
Alisya kaget mendengar hempasan pintu yang dibanting Rayhan.
Tak biasanya Rayhan melawan ucapan sang bunda.
Alisya mengelus dadanya, lalu dia melangkah menuju kamarnya.
Sesampai di kamar Alisya hanya bisa menangis, melepaskan rasa sesak di dadanya.
Seharian Alisya menghabiskan waktunya di kamar saja, dia sama sekali tak keluar dari kamar, begitu juga dengan Rayhan.
Pada sore hari Firman pulang bekerja langsung mencari sang istrinya.
"Bi, ibuk mana?" tanya Firman pada salah satu pelayan yang bekerja di rumah itu.
"Mhm, sepertinya di kamarnya, Tuan. Sejak tadi pagi pulang dengan tuan muda, Nyonya belum keluar dari kamar," ujar pelayan itu.
"Apa? Apa sebenarnya yang sudah terjadi?" tanya Firman pada si pelayan.
Dia merasa penasaran dengan sikap sang istri yang berkurung di kamar.
Firman pun melangkah menuju kamar, dia kini mengkhawatirkan keadaan sang istri.
"Sayang," ujar Firman saat dia telah sampai di dalam kamar.
Alisya terlihat tengah berbaring telungkup di atas tempat tidur.
"Kenapa, Sayang?" tanya Firman langsung menghampiri sang istri.
Alisya membalikkan tubuhnya, lalu dia pun langsung memeluk tubuh sang suami.
__ADS_1
Lagi-lagi, Alisya pun menangis di dalam pelukan sang suami.
Firman semakin penasaran dengan apa yang telah terjadi.
Dia berusaha menahan diri, dia memberi kesempatan sang istri untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.
"Apa yang sudah terjadi?" Akhirnya Firman pun bertanya pada sang istri setelah merasa Alisya mulai tenang.
"Rayhan, Mas. Dia sudah berani melawan bunda," isak Alisya.
Alisya mulai menceritakan apa yang terjadi tadi pagi di rumah sakit.
"Ini sudah tidak bisa dibiarkan, tapi kit harus bisa bicara dengan pelan pada Rayhan. Kamu tahu kan selama ini kita tidak pernah bersikap keras padanya," ujar Firman berusaha menasehati Alisya.
Alisya menganggukkan kepalanya.
"Sudahlah, sekarang kamu mandi dulu sana, bau," ujar Firman sembari tersenyum menghibur sang istri.
Dia masih mengurung diri di kamarnya, sebagai seorang ibu Alisya mengkhawatirkan keadaan Rayhan.
Alisya takut sang putra sakit nantinya.
"Mas," lirih Alisya.
Alisya tampak tak berselera makan, karena dia masih memikirkan Rayhan.
"Ayo, kamu makan dulu. Nanti biar aku yang mencoba bicara dengan Rayhan," ujar Firman.
Firman terus membujuk sang istri agar mau makan, akhirnya Alisya pun mau makan dengan disuapi oleh sang suami.
__ADS_1
Firman tahu betul sifat istrinya yang malas makan jika dalam menghadapi masalah, maka Firman selalu menjadi orang yang paling perhatian pada sang istri.
Setelah makan malam, Firman meminta istrinya untuk beristirahat, dia ingin mengajak Rayhan keluar rumah untuk mengobrol sebagai sesama pria.
Kini Firman mulai melangkahkan kakinya menuju kamar Rayhan.
Tok tok tok.
Firman mengetuk pintu kamar Rayhan.
Rayhan menoleh ke arah pintu, dia kini tengah asyik mengalihkan pikirannya dengan membaca komik kesukaannya.
Selama ini Rayhan tidak pernah melawan perkataan sang bunda, dia
Dia melangkah menuju pintu dengan malas.
Rayhan membuka pintu kamarnya.
"Ayah," lirih Rayhan saat mendapati sang ayah telah berdiri di depan kamarnya.
"Bisakah temani ayah keluar sebentar?" tanya Firman pada Rayhan.
Dia tidak langsung membahas masalah yang telah terjadi antara istrinya dan putranya itu.
"Ke mana, Yah?" tanya Rayhan.
"Ayo, ikut saja dulu," ajak Firman.
"Baiklah, Yah. Ray ganti baju dulu ya, Yah," ujar Rayhan.
__ADS_1
Setelah itu Rayhan pun bersiap untuk menemani sang ayah keluar.
Bersambung...