Mencintai Putri Ayahku

Mencintai Putri Ayahku
Bab 34


__ADS_3

Yoga melangkah gontai tak percaya dengan apa yang abru saja dikatakan oleh mantan istrinya.


Dia tidak menyangka pria yang selama ini dicintai putrinya adalah putra kandungnya.


"Pasti ini alasan Rayhan telah menjauhi Viona, tapi mengapa Rayhan tidak datang menghampiri diriku? Apakah dia sangat membenciku karena aku telah meninggalkan bundanya?" lirih Yoga menyesali apa yang telah terjadi.


Yoga terus berjalan menyusuri jalan, tanpa disadarinya sebuah sepeda motor melaju kencang dan tak sengaja menyerempet dirinya.


Yoga terpental ke pinggir jalan, sedangkan sepeda motor yang menabrak Yoga telah melarikan diri, membuat Yoga yang kini sekarat di pinggir jalan karena kepalanya terbentur batu.


Saat itu Rayhan tengah melintas di jalanan itu.


Dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan saat melihat keramaian di pinggir jalan.


Dia penasaran ingin melihat apa yang telah terjadi.


Dia turun dari mobilnya, dia melangkah ikut berkerumun di keramaian orang-orang di sana.


Rayhan kaget saat melihat tubuh Yoga yang kini telah berlumuran darah.


"Ayah!" pekik Rayhan.


Selama ini dia menahan diri untuk tidak memanggil pria itu sebagai ayah, karena dia tidak ingin Viona mengetahui kenyataan yang akan sulit dipercaya oleh gadis itu.


Semua mata tertuju padanya karena Rayhan memanggil korban kecelakaan itu dengan sebutan 'ayah'.


Rayhan meminta bantuan beberapa orang yang ada di sana untuk mengangkat tubuh Yoga yang kini tengah sekarat untuk masuk ke dalam mobilnya.


Setelah itu Rayhan pun membawa ayahnya ke rumah sakit terdekat.


Rayhan sangat panik melihat ayahnya yang kini terlihat kritis.


"Dokter!" teriak Rayhan memanggil petugas kesehatan yang berjaga di IGD rumah sakit itu.


2 petugas kesehatan yang pria datang membawa brangkar rumah sakit, mereka membawa Yoga masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


Dokter mulai memeriksa keadaan Yoga, sedangkan Rayhan kini terduduk di kursi ruang tunggu dengan pakaian yang sudah berlumuran darah.


Dia tidak tahu harus melakukan apa saat ini, dia terlihat sangat sedih.


Walaupun Yoga sebagai ayah kandungnya tidak pernah membesarkan dirinya, tapi Rayhan tetap merasa sedih melihat sang ayah kandung terbaring lemah di rumah sakit itu.


Rayhan teringat pada bundanya, dia pun langsung menghubungi sang bunda dan memberitahukan apa yang telah terjadi.


"Ray," panggil Alisya tak berapa lama Rayhan menghubunginya dia pun langsung datang ke rumah sakit.


"Bunda," lirih Rayhan berlari menghampiri wanita yang sudah melahirkan dirinya.


Rayhan memeluk bundanya, dia pun menangis di dalam pelukan sang bunda.

__ADS_1


Alisya memeluk erat tubuh putra kecilnya yang kini telah tumbuh dewasa.


"Bun, aku belum sempat memanggilnya dengan sebutan ayah, hiks." Rayhan menangis terisak.


Alisya dapat merasakan luka hati sang putra. Dia mengelus lembut punggung pangeran kecilnya yang kini telah tumbuh menjadi dewasa.


Saat ini Rayhan memang belu tahu apa penyebab ayahnya meninggalkan sang bunda, tapi dia sama sekali tidak ingin membenci sang ayah.


Alisya selalu mengajarkan putranya untuk selalu menghormati orang tua, begitu juga dengan Yoga.


"Ray," lirih Alisya setelah merasakan sang putri mulai tenang.


Rayhan menatap sang bunda.


"Apakah kamu sudah memberitahukan hal ini pada Viona?" tanya sang bunda pada putranya.


Rayhan menggelengkan kepalanya, dia tidak berani memberitahukan hal ini pada wanita yang saat ini masih dicintainya.


Rayhan tak sanggup melihat Viona syok.


"Ya sudah, biar bunda yang pergi ke rumah Viona, bunda akan bawa dia langsung ke sini," ujar Alisya.


Alisya pun meninggalkan Rayhan di rumah sakit menjaga Yoga, sedangkan Alisya pun pergi ke rumah Viona diantar oleh sopir pribadinya.


Sesampai Alisya di rumah Viona, dia mendapati Viona tengah duduk di teras rumah sembari sesekali memanjang lehernya ke ujung jalan.


Biasanya saat Viona pulang sekolah, dia sudah mendapati sang ayah di rumah dan makan siang pun juga sudah terhidang di atas meja, tapi kali ini dia sama sekali tidak melihat sang ayah di rumah.


Viona menautkan kedua alisnya saat melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan rumahnya.


"Siapa yang datang?" gumam Viona di dalam hati.


Gadis itu kaget melihat wanita yang turun dari mobil mewah itu, dia tidak menyangka Bunda Alisya akan datang ke rumahnya.


Viona langsung menghampiri Alisya.


"Bunda," seru Viona sambil meraih tangan Alisya


Dia menatap heran ke arah wanita yang seumuran dengan ibunya yang sudah tiada.


"Vio," lirih Alisya.


Alisya langsung memeluk tubuh putri dari sahabatnya itu.


Alisya semakin heran dengan sikap Alisya terhadap dirinya.


"Ada apa, Bun?" tanya Viona.


Viona tak sabar lagi ingin tahu alasan kedatangan Alisya ke rumahnya dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Alisya mengajak Viona duduk di kursi yang tersedia di teras rumahnya.


"Vio, kamu harus ikut Bunda," lirih Alisya pelan.


"Ke mana, Bun?" tanya Alisya heran.


"Nanti kamu juga akan tahu," ujar Alisya.


Saat ini Alisya belum berani memberitahukan keadaan mantan suaminya itu pada Viona.


Alisya takut Viona syok, dan dia akan sulit menenangkan gadis itu.


"Tapi, Bun,-" Viona tampak ragu untuk ikut dengan bunda Alisya.


Alisya pun membujuk Viona agar mau ikut dengannya.


Akhirnya dengan ragu Viona pun mau ikut dengan bunda Alisya.


"Aku ganti baju dulu, Bun," ujar Viona.


Viona pun masuk ke dalam rumah, dia mengganti pakaiannya. Tak berapa lama setelah itu, Viona pun keluar dengan pakaian yang sudah rapi.


Mereka melangkah menuju mobil yang terparkir di depan rumah Viona. Mereka masuk ke dalam mobil yang membawa Alisya tadi.


Sang sopir pun melajukan mobil setelah Alisya dan Viona masuk ke dalam mobil, mereka meninggalkan rumah Yoga menuju rumah sakit.


Di sepanjang perjalanan pikiran Viona masih tertuju pada sang ayah, dia terus memikirkan keadaan ayahnya.


Hatinya kini sudah tak keruan, bayangan sang ayah terus membuat dirinya cemas. Jantungnya berdetak kencang karena dia terus memikirkan hal-hal buruk terjadi pada sang ayah.


30 menit perjalanan mereka pun sampai di rumah sakit, sang sopir masuk ke dalam parkiran rumah sakit.


Viona semakin cemas dan khawatir.


Mereka turun dari mobil, Viona terdiam di depan rumah sakit itu, Alisya pun mengajak Viona untuk masuk.


"Kenapa kita ke sini, Bun?" tanya Viona.


Saat ini Viona mulai yakin pasti telah terjadi sesuatu pada ayahnya.


Alisya membawa Viona masuk ke ruangan tempat ayah Viona dirawat, saat ini kondisi ayah Viona masih dalam keadaan kritis.


"Ayah!" pekik Viona.


Dia tak kuat melihat sang ayah yang kini sedang berbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit dengan banyak alat medis menempel di tubuhnya.


Rayhan langsung memeluk tubuh Viona, dia sudah yakin, Viona akan histeris melihat kondisi ayahnya yang saat ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2