Mencintaimu Satu

Mencintaimu Satu
10. Supaya Kamu Mengingatku Lagi


__ADS_3

Sekolah adalah rutinitas yang wajib dijalankan tiap hari. Saat sarapan teringat kata-kata Tasya kemaren. Mama yang memperhatikan Kiuw dari, bingung melihat Kiuw hanya meaduk-aduk sarapanya tanpa dimakan.


"Qy! panggil mamanya, tapi Kiuw tidak menghiraukan. Mamanya manggil lagi tapi tetap tidak dihiraukan, "Qy...!" panggil mamanya lagi dan ini yang ketiga kalinya.


"Mama kenapa teriak-teriak panggil Qy?" jawab Kiuw tanpa rasa bersalah.


"Kamu kenapa Qy?


"Gak apa-apa ma. Qy mau telfon Tama deh minta jemput."


Kiuw langsung mengambil ponselnya dan menelfon Tama. Kiuw menunggu berapa saat.


Tut... tut... tut...


Tut... tut... tut...


"Hallo Tama! kamu lagi di mana?" pas telfonnya sudah dijawab Tama.


"Aku masih lagi di rumah nih Qy."


"Hkmmm... jemput aku dong...! apa kamu mau?" penuh harap.


"Tentu! aku akan ke sana sekarang yah...!" dengan nada semangat.


Kiuw merasa senang mendengar jawaban Tama menjadi senyum-senyum sendiri dan siap-siap berangkat sekolah. Menunggu Tama di teras. Lima menit kemudian Tama datang di rumah Kiuw. Ketika Kiuw melihat Tama dia langsung tersenyum.


"Pagi Qy," sapa Kiuw sudah didekatnya.


"Pagi juga Tama," balas Kiuw dengan wajah yang berseri-seri.


"Yuk! berangkat, pakai helmnya dan pegang aku!" perintah Tama.


"Iya!"


Dijalan Kiuw hanya menikmati perjalan melihat pemandangan dijalan anak-anak SD yang beriringan pergi sekolah. Banyak sekali pemandangan yang selalu Kiuw lewati jika mengendara sendiri. Kali ini menghirup udara sejuk dipagi hari bisa Kiuw rasakan. Hembusan angin menerpa wajah Kiuw. Dua puluh menit diperjalan baru mereka sampai di sekolahnya.


Di parkiran sekolah.


"Tama! pulang sekolah kita pergi jalan-jalan nanti yah. Ada yang aku omongin sama kamu," pinta Kiuw sambil memandang wajah Tama.


"Oke! boleh kok. Nanti kita kemana?"


"Ada deh!" dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Baiklah ku tunggu kejutannya."


Tama dan Kiuw jalan beriringan masuk kelas. Saat ini ada sepasang mata yang melihat tidak suka dengan apa yang dilihat itu.


"Awas! kamu Kiuw akan ku rebut Tama darimu." umpatnya untuk diri sendiri. Orang itu adalah Tasya yang cemburu melihat Kiuw begitu akrab dengan Tama. Dia langsung pergi dari tempat itu menuju kelasnya.


*****


Tama dan Kiuw menuju pakiran saat jam pelajaran sudah berakhir. Ternyata di pakiran sudah ada Tasya yang menunggu Tama dekat motornya.


"Tama! aku dah dari tadi nunggu kamu di sini," ungkap Tasya sangat girang.

__ADS_1


"Oh-ya, kenapa kamu nunggu aku?" jawab Tama santai saja.


"Apa kamu tidak ada niatan untuk minta maaf padaku?" tanya Tasya berharap Tama akan mengacuhkan dia.


"Tidak tuh, kenapa aku harus minta maaf sama kamu?" mendengar jawaban Tama seperti itu Kiuw hanya tersenyum saja ke arah Tasya. Tasya nampak kesal terhadap Kiuw.


"Kemaren kamu ninggalin aku di kafe sendirin dan suruh pulang dengan ojek. Kamu tahu gak ongkos yang kamu tinggalkan untukku hanya uang lima ribuan. Mana aku harus bayar makanan lagi, jadi sebagai gantinya kita harus pergi kencan lagi. Karena kemarin ada perusuh yang ganggu acara kita."


"Mungkin, lain kali saja Tasya," dengan nada enteng Tama menjawab seperti itu. "Hari ini aku mau pergi sama Qy. Bye Tasya!" Tama naik keatas motornya. " Yuk! Qy," ajak tama ke arah Kiuw.


"Tapi Tama!" bantah Tasya.


"Maaf Tasya aku harus pergi," Tama menjalankan motornya dan meninggalkan Tasya sangat kesal.


"Aku tak akan pernah iklas melihat mu bahagia dengan Tama. Lihat saja nanti Kiuw, aku akan balas." batin Tasya.


*****


Tama dan Kiuw sudah sampai di tempat tujuan mereka. Tama yang melihat itu sangat takjub melihat keindahan pemandangan yang dia lihat.


"Yuk! Tama kita naik di atas batu itu," Kiuw langsung naik keatas batu besar itu dan meletakan minuman dan snack yang mereka beli tadi. "Tama yuk naik!"


"Iya, tunggu aku."


Mereka menikmati angin sepoy-sepoy dan ombak yang terus berlarian ketepi pantai.


"Tama! ini adalah tempat kamu ungkapkan perasaan kamu ke aku," ungkap Kiuw pada Tama yang masih memakan snacknya.


"Oh-ya, Aku gak ingat sama sekali. Maaf!" dengan nada sangat menyesal.


"Qy," panggil Tama, "maafkan aku! Aku tidak bisa mengingatmu begitu baik Qy. Aku memang rasanya memiliki sesuatu terhadapmu, tapi entah apa aku juga tidak tahu."


"Tidak apa-apa Tama aku mengerti keadaanmu maka dari itu, aku akan membuatmu untuk ingat semuanya lagi. Kamu tahu gak Tama, di sini dulu kamu mengajak aku dan menyatakan perasaan mu padaku," jelas Kiuw dengan hati-hati.


Kiuw melihat Tama nampak berfikir keras. "Sudah jangan terlalu memaksa untuk mengingatnya. Kita akan mulai semua dengan pelan-pelan supaya kamu tidak terlalu terbebani."


"Makasih Qy?"


"Aku mau tanya kenapa kamu panggil aku, Qy?" Kiuw menatap wajah Tama dengan sesama.


"Karena aku merasa lebih dekat dengan nama Qy itu," Jelas Tama tanpa fikir panjang.


"Di sini juga ciuman pertama kita," kata Kiuw lirih dan langsung mecium bibir Tama lembut. Tama melihat itu sontak terkejut melihat Kiuw lebih dulu menciumnya. Karena tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Tama langsung membalas ciuman Kiuw lembut. Saat ciuman berakhir Kiuw nampak merona.


"Oh-ya, dulu kamu juga manggil aku, Qy. Ya, sudah kita main air yuk," ajak Kiuw dan berdiri untuk turun dari batu tersebut. Untuk menghilangkan rasa gugupnya saat ini.


Tama mengikuti langkah Kiuw untuk turun dan bermain air di tepi pantai. Sore yang indah untuk hari ini langit ikut tersenyum melihat meraka. Sudah tidak terasa bagi mereka hari sudah beranjak semakin sore. Warna jingga dilangit begitu indah dilihat saat ini.


Saat ini Tama dan Kiuw sedang berfotoria mengabadikan momen-momen yang mereka ciptakan. Meski semua sulit dilupakan tapi ini akan jadi kenangan terindah untuk mereka.


"Kiuw kita pulang yuk! nanti terlalu malam kita pulang.


"Ya udah yuk! aku mau ambil tas dulu yah."


"Biar aku aja yang ngambil, kamu tunggu saja di bawah."

__ADS_1


"Oke!"


Saat Tama mengambil tas mereka di atas batu. Tiba-tiba potong-potongan masa lalu melintas difikiran Tama. Bayangan-bayangan kisah terlihat samar-samar hanya suara agak begitu jelas.


"Tama! Tama! Tama! Tana! kamu kenapa?" panggil Kiuw agak berteriak.


"Qy, kamu kok di sini? aku kan sudah suruh tunggu kamu di bawah saja."


"Tama sayang," panggil Kiuw lembut membuat hati Tama menghangat. "Aku sudah manggil kamu dari tadi, tapi kamu tidak menyahut aku. Jadi, aku merasa khuwatir, takut-takut sakit kepalamu kambuh lagi seperti dulu," jelas Kiuw dengan nada khuwatir.


"Aku tidak kenapa-kenapa kok, Qy. Aku Oke!"


"Ya udah, yuk kita turun," Tama hanya menjawab dengan anggukan saja.


Mereka sampai di rumah Kiuw sudah habis magrib, Tama mengantarkan Kiuw sampai depan pintu rumahnya.


"Qy aku pulang dulu ya."


"Kenapa gak ikut masuk saja."


"Lain kali saja Qy, lagian aku juga mau istirahat."


"Ya sudah, hati-hati dijalan yah. Sampai ketemu besok."


*****


Tama telah sampai di rumahnya, saat ini dia sedang berada di kamarnya. Tama mengambil buku harian yang berada di dalam laci meja belajarnya dan membawanya keluar. Tama berdiri di balkon sambil mengingat-ingat kejadian yang berputar di otaknya dan persamaan yang ada di buku tersebut.


"Jika, kami bahagia waktu itu. Kenapa kami harus berpisah untuk waktu yang lama. Hatiku ingin bersama Qy, tapi tubuhku tidak bisa berkerja sama dengan hatiku. Perasaan ini tiba-tiba saja datang di fikiranku," Tama terus mencari jawbannya, tapi tidak menemukannya. Ponsel Tama berdering dan itu membuat Tama tersadar dari lamunannya.


"Hallo," jawab Tama ketika sudah tersmbung dengan orang di seberang sana.


"Hai Bro, ada acara besar. Taruhannya fantastis, uang tunai dan kencan sama cewek cantik," terang orang di seberang sana kepada Tama.


"Bagus enggak? Nanti cantik kata lo saja, eh, nyatanya...."


"Kali ini oke!" cepat memotong ucapan Tama.


"Oke! Aku ambil."


"Oke Bro, aku tunggu di tempat biasa," Tama mengakhiri sambungan telfon dan masuk ke kamarnya. Tama langsung merebahkan badannya ke kasur dan Tama tersenyum.


"Aku akan melakukannya lagi. Aku belum bisa berhenti," ucap Tama dalam hati.


*****


Meski begitu banyak masalah menghadang


Jika berjodoh pasti akan


Ditemukan jua


Jangan pernah salahkan takdir Tuhan!


-Tama & Kiuw-

__ADS_1


__ADS_2