
Beribu batu dari Kota London.Di Indonesia,tepat dimana tunang Ricardo berada, Marlia sosok gadis yang berambisi tinggi akhirnya berjaya menakluki sosok pria yang amat dicintainya semasa zaman bangku sekolah.
Dia benar-benar tidak menyangka dapat bertemu lagi dengan sosok pria itu setelah menghilang enam tahun lalu.Entah kenapa sosok pria itu seolah-olah candu baginya.Pesona seorang kerabat Agusta yang tidak bisa terpatahkan penampilannya.Sentiasa tampak tampan, mapan, sukses dan tatapan matanya sentiasa meluluhkan hati para gadis menatapnya.
"Rabecca,kamu pikir kamu bisa merebut Richard dari ku?Mimpi kamu!Kapan pun aku gak akan biarkan Rich dalam hidup kamu.Aku akan biarkan kamu menderita seumur hidup kamu.Seperti mana kejadian lapan tahun lalu.Seperti itu juga yang aku lakukan pada kamu kini."Bicara Marlia pada dirinya sendiri.Kedengaran kekehan kuat kamar tidur gadis itu sehingga bergema ke plenjuru kamar tidurnya.
Di lantai bawah,ahli keluarga Arama merasa risau dengan keadaan anak gadis kedua mereka.Keobsesan Marlia terhadap Ricardo semakin parah.Jika buka kerana keadaan mentaliti Marlia kurang baik,Raman tidak mungkin akan menunagkan Marlia dengan Ricardo.Apa lagi dia mengetahui hubungan Rabecca anak penguasa terpengaruh di Kota Z berpacaran dengan Ricardo.Jika Rabecca menggunakan pengaruh ayahnya,sudah pasti dalam hitungan saat,keluarga mereka bisa hancur.
Oleh kerana ketika Rabacca mendapat rawatan di luar negeri,Raman dan ayah Ricardo bersepakat untuk menunangkan Ricardo dengan Marlia walaupun sudah mendapat tentangan hebat dari Ricardo.Manakala Marlia mengancam bunuh diri jika tidak dijodohkan dengan Ricardo.
Dalam keterpaksaan kedua-dua kerabat itu terpaksa menurut permintaan konyol Marlia sehingga mengorbankan kebahagiaan Ricardo dan juga dalam masa yang sama menyebabkan hati Rabecca menderita dengan keputusan mereka.
*******
Cahaya matahari mengintai di sebalik gorden disaat Ricardo bangun waktu pagi.Hari ini dia ada temujanji kencan dengan Marlia.Dalam keterpaksaan dia menuruti kata-kata ayahnya,Rivaldi supaya berkencan dengan Marlia.
"Pah,sudah berapa kali Rich bilang,Rich Gak suka sama Mar.Please,Pah.Jangan paksa Rich.Rich bukan anak-anak kecil perlu lakuin semua ini."Tolak Ricardo tidak terima permintaan Rivaldi.
"Rich,papa tau.Tapi papa mohon.Ini juga berkaitan dengan kesehatan Marlia.Kamu taukan kondisi Mar itu seperti apa.Dia butuh kamu untuk pulih."Ujar Rivaldi memujuk anak lakinya yang semakin kusut dengan kehadiran Marlia sekali lagi dalam hidupnya.
Pemergiannya enam tahun lalu kerna gadis itu terlalu obses dengan dirinya.Biarpun sudah banyak kali dia menolak gadis itu,gadis itu tetap mengekorinya ibarat bayang-bayang.Kemana saja dia pergi,sudah pasti keberadaannya diketahui oleh Marlia.
Marlia butuh dokter.Buka dirinya.Dia merasakan Marlia memerlukan pakar psikiatri.Ada yang gak beres sama otak Marlia.Sejak dari bangku sekolah lagi,gadis itu selalu mengejarnya.Bahkan menggunakan cara yang keji untuk menyingkirkan mana-mana siswi yang dekat dengan Ricardo, terutamanya Rabecca.
Sedang asyik dengan pikirannya sendiri,terasa pundaknya disentuh oleh Rivaldi.Racardo mengeluh berat.
"Pah,Marlia itu butuh psikitari.Dia perlu berobat pah."Jawab Ricardo lemah.
"Papa,harapkan kamu Rich.Bantu Mar untuk pulih."Ujar Rivaldi sama lemahnya dengan putra sulungnya bila menyangkut hal Marlia yang bisa melemahkan semangat untuk bangkit.
__ADS_1
"Pah!.."
Rivaldi cuma meninggalkan Ricardo dengan pikirannya sendiri.Langkahnya juga lemah seperti pikirannya juga.Jika bukan kerana memiliki persahabatan lama terjalin,mana mungkin dia mahu mengorbankan kebahagiaan satu-satunya anak lelaki yang dia harapkan.
Dengan langkah yang lemah,Ricardo meraih kunci mobil diatas meja.Hari ini dia terpaksa berkencan dengan Marlia.Mobil bergerak laju menuju villa Raman.
Setibanya di villa Taman,Marlia sudah pun menanti di gerbang pintu utama villa.Wajahnya begitu cerah,secerah cuaca pagi ini.Dia begitu senang dan puas menanti kedatangan Ricardo akhirnya berkunjung tiba menjemputnya.
Andai kata Ricardo tidak memenuhi permintaannya,dia akan menggunakan nama Rabecca sebagai perisai ancaman buat Ricardo.Dia percaya bahawa Ricardo sanggup buat apa saja asalkan Rabecca dalam keadaan aman.
"Sayang, akhirnya kamu datang juga.Ayo..kita berangkat sekarang."Ajak Marlia dengan sebaris senyuman di bibirnya.Dengan wajah yang terpaksa disenyumkan kearah Marlia,tanpa sungkan dia membuka pintu mobil di sebelah co-driver.
Di dalam mobil,Marlia sengaja merengek manja agar Ricardo memansang tali sabuk pengaman pada tubuhnya.Ricardo hanya menggertakkan giginya dalam diam kerana melihat ulah manja Marlia.Jika satu hari ini dia terpaksa meledani sikap Marlia,entah besok atau lusa dia harus mendapatkan kaunseling dari pakar untuk mendapatkan nasihat agar hatinya tetap bertahan dengan sikap Marlia.
"Sayang,haribini aku mahu meluangkan masa sama kamu.Iamu maukan temenin aku satu hari ini.Kamukan orangnya sibuk.Ntar nanti kamu juga gak punya masa buat aku."Celetuk Marlia sembari mengandeng manja lengan kanan Ricardo.
"Emm.. Terserah kamu."Ucap Ricardo dingin.Matanya sengaja dilontarkan kesebarang arah kerana risih dengan kelakuan manja yang dibuat-buat oleh Marlia untuk menarik perhatiannya.
Sebelum menamatkan kencan mereka,Marlia mengajak Ricardo makan malam di Menara Kristal, restoran termewah di ibu kota yang menyajikan pemandangan indah waktu malam.
Setelah selesai makan malam.Mereka bersiar-siar sebentar di taman yang berdekatan dengan Menara Kristal.
"Rich,thanks kerna udah bikin aku seneng hari ini.Aku bahagia banget.Kamu gimana Rich."Tanya Marlia sebaik saja tiba di taman.
"Emmm.."Guman Ricardo dengan bariton dalam kerna malas meledani pertanyaan Marlia.Dia berjalan terlebih dahulu di hadapan Marlia.Meninggalkan gadis itu selangkah demi langkah.
"Rich!"
Tiba memberhentikan langkahnya,lalu berbalik badan menoleh kembali ke belakang tepat dimana Marlia berdiri di belakangnya tanpa dia sadar tiada seinci pun jarak antara mereka.
__ADS_1
"ccupppp!!!
Ricardo melototkan matanya kerana kaget dengan apa yang Marlia lakukan.Bahkan gadis itu berani mengambil inisiatif sendiri mengucup bibirnya tanpa kerelaannya.
Ricardo menyingkirkan tangan Marlia yang sudah mengcekam kerahan bajunya setelah dia tubuhnya membeku sesaat dengan kelakuan Marlia.
"Mar,kamu!"
"Rasanya amat manis.Rich,kamu itu satu-satunya milik aku.Gak ada sesiapa pun yang bisa merebut kamu dari aku termasuk Rabecca."Ujar Marlia sembari kedengaran kekehan sinisnya.
"Kamu hanya miliki tubuhku,namun bukan hatiku.Kamu lebih tahu hal itu.Baik dari dulu mahupun sekarang.Cinta aku itu tetap satu."Ujar Ricardo dengan tegas tanpa memperdulikan perasaan Marlia lagi.
"Oh ya?Dan aku juga punya seribu cara untuk menyingkirkan dia dari hidup kamu.Walau terpaksa menggunakan cara paling keji."Ancam Marlia dengan wajah yang penuh amarah.
"Mar, kamu!"
Akhirnya Ricardo mengalah diri kerana tiada gunanya berdebat dengan seseorang yang pikirannya tidak waras.
"Iva,semoga kamu baik-baik aja disana.Aku janji setelah perkara ini selesai,aku akan jemput kamu kembali."Bisiknya di dalam hati.
❤️❤️❤️❤️ Bersambung..
*****Salken teman-teman.Jangan lupa ketik:
❤️like
❤️ Komentar
❤️vote
__ADS_1
****Selamat membaca...