Mencintaimu Satu

Mencintaimu Satu
28. Masih Terasa Mimpi (End)


__ADS_3

Happy Reading!!!


*****


Kiuw sekarang berada di dalam pengantin yang telah disediakan. Dari awal Mamanya memberi tahu kalau dia akan menikah dengan anak rekan bisnis Papanya. Kiuw sudah tidak bisa tenang lagi. Tapi, kejutan itu juga belum berakhir ketika akad. Ternyata, orang yang membacakan ijab kabul untuknya adalah Tama.


"Astaga! Aku benar tidak bisa bayangkan. Jika, aku menikah orangnya selain Tama. Kami dibully keluarga sendiri," Kiuw bicara pada dirinya sendiri. Kiuw sedang dudu di meja rias sendiri, karena di luar masih banyak rekan kerjanya.


"Aku harus bagaimana sekarang? Aku kan jadi kikuk gini. Lebih baik aku tidur saja dulu, aku nggak sanggup sekarang harus bertemu Tama sekarang," Kiuw masih bicara dalam hatinya.


Kiuw bergegas ke kamar mandi dan mengganti baju. Selesai di kamar mandi, Kiuw bergegas naik ke atas tempat tidur. Kiuw mencoba memejamkan matanya, tapi matanya tidak bersahabat malah sekarang dia bisa tidur.


Sudah hampir satu jam lebih Kiuw mencoba memejamkan matanya. Tapi, matanya masih tidak bisa dilelapkan. Tidak lama setelah itu terdengar suara pintu dibuka. Kiuw yakin itu Tama yang masuk, Kiuw kembali memejamkan matanya. Pura-pura tidur, itulah yang bisa dia lakukan sekarang.


Tama masuk ke kamar, sudah melihat Kiuw sudah tertidur nyenyak. Meski awalnya Tama merasa kecewa, tetapi melihat kenyataan Kiuw sudah menjadi miliknya seutuhnya. Tama sudah keras bersyukur dan tidak takut lagi Kiuw akan pergi jauh.


Tama mengambil mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Tama keluar dengan handuk melilit di pinggangnya dan bagian atasnya bertelanjang dada. Kiuw yang sedari tadi pura-pura tidur, sangat kaget melihatnya.


"Mataku tercemari," Teriak Kiuw dalam hati, "seharusnya aku tidak menghadap sebelah sini," tapi sudah terlanjur nasi sudah jadi bubur.


Tama mengganti bajunya dan memakai celana pendek. Tama naik ke atas tempat tidur, Kiuw juga merasakannya. Jantung Kiuw sudah tidak kompromi lagi, jantungnya berdetak kencang. Padahal meraka sudah sering tidur bersama, walaupun tidak melakukan apa-apa.


Kali ini berbeda, Kiuw merasakan getaran yang sangat aneh sekali. Tama masuk ke dalam selimut dan yang tidak di duga Kiuw. Tama mencium kening Kiuw dengan lembut.


"Selamat tidur sayang. Aku bahagia telah memilikimu, meski awalnya aku berencana akan kabur dipernikahan kita. Maaf, bukan maksudku tidak mau menikah denganmu, tapi aku sunggu tidak tahu kalau keluarga kita merencanakan ini semua," ucap Tama pelan sambil memandang wajah Kiuw.


"Mimpi indah sayang," ucap Tama lagi. Tama merabahkan tubuhnya dan membawa tubuh Kiuw dalam pelukannya.


"Kamu pasti capek, mudahan pelukan ini bisa membuat benar-benar tertidur," ucap Tama lagi.


Deg!


Ternyata, Tama tahu kalau Kiuw pura-pura tidur. "Jangan fikirkan yang lain dulu. Aku tidak akan memaksa kamu, jika kamu belum siap," sambil mempererat pelukannya.


Deg!


Tebakan yang benar lagi. Kiuw hanya tersenyum dalam pelukan Tama dan nemejamkan matanya.


"Pelukan yang bikin nyaman," pikir Kiuw.


*****


Pagi-pagi sekali Kiuw sudah bangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa berat, ternyata itu tangan dan kaki Tama. Kiuw tidak habis dikit, Tama menjadikannya sebagai bantal guling.


Kiuw mencoba mengangkat tangan Tama dengan pelan-pelan, supaya tidak membangunkan orang yang punya tangan. Tanya sudah lepas, sekarang tinggal kaki. Tama mencoba mengangkat kakinya pelan dan akhirnya terlepas juga. Kiuw segera pergi ke kamar mandi. Rutinitasnya tiap pagi yang tidak pernah absen.


Keluar Ndari kamar madi Kiuw masih melihat Tama masih tertidur. Kiuw berencana mau membeli sarapan untuk Tama keluar. Kiuw mengambil dompetnya dan pergi ke luar.


Tama bangun dan tidak melihat Kiuw ada di sampinya, Tama langsung bergegas mencuci mukanya dan mencari Kiuw. Tama tidak melihat Kiuw ada di dalam kamar mereka dan Tama berinisiatif akan mencari Kiuw keluar. Saat Tama membuka pintu, Tama melihat Kiuw sudah berdiri di depan pintu juga. Sontak, Tama langsung memeluk tubuh Kiuw.


"Ku kira kamu akan meninggalkan aku," kata Tama lirih.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Siapa yang akan meninggalkanmu?" jawab Kiuw bingun.


"Jangan tinggalkan aku," mempeerat pelukannya.


"Aku hanya beli sarapan untuk kita," mencoba menenangkan Tama


.


"Lain kali kalau kamu pergi keluar, harus pergi bersamaku. Aku tidak akan mengijinkan kamu pergi sendiri lagi."


"Iya iya, aku akan selalu bersamamu. Sekarang kita masuk, karena aku sudah lapar," bujuk Kiuw. Tama melepaskan pelukannya dan mengiring Kiuw masuk ke dalam.


"Aku tadi mencari sarapan dekat gedung dan bertemu dengan penjual bubur ayam. Orang yang beli banyak banget, makanya aku lama."


"Pokoknya apapun itu, kalau kamu mau pergi harus bersama aku. Aku gak mau tahu."


"Iya, baiklah."


Kiuw menghidangakan bubur ayam untuk Tama dan untuk dirinya juga. Tama sangat senang sekali, karena sekarang Kiuw sudah menjadi miliknya. Tama berjanji akan menjaga Kiuw dengan sepenuh hatinya.


"Oh-ya, kita akan pindah ke rumah kita sendiri nanti yah," saat mereka sudah menyelesaikan sarapannnya.


"Sejak kapan kita beli rumah?" tanya Kiuw.


"Aku yang beli, untuk kita berdua dan anak-anak kita nanti," jawab Tama sambil tersenyum. Kiuw jugabikut tersenyum, tapi ketika mendengar kata anak Kiuw menjadi merinding.


Suangnya mereka sudah sampai disebuah rumah yang asri dan sederhana. Kiuw tidak menyangka bahwa Tama tahu saja seperti apa rumah idamannya.


"Apa kamu suka," tanya Tama.


"Syukurlah, kalau kamu merasa suka. Sekarang kita masuk ke dalam," Tama membimbing Kiuw masuk ke dalam.


Sampai di dalam, sekali lagi Kiuw merasa terkagum. Dekor yang di buat Tama, mewah, tapi terkesan sederhana.


"Tama kamu memang yang terbaik," ungkap Kiuw dan mencium bibir Tama singkat. Tama yang mendapatkan ciuman yang secara mendadak juga sangat kaget.


"Kamu cium aku?" tanya Tama masih dengan expresi polosnya.


"Gak, aku nampil kamu," Kiuw kesal mendengar pertanyaan Tama. Sudah jelas itu, dia mencium Tama, masih juga nanya.


Tama yang mendengar Kiuw kesa. Langsung memeluk tubuh Kiuw dan mencium bibir Kiuw lembut.


"Aku mencintaimu," bisik Tama lembut dan ******* bibir itu lembut.


Awalnya memang ciuman lembut, tapi lama kelamaan ciuman itu berubah dengan ciuman yang menuntut. Sekarang tubuh Kiuw sudah berada dalam kukungan Tama di sofa ruang tamu.


Tama terus memberi ciuman yang menuntut dan tangan yang sudah menari di tubuh Kiuw.


"Tama, aku mau pipis," ungkap Kiuw disela ciuman mereka.


"Jangan ditahan lepaskan saja," sesuai permintaan Tama, Kiuw melaspan apa yang dia rasakan.

__ADS_1


Tama kembali mencium bibir Kiuw, yang baru saja mendapat pelepasan pertamanya. Tama mengangkat btubuh Kiuw dan membawa ke dalam kamar yang dekat dengan ruang tamu. Enggak etiskan mau malam pertama, masa di sofa.


Sesampai di kamar Taam langsung meletakan tubuh Kiuw dengan lembut dan kembali mencium bibi Kiuw. Tama mengangkat baju ke atas dan lolos di kepalanya. Tama membuang baju dan semua pakaian Kiuw kesembarangan arah. Setelah itu baru dia membuka baju yang dipakainya.


"Aku ingin memilikimu seutuhnya," bisik Tama di telinga Kuiw, sambil mencium daun telinganya. Kiuw yang sudah dikuasai nafsunya bisa menuruti permintaan Tama. Dia sudah melupakan ketakutan yang dibayangkannya.


Tama yang sudah mendapa lampu hijau, kembali mecium bibir Kiuw. " Aku akan melakukannya dengan pelan-pelan.


*****


Hari sudah mulai gelap, sepasang pengantin baru masih terlelap dibtidurnya dengan nyenyak. Tiba-tiba Kiuw bangun dan merasakan haus, tapibketika dia mau berdiri Kiuw merasakan sakit di bagian intimnya.


Kiuw baru sadar dia sudah menyerahkan apa yang berharga pada dirinya kepada Tama. Kiuw melihat ke sampinya, Tama yang masih terlelap dama tidurnya. Kiuw melihat di sekeliling baju yang berserakan dilantai. Rasa haus yang tidak bisa diajak kompromi, mau tidak mau Kiuw membangunkan Tama.


"Tama, bangun," sambil menoel-noel pipi Tama.


"Ada apa, Qy?" tanya Tama dengan suara serak.


"Aku mau minum, soalnya mau ambil sendiri, aku merasakan sakit," Tama yang mendengar kata sakit langsung duduk.


"Apa yang sakit?" tanya Tama panik. Dengan malu-malu Kiuw menunjukan kepada Tama. Kali ini Tama terkejut dan merasa bersalah.


"Maafkan aku," ungkap Tama menyesal.


"Tidak apa-apa. Sekarang tolong aku mengambil air minum."


"Baikalah," Tama pergi keluar untuk mengambil air untuk Kiuw.


Tidak lama, Tama kembali dengan membawa air minum untuk Kiuw dan duduk di samping Kiuw.


"Apa masih sakit?" Kiuw hanya menganggukkan kepalanya.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu."


"Jangan seperti itu. Kamu tidak menyakiti aku, aku senang sekang bahwa akubsudah menjalankan tugasku sebagai istri, meski aku tidak sempurna. Jadi, kaku uangan merasa bersalah, nanti akan hilang sendiri."


"Baiklah. Sekarang minum airnya," Kiuw meminum airnya dan meletakkan gelasnya di atas nakas.


"Aku mau makan kamu lagi," perkataan ambigu Tama, tidak di mengerti Kiuw.


"Aku menginginkan kamu lagi," bisik Tama dan menggigit daun telinga Kiuw.


"Mesum."


"Biarin," Tama langsung ******* bibir Kiuw.


*****


"Cinta aku telah memilikimu seutuhnya


Aku tidak akan membiarkan kamu pergi jauh dari ku lagi

__ADS_1


Karena itu tidak akan bisa membuatku berpaling dari mu ."


-Tama-


__ADS_2