
Rayhan langsung melangkah menuju kelas Viona, dia merasa saat ini Viona pasti sedang menunggunya. Namun, Rayhan tak mendapati siapa pun di kelas Viona.
Rayhan mengernyitkan dahinya.
"Apakah Viona lupa dengan janjinya siang ini?" bathin Rayhan.
Dia pun langsung melangkah menuju parkiran sepeda motor untuk memastikan keberadaan Viona.
Di parkiran Rayhan masih melihat scooter milik Viona terparkir di parkiran.
"Scooternya masih di sini, itu artinya Viona belum pulang. Oh, mungkin dia sedang di kantin makan siang," gumam Rayhan di dalam hati.
Rayhan pun kembali melangkah masuk ke dalam sekolah, dia melangkah menuju kantin.
Sesampai di kantin, Rayhan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kantin tapi dia sama sekali tidak menemukan keberadaan Viona di sana.
"Mhm, mungkin gadis itu ke perpustakaan mencari buku," gumam Rayhan.
Lalu Rayhan pun melangkahkan kakinya menuju perpustakaan.
Di perpustakaan Rayhan juga tak dapat menemukan Viona, dia mulai risau. Dia bingung harus mencari Viona ke mana lagi.
Rayhan mulai menyusuri setiap sudut sekolah, dia mencari sosok Viona, tapi dia sama sekali tidak menemukan Viona di sekolah itu.
"Ke mana gadis itu?" gumam Rayhan di dalam hati.
"Tidak mungkin dia pulang tanpa membawa scooternya." Rayhan terus bermonolog seorang diri.
"Mungkin saja di toilet atau mushalla," gumam Rayhan lagi.
Rayhan pun kembali melangkah menyisiri setiap sudut sekolah hingga toilet dan mushala yang ada di sekolahnya, tapi sayang dia juga tak menemukan Viona di sana.
Hampir 2 jam, Rayhan mencari Viona tapi dia sama sekali tidak menemukan wujudnya, hingga akhirnya Rayhan memutuskan untuk melangkah menuju kantin sekadar mengisi perutnya yang sudah terasa sangat lapar.
Rayhan memilih berjalan menuju kantin melewati gudang tempat Viona disekap. Saat pria itu tepat berada di depan pintu gudang.
Prank!
Terdengar suara sesuatu jatuh ke lantai.
"Astaghfirullah, suara apa itu?" gumam Rayhan sembari menoleh ke arah pintu gudang.
"Ah, mungkin itu tikus atau kucing yang menjatuhkan barang-barang," gumam Rayhan lagi.
Lalu dia pun kembali melanjutkan langkahnya.
Sesampai di kantin Rayhan memesan makanan untuk dirinya sembari berpikir bagaimana cara untuk bisa bertemu dengan Viona.
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa aku bisa lupa meminta nomor ponselnya. Paling tidak aku bisa menghubunginya di saat seperti ini," gumam Rayhan.
Tak berapa lama menunggu, makanan yang dipesan Rayhan pun datang. Dia bergegas menghabiskan makanannya, entah mengapa pikirannya tiba-tiba tidak enak.
Dia mulai mengkhawatirkan keadaan Viona yang sejak tadi tak terlihat.
Usai menghabiskan makanannya. Rayhan bergegas kembali ke parkiran untuk memastikan scooter milik Viona masih ada di sana.
"Mhm, ternyata dia sudah pulang," lirih Rayhan lega setelah tak lagi melihat scooter milik Viona ada di parkiran.
"Mungkin saja gadis itu lupa dengan janjinya padaku, atau dia punya urusan lain," gumam Rayhan menerka-nerka.
Akhirnya Rayhan pun memilih untuk langsung pulang dan akan melanjutkan pekerjaannya esok hari di saat istirahat.
****
Di sore hari, Rayhan tengah berkumpul dengan teman-temannya di sebuah kafe tempat mereka biasa nongkrong menghabiskan waktu petang sembari bertukar pikiran.
Saat sedang asyik bercengkrama, Rayhan tak sengaja melihat ayah Viona seperti seorang yang tengah kebingungan.
"Kalau enggak salah itu ayah Viona," gumam Rayhan di dalam hati terus memastikan penglihatannya tak salah mengenali orang.
Rayhan pun keluar dari kafe, lalu melangkah menghampiri Ayah Viona.
"Sore, Om," sapa Rayhan pada pria yang sudah berumur itu.
Ayah Viona membalikkan tubuhnya, dia melihat Rayhan kini telah berdiri di depannya.
"Ka-kamu," lirih Ayah Viona setelah mengingat siapa Rayhan.
"Iya, Om. Saya teman Viona tempo hari. Kalau boleh tahu, Om ngapain di sini?" tanya Rayhan berhati-hati.
Rayhan takut ayah Viona merasa tersinggung dengan pertanyaannya.
"Mhm, saya sedang mencari Viona," jawab ayah Viona jujur.
"Mencari Viona? Memangnya Viona ke mana, Om?" tanya Rayhan penasaran.
Rayhan kini mulai mencemaskan keadaan Viona, seketika jantungnya berdetak dengan cepat. Dia kembali mengingat-ingat kejadian tadi siang.
"Iya, Viona belum pulang sejak tadi siang," ujar Ayah Viona terus celingak-celinguk berharap dapat menemukan sosok putri kesayangannya.
"Viona belum pulang? Dia ke mana?" lirih Rayhan mulai berpikir.
"Om, saya ikut bantu cari Viona, ya," lirih Rayhan menawarkan diri.
Ayah Viona tak menggubris apa yang dikatakan oleh Rayhan.
__ADS_1
"Tadi siang, Viona sudah janji padaku akan membantu pekerjaan OSIS, tapi entah mengapa dia tak kunjung datang ke ruangan OSIS. Jangan-jangan ada yang tidak beres sejak tadi siang," gumam Rayhan.
Ayah Viona langsung menoleh ke arah Rayhan, dia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Rayhan barusan.
"Apa kamu bilang?" lirih Ayah Viona.
"Tadi siang, saya juga mencari-cari Viona di sekolah, awalnya saya masih melihat scooternya terparkir di parkiran. Tapi, setelah saya berkeliling sekolah saya kembali melihat parkiran, saya tak lagi melihat scooternya di sana, jadi saya mengira dia sudah pulang," cerita Rayhan memberi informasi pada ayah Viona.
"Dia sama sekali belum pulang ke rumah, scooternya juga tidak ada di rumah," jelas ayah Viona.
"Bagaimana kalau kita cek ke sekolah lagi?" ajak Rayhan pada Ayah Viona.
Meskipun ragu, Ayah Viona pun mengikutinya ucapan Rayhan.
Rayhan mengajak Ayah Viona menaiki motor gede miliknya.
Dia langsung melajukan motornya menuju sekolah. Sesampai di sekolah, Rayhan menemui satpam yang berjaga di sana.
SMA Garuda selalu dijaga satpam selama 24 jam, Satpam yang berjaga ada 2 shift.
"Sore, Pak," sapa Rayhan.
"Eh, Nak Rayhan. Ada apa, Nak?" balas pak satpam dengan ramah.
Semua orang yang ada di sekolah itu sangat mengenal sosok Rayhan. Selain dia terkenal dengan kepintarannya, dia juga seorang yang ramah dan santun. Dia selalu berbagi pada siapa pun yang membutuhkan.
"Pak, apakah di dalam masih ada siswa?" tanya Rayhan.
"Hah? Siswa. Sepertinya sudah tidak ada, Nak. Nak Rayhan lihat saja, parkiran sudah kosong, dan saya juga udah keliling sebelum jaga tadi. Saya tidak menemukan siapa pun," jawab pak satpam.
Ayah Viona mendengar dengan jelas apa yang dikatakan satpam. Dia juga tahu bahwa putrinya masih berada di sekolah.
Tapi, Rayhan merasa yakin Viona masih berada di sekolah.
"Nak, mungkin Viona tidak ada di sekolah ini." Ayah Viona mulai putus asa.
Bayang-bayang hal buruk terjadi pada putrinya kini menghantui benaknya.
Rayhan terdiam, dia masih ingin melihat keberadaan Viona di dalam sekolah itu.
"Kalau saya mau periksa ke dalam boleh gak, Pak?" tanya Rayhan.
"Silakan," ujar Pak Satpam.
"Nak Rayhan, tidak usah. Kita cari Viona di tempat lain saja," ujar Ayah Viona.
Rayhan tak menggubris apa yang dikatakan oleh ayah Viona karena sesaat dia melihat bayangan seseorang tengah berada di lorong sekolah.
__ADS_1
Dia langsung melangkah masuk mengabaikan ucapan Ayah Viona.
Bersambung...