
Rayhan menoleh ke arah Viona, gadis itu kini terlihat cemas. Dia takut gurunya mengira dirinya melakukan hal negatif bersama Rayhan.
Rayhan berdiri lalu menghampiri Pak Heri.
"Maaf, Pak. Kami sedang beristirahat di gubuk ini, karena Viona sudah tidak kuat lagi untuk berjalan," jawab Rayhan.
"Lalu, mengapa kamu bisa bersama Viona?" tanya Pak Heri heran.
Semalaman ini semua orang panik dan cemas memikirkan keberadaan Viona dan Rayhan yang tiba-tiba hilang.
"Maaf, Pak. Semalam saya mengasingkan diri dari tim, karena saya masih ingin mencari Viona, saya takut terjadi hal buruk padanya," jelas Rayhan.
Pak Heri dan tim bersamanya masih diam mendengarkan penjelasan dari sang ketua OSIS itu.
"Tadi pagi, saya menemukan Viona mengambang di sungai, saya langsung melakukan pertolongan pertama untuknya," tambah Rayhan lagi.
"Oh, syukurlah kalau begitu." Pak Heri memahami keadaan mereka.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita kembali ke lokasi perkemahan," ajak Pak Heri.
Akhirnya mereka pun melangkah menuju lokasi perkemahan, Viona pun diangkat dengan tandu karena dia memang tak lagi memiliki tenaga untuk berjalan.
Sesampai di lokasi perkemahan, pak Heri mengumpulkan semua panitia dan senior kelas 3.
Pak Heri memutuskan untuk mempersiapkan semua peserta didik untuk bersiap kembali ke Jakarta.
Dia tidak ingin ada hal-hal yang membahayakan terjadi pada siswa lain, dia memilih untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.
Dia pun berjanji akan mengganti acara happy camp ini dengan acara lain di sekolah.
Beberapa orang panitia tidak setuju, tapi sesuai rapat dan musyawarah akhirnya keputusan pak Heri tetap dilakukan.
Pada sore hari, semua peserta happy camp dikumpulkan di bumi perkemahan.
Semua tenda pun sudah dibuka, banyak peserta yang kecewa dengan keputusan ini, tapi mereka tidak bisa protes sama sekali.
Sebelum pukul 17.00 semua bis yang datang menjemput mereka telah terparkir di lokasi.
Mereka akan kembali sore ini ke Jakarta.
Saat semua siswa hendak masuk ke dalam bis, seorang siswi kelas 1 datang menghampiri Rayhan.
"Kak," lirih si siswi berbisik pada Rayhan.
Rayhan menautkan kedua alisnya heran.
"Ada apa?" tanya Rayhan.
"Ada yang mau aku omongin," ujar si siswi yang sama sekali tidak dikenal oleh Rayhan.
__ADS_1
"Ngomong apa?" tanya Rayhan semakin penasaran.
"Mhm, tapi aku harap kakak gak kasih tahu siapakah siapa?" ujar siswi itu.
Rayhan semakin penasaran apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh siswi tersebut.
Rayhan pun menarik tangan gadi itu ke belakang bus yang terparkir.
"Kak, sebenarnya aku kemarin melihat seseorang mendorong Viona ke dalam sungai hingga Viona hanyut di sungai itu, tapi aku tidak berani teriak," ujar Si siswi itu.
"Apa? Berarti memang ada yang ingin mencelakai Viona," ujar Rayhan.
"Iya, Kak." Siswi itu mengangguk.
"Siapa?" tanya Rayhan lagi.
"Tapi, kak Rayhan janji enggak bilang siapa-siapa," ujar siswi itu takut.
Rayhan menghela napas panjang, akhirnya dia pun mengiyakan apa yang dikatakan si siswi. Rayhan berjanji tidak akan memberitahukan siapa pun.
"Kak Nara, Kak," ujar siswi itu berbisik.
"Apa? Kali ini Nara benar-benar keterlaluan," gumam Rayhan geram.
"Kak Rayhan jangan lupa dengan janji Kakak, ya," ujar siswi itu mengingatkan.
Rayhan pun mengangguk.
"Terima kasih atas informasinya, Dek." Rayhan pun meninggalkan siswi tersebut.
Siswi itu sengaja memberi tahu Rayhan karena dia tidak ingin menyimpan hal itu seorang diri.
Dia merasa bersalah pada Viona karena membiarkan Nara melakukan kejahatan itu sementara dia menyaksikannya.
Setelah itu, bus pun mulai meninggalkan lokasi perkemahan, mereka pun kembali ke Jakarta.
****
Sejak kejadian di bumi perkemahan itu, Rayhan selalu berada di samping Viona, bahkan kini dia selalu mengantar dan menjemput Viona sekolah.
Dia selalu berada di samping Viona agar Nara tak lagi bisa menyakiti Viona, wanita yang dicintainya.
Bahkan Rayhan kini telah menyatakan bahwa Viona adalah kekasihnya, meskipun Viona belum menyatakan iya.
Sedangkan Viona, tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa menuruti apa yang diinginkan oleh Rayhan, meskipun Viona belum membalas ucapan cinta Rayhan, tapi Rayhan sudah menganggap Viona sebagai kekasihnya.
Siang ini Rayhan mengantarkan Viona ke pulang ke rumahnya, kebetulan Ayah Viona tengah berada di rumah, maka Rayhan dan Ayah Viona pun bertemu.
"Siang, Om," sapa Rayhan dengan ramah.
__ADS_1
"Siang," sahut Ayah Viona.
"Ray," lirih ayah Viona.
"Ikut makan bareng kami dulu," ajak Ayah Viona.
Ayah Viona yang dulu tidak setuju dengan hubungan putrinya dan Rayhan, kini terpaksa setuju karena dia tidak mau Viona melakukan hal-hal yang dilarangnya.
"Enggak usah, Om. Nanti aku makan di rumah saja." Rayhan berusaha menolak dengan halus.
"Kamu enggak mau makan di sini karena tidak sesuai dengan selera kamu?" tanya Ayah Viona sedikit kecewa menerima penolakan dari Rayhan.
"Bukan begitu, Om." Rayhan pun merasa bersalah.
"Ya sudah kalau begitu, ayo ikut makan siang bareng Om," ajak Ayah Viona lagi.
Mau tak mau Rayhan pun menerima tawaran dari ayah Viona, Viona terlihat sangat bahagia.
"Vio, ayo siapkan makan siang. Rayhan akan makan bersama kita di sini," perintah Ayah Viona pada putrinya.
"Baik, Yah." Viona pun bergegas melangkah ke dapur.
Dia pun menyiapkan makanan yang tadi sudah dimasak Ayahnya.
Dia tinggal menghidangkan makanan itu di atas meja makan sederhana di rumahnya.
Menu makan siang yang disediakan ayah Viona sangatlah sederhana.
Goreng ikan asin dan tempe, sambel terasi dan sayur asem. Meskipun menu itu sangat sederhana, tapi menu tersebut adalah menu yang sering dikonsumsi oleh Viona dan Ayahnya.
"Yah, makanannya sudah siap," ujar Viona menghampiri Rayhan dan Ayahnya yang sedang mengobrol.
Viona senang melihat sikap sang ayah yang kini mulai menerima sosok Rayhan sebagai orang terdekat bagi Viona.
"Ayo, Ray. Kita makan dulu," ajak Ayah Viona.
Rayhan mengangguk, lalu mereka berdiri dan berpindah ke ruang makan yang sangat kecil, jauh berbeda dengan ruang makan di rumah Rayhan.
Meskipun keadaan rumah Viona jauh berbeda dengan rumahnya, Rayhan tetap merasa nyaman berada di sana.
"Jangan sungkan, Ray. Anggap saja rumah sendiri," ujar ayah Viona mengajak Rayhan untuk memulai makan.
"Iya, Om." Rayhan pun menyendokkan nasi ke piring yang ada di hadapannya.
Mereka pun menikmati menu makan siang itu dengan lahap. Rayhan terlihat sangat menikmati makanan tersebut.
"Ray," lirih Ayah Viona setelah mereka selesai makan.
"Mhm," gumam Rayhan sembari menoleh ke arah ayah Viona.
__ADS_1
Dia menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut ayah wanita yang dicintainya.
Bersambung...