MENCINTAIMU BUAT KALI KEDUA

MENCINTAIMU BUAT KALI KEDUA
DILEMA


__ADS_3

Kini sudah setahun usia pertunangan diantara Ricardo dan Marlia berlangsung.Tiada tanda-tanda untuk mengakhir perhubungan itu ke arah yang lebih serius lagi.Sememangnya tidak perlu.Ricardo benar-benar tidak mahu dinikahi dengan Marlia.Dia sudah nekad.Biar apa pun yang terjadi, pernikahan antara mereka tidak seharusnya terjadi sama sekali.


Ricardo menemui Randy.Randylah satu-satunya teman yang sentiasa berkongsi suka duka setelah pemergian Rabecca ke London.Perbincangan antara mereka adalah rahsia.Hanya Randy yang paling memahami Rabecca.Walaupun begitu dia tidak mahu Rabecca mengetahui masalah yang dihadapi kini.


"Ran,aku gak tahu gimana untuk mengakhiri semua insan.Aku sudah coba banyak cara untuk menyingkirkan Marlia.Namun semuanya tetap nihil.Aku bisa jadi sinting jika begini terus."Bentak Ricardo penuh frustasi.


"Gimana aku cari selingkuhan bayaran.Wanita itu harus kuat,pinter akting,dan yang penting harus tau ilmu bela diri.Kamu taukan Mar itu gadis kayak apa?Harus ada candidate yang ada tiga karektor itu."Tegas Randy.


Apa-apa pun konsekuensinya, Ricardo harus membuatkan dirinya sebagai seorang laki-laki yang jahat.Tidak ada lagi erti menurut dan baik jika dalam keadaan dedah separah ini.Marlia harus diberi pelajaran.Dalam erti lain dia patut membantu gadis itu mengendalikan sikap proaktif Marlia.Ricardo merasakan hidupnya seperti dalam penjara.Ibarat burung terkurung di dalam sangkar besi.


"Aku harus melakukan ini.Lambat atau cepat aku harus bawa Marlia berobat."Tekadnya di dalam hati.


*****


Sebaik saja matahari tegak naik,Ricardo mengendarai mobilnya menuju kediaman Marlia.Tujuan untuk menempah ayah Marlia.Ada perkara penting dia harus utarakan kepada Raman.


"Siang paman."Ucap Ricardo sebaik saja bertemu dengan Raman.


"Rich,gak perlu sungkan sama Paman.Lagian kita juga udah kenal lama."Ucap Raman sembari menepuk pundak Ricardo.


"Lalu apa tujuan kamu kemari?Apa ini ada kaitannya dengan Mar?"Lelaki paruh baya itu tampak mengeluh.Di hujung bibirnya menghela napas yang berat.Bukan hanya Ricardo saja yang kawatir tentang kondisi Marlia.Bahkan seluruh keluarga Arama dan Agusta yang tampak kawatir.


"Lalu apa saranan kamu."Ujar Raman dengan bibir yang berat untuk berbicara.


"Paman,aku sudah mencari dokter psikologi terbaik di Asia.Aku pasti Marlia bisa sembuh."Ujar Ricardo dengan wajah yang datar.

__ADS_1


"Rich, kesehatan Mar adalah yang terpenting buat paman.Kamu juga tahu bukannya paman gak pernah usaha.Hanya saja Mar yang terlalu keras kepala.Kamu mengenal Mar sudah lama.Kamu pasti ngerti dia seorang kayak apa."Ucap Raman pelan.Ada keluhan berat terlepas dari dada seorang ayah.Dilema yang harus dia hadapi sejak kian lama.


"Paman,Rich janji akan bantu Mar sihat kembali."Ucap Rich lirih.Hari ini dia sudah berrencana untuk membawa Marlia ke tempat awal perkenalan merekha sewaktu masih lagi di bangku sekolah.Hanya mengingatin kisah lampau,berharap agar Marlia sadar akan kesilapannya di masa lalu.


*****


"Rich,makasih ya kerna mengembalikan masa lalu aku sama kamu.Aku amat bahagia sekali."Ucap Marlia sembari mengandeng lengan Ricardo.


Ricardo menghela nafas panjang.Dia berbalik badan menghadap badan Marlia.Kedua-dua sisi pundak Marlia dicengkam kemas.Menatap wajah sang tunang dengan pandangan redup tidak berperasaan sama sekali.


"Mar,kita sudah saling kenal lebih dari sepuluh tahun.Cinta kita dimasa lampau itu gak sama dengan cinta kita masa dewasa.Namun kamu menganggapnya cinta mati sedangkan kamu tidak tahu apa kemahuan hati kamu.Kamu itu terlalu obsesi tentang cinta sehingga kamu buta melihat yang lainnya."Ucap Ricardo dengan penuh hati-hati.Salah percakapan mengundang bahaya dan duka.


"Apa kau masih mengingati masa lalu mu sama Iva?Jika begitu kita sama saja.Mengharapkam sesuatu yang tidak pasti menjadi milik kita.Tapi tidak bagi aku.Aku sudah miliki kamu.Itu kebenarannya."Tegas Marlia.Tinjunya dikepal erat.Rasa benci pada Rabecca semakin memuncak.


Enam tahun kemudian dia bertemu kembali pada sosok pria itu.Sekali lagi cintanya tumbuh kembali.Bukan dia tidak coba mencintai orang lain.Dia pernah mencoba namun cintanya itu seakan-akan hambar tanpa sirna.Ada sesuatu yang hilang dari hatinya.Dia sengaja mencari cara untuk mendapatkan Ricardo.Bukan kerna dia mengalami masalah mentaliti seperti keluarganya katakan.Hanya saja dia yang berulah.


"Kamu salah Mar.Apa kamu tetap mahu bersama denganku sedangkan hatiku milik orang lain.Apa kamu sanggup meniti hari-hari kamu sepanjang hidup kamu di bawah bayang seseorang yang tidak bisa mencintai kamu.Dan apakah kamu sanggup mendengarkan rintihan suaraku setiap malam jika waktu itu aku menyebut nama wanita lain dalam igauan aku tapi bukan nama kamu.Apa kamu sanggup menahan derita itu sepanjang hidup kamu?"Ujar Ricardo tanpa henti.Hari ini dia harus meluahkan segala-galanya pada Marlia.Dia tidak mahu melukakan hati Marlia sedangkan dia benar-benar tidak menyintai gadis itu.


"Aku sanggup Rich.Asalkan aku sentiasa di sisi kamu selamanya."


"Salah Mar.Itu tetap saja salah.Mencintai itu tidak selalunya memiliki.Dulu kita berteman.Kamu tetap memiliki aku sebagai teman.Itu lebih baik dari kamu mengharap sesuatu yang belum tentu ada imbalannya.Aku lelah seperti ini terus Mar.Aku lelah."Ucap Ricardo lalu meraup wajahnya dengan kedua-dua tapak tangannya sembari duduk di kerusi berdekatan padang sekolah.


Ada manik-manik jernih mengalir dari pelupuk matanya.Begitu Marlia melihat laki-laki dicintainya itu sedemikian rupa,betapa dia menyesal tiada kesudahan dari hatinya sehingga merutuk dirinya kerana berlaku kejam terhadap Ricardo.


Dengan tangan yang terketar-ketar,dia meraih wajah Ricardo dan mengelap sisa air mata itu dengan tapak tangannya.

__ADS_1


"Rich,I'm sorry.I'am so sorry.Aku terlalu keras dengan kamu sehingga tidak memperdulikan perasaan kamu.Aku terlalu kejam sama kamu.Aku akui cemburu pada Iva,sedangkan dia tidak pernah berdendam sama aku.Aku buta kerna sikap tamak dan obsesiku terhadap kamu.Aku...."


Belum sempat dia menghabiskan kata-katanya,Ricardo merangkul tubuh Marlia ke dalam pelukannya.


"Aku tahu Mar.Aku maafin kamu.Bukan kerna kita sudah lama menjadi teman,tapi kerna kamu jujur sama aku tentang apa yang kamu lakukan selama ini.Kita masih tetap berteman walaupun kita tidak mempunyai jodoh sebagai pasangan suami isteri."Ucap Ricardo lagi.


Kini hatinya lega.Segala permasalahan telah diselesaikan.Biarpun dia tidak pasti dengan hasilnya,dia tetap mahu mencoba.Dia tidak mahu andai kata dia dan Marlia benar-benar sudah menikah,gadis itu akan semakin tenggelam dengan sikap cemburu dan dendam pada sesiapa yang coba untuk memiliki dirinya nanti.


"Mar,makasih ya,kerna mengerti akan aku."Ucapnya dengan lirih.


"Iva, wait for me.Aku akan cari kamu nanti untuk memperjelaskan semua kekeliruan ini serta kesalahpahaman di antara kita.Tolong, tungguin aku sayang?"Bisiknya di dalam hati dengan penuh rasa bahagia dan gembira yang tak terungkapkan.


❤️❤️❤️❤️ Bersambung...


*****Jangan lupa dukung karya Author ya.Cuma ketik:


❤️like


❤️ Komentar


❤️ Rate


❤️vote


*****Selamat membaca..

__ADS_1


__ADS_2