Yoga menatap dalam pada sang putri.
"Maafkan ayah, Vio. Ayah tidak bisa menjadi ayah terbaik buat kamu," lirih Yoga merasa bersalah pada sang putri.
"Tidak apa-apa, Yah. Saat ini ayah masih dalam masa pemulihan, jadi biar Vio yang cari uang untuk kita," ujar Viona.
"Ayah harus banyak istirahat, jangan lupa minum obatnya," ujar Viona mengingatkan sang ayah.
Yoga menganggukkan kepalanya, setelah itu Viona meraih tangan sang ayah, dia menyalami ayahnya lalu mencium punggung tangan sang ayah.
Viona pun melangkah menuju luar, lalu dia mengambil scooter miliknya yang tadi telah dipanaskannya saat sarapan.
Viona mulai beraktivitas, walaupun ada rasa yang berbeda baginya, tapi dia berusaha mengabaikan perasaan itu.
Biasanya Rayhan akan datang menjemputnya, tapi sudah 3 hari Rayhan tak menampakkan batang hidungnya di hadapan Viona.
Viona memulai harinya dengan sebuah senyuman yang terpancar di wajahnya.
Sementara itu Yoga juga bertanya-tanya di dalam hatinya.
Seketika Rayhan mulai memikirkan alasan Rayhan tak pernah lagi menemui putrinya.
Ingin rasanya Yoga mencari Rayhan, tapi apalah dayanya, saat ini dia masih belum terlalu sehat.
Apalagi dia juga tidak tahu di mana rumah Rayhan.
Sedikitpun Yoga tak terlintas di benaknya bahwa Rayhan adalah putranya, karena dia lupa kondisi sang istri tengah hamil saat ditinggalkannya.
Di benaknya saat ini, Rayhan merupakan putra Alisya dan Firman.
Viona sampai di sekolah 20 menit sebelum bel masuk berbunyi, sekolah masih terlihat sangat sepi.
Dia memarkirkan scooter miliknya di parkiran roda dua yang tersedia di sekolahnya.
Setelah itu, dia melangkah menelusuri lorong sekolah menuju kelasnya.
Saat Viona hendak masuk kelas, dia melihat Rayhan berjalan di lapang basket.
Viona berhenti sejenak, dia menatap Rayhan yang terus melangkah tanpa melihat padanya.
Rayhan sengaja melewati lapangan basket agar tak bertemu dengan Viona, terlihat dengan jelas saat ini, Rayhan tengah menghindar dari Viona.
"Woi, Vio," seru Rasya yang baru saja sampai di sekolah.
Dia sengaja mengagetkan sahabatnya yang bengong memandangi sang ketua OSIS dari kejauhan.
__ADS_1
"Ish, Rasya. Apaan, sih?" gerutu Viona kesal.
"Kamu kenapa, sih? Pagi-pagi begini udah bengong," ujar Rasya menggoda sahabatnya.
Rasya menarik tangan Viona untuk masuk ke dalam kelas.
Kini dia sahabat itu sudah duduk di bangku mereka.
"Kamu bertengkar ya, sama Kak Rayhan?" tanya Rasya penasaran.
Viona hanya diam, dia tidak tahu harus menjawab apa, karena dia sendiri tak mengerti apa yang saat ini yang menjadi pikiran Rayhan sehingga dia menjauhi dirinya.
"Vio, kamu kenapa, sih?" tanya Viona mengagetkan Viona yang melamun.
"Eh, enggak apa-apa, kok. Aku juga enggak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi, tiba-tiba kak Rayhan jauhin aku," tutur Viona mulai bercerita pada sahabatnya.
"Oh, begitu." Akhirnya Rasya pun mengerti apa yang sudah terjadi.
Tak berapa lama mereka mengobrol terdengar bunyi bel masuk, lalu guru pun masuk ke dalam kelas mereka.
Viona mulai mengikuti pelajaran yang diajarkan oleh gurunya, meskipun sesekali dia terus teringat pada Rayhan.
"Apa begini rasa sakit patah hati? Baru kali ini aku merasa tersiksa dicuekin oleh pria yang sudah mengisi hatiku," gumam Viona di dalam hati.
Saat bel istirahat, Viona sengaja tak keluar dari kelas. Dia takut bertemu dengan Rayhan dan pria itu malah menjauhi dirinya.
Hal ini akan membuat hatinya semakin terluka.
Sementara itu, Rayhan sengaja mengurung diri di ruang OSIS agar dia tidak bertemu dengan Viona.
Saat ini dia merasa bersalah pada wanita yang dicintainya itu, tapi dia harus mengikuti apa yang telah dikatakan oleh sang Bunda.
Rayhan tidak mau menjadi anak yang durhaka pada wanita yang telah melahirkannya.
Bel pulang berbunyi, Viona ingin langsung pulang tapi sesuatu membuatnya harus berbelok ke toilet sekolah.
Saat berada di toilet sekolah, Viona bertemu dengan Nara.
"Hei," teriak Nara pada Viona.
Viona menghentikan langkahnya
"Bagus! Lu sudah mendengarkan apa yang gue bilang. Mulai hari ini gue enggak akan ganggu hidup lu lagi," ujar Nara dengan senang hati.
Viona berusaha untuk mengabaikan ucapan Nara.
"Woi, lu berani ya sama gue?" bentak Nara kesal.
Nara pun mencekik Viona hingga Viona kesulitan untuk bernapas.
"Hentikan," teriak seseorang yang melintas di koridor toilet.
Bersambung...
__ADS_1