Mencintai Putri Ayahku

Mencintai Putri Ayahku
Bab 25


__ADS_3

Rayhan dan Viona kaget mendengar teriakan sang mama.


Mereka sadar akan kesalahan mereka saat ini.


Rayhan tak bisa mengendalikan dirinya, dia ingin memberi sebuah ci*man pada Viona sebagai tanda bahwa dia benar-benar mencintai Viona.


Alisya menatap tajam ke arah putranya dan Viona.


Amarah kini memuncak di ubun-ubun Alisya, dia langsung menghampiri sang putra.


Alisya menarik tangan Rayhan lalu membawa putranya keluar dari ruang rawat Yoga.


Di luar ruangan itu, Alisya menampar pipi sang putra.


PLAKK.


"Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan?" bentak Alisya.


Rayhan hanya diam, dia tahu saat ini dia memang telah melakukan kesalahan.


"Mulai hari ini kamu tak boleh lagi berhubungan dengan Viona," ujar Alisya memberi peringatan.


Alisya hanya bisa melarang putranya berdekatan dengan Viona, karena dia belum bisa mengatakan bahwa Viona adalah adik seayah bagi Rayhan.


Alisya belum menyelidiki, apakah Viona itu darah daging Yoga atau tidak.


Rayhan menatap sang bunda, dia tak percaya bundanya akan melarang hubungannya dengan wanita yang sangat dicintainya, apalagi Rayhan sudah memberitahukan sang bunda bahwa dia sangat mencintai Viona.

__ADS_1


Rayhan menggelengkan kepalanya, dia tidak menerima perintah menjauhi Viona.


"Sekarang kita harus pulang, kamu tidak boleh lagi berhubungan dengan Viona," ujar Alisya dengan tegas.


Rayhan masih mematung di tempatnya, dia tak bisa menerima larangan yang dilontarkan oleh bundanya.


"Ray, apakah kamu mendengar apa yang bunda katakan?" ujar Alisya tegas.


Akhirnya Rayhan pun mengikuti apa yang dikatakan oleh sang bunda.


Rayhan pun melangkah meninggalkan ruang rawat ayah Viona, dia meninggalkan Viona yang kini hanya bisa menatap punggung Rayhan yang menjauhi dari ruang ayahnya.


Tanpa diketahui oleh Alisya dan Rayhan Viona melihat apa yang telah terjadi di luar ruang rawat ayahnya.


Viona juga mendengar dengan jelas bahwa bunda Rayhan melarang kedekatan yang terjalin di antara mereka.


Viona hanya bisa mengusap buliran bening yang jatuh membasahi pipinya.


Viona pun menutupi wajahnya yang sempat basah karena air mata, lalu melangkah menghampiri sang ayah yang masih terbaring di atas tempat tidur.


"Iya, Yah," lirih Viona.


Yoga berusaha untuk duduk, melihat gerakan itu Viona pun membantu sang ayah untuk duduk.


Yoga mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu, dia mencari sosok Rayhan di ruangan itu.


"Vio," lirih Yoga.

__ADS_1


"Iya, Yah. Ayah butuh apa?" tanya Viona.


"Rayhan mana?" tanya Yoga setelah memastikan bahwa Rayhan memang tidak ada di ruangan itu.


"Mhm, Kak Rayhan baru saja pulang, Yah," jawab Viona.


"Kenapa dia pulang?" tanya Yoga penasaran.


"Yah, Kak Rayhan memiliki kehidupan selain kita, jadi kita tidak bisa terus-terusan menahannya di sini," ujar Viona.


Viona berharap sang ayah dapat mengerti apa yang dikatakannya, dan tidak terlalu berharap akan kehadiran sosok Rayhan bersama mereka.


"Oh," lirih Yoga.


Terlihat wajah Yoga yang murung, dia memikirkan sang putri menemani dirinya seorang diri di rumah sakit, seandainya Rayhan ada di sana Viona tidak akan merasakan kesepian.


"Ayah istirahatlah, kalau butuh apa-apa, ayah bisa panggil aku," lirih Viona.


Viona pun duduk di sofa, sambil membuka ponselnya, dia berharap Rayhan mengiriminya sebuah pesan singkat, tapi tak satu pesan yang datang dari Rayhan.


Sementara itu Rayhan dan Alisya dalam perjalanan menuju rumah mereka.


Di sepanjang perjalanan tak ada seorang pun yang berbicara, Alisya masih berkecamuk memikirkan cara bagaimana memberitahu Rayhan bahwa dia tidak bisa menjalin hubungan dengan Viona karena kemungkinan besar Viona adalah adik Rayhan seayah.


Sesampai di rumah, Rayhan langsung turun dari mobil, dia langsung melangkah menuju kamarnya.


Prankk.

__ADS_1


Terdengar dengan jelas suara pintu yang dibanting oleh Rayhan.


Bersambung...


__ADS_2