Mencintaimu Satu

Mencintaimu Satu
22. Lukaku


__ADS_3

Kiuw membalas ciuman Tama dengan kasar, untuk menyalurkan rasa sakit yang di rasakannya. Ciuman mereka berakhir ketika mereka sama-sama tidak memiliki pasokan oksigen lagi.


"Masih sama," bisik Tama dan melumat bibir Kiuw lagi. Sekarang Kiuw membalasnya dengan rasa kerinduan.


"Aku merindukanmu," bisik Tama disela-sela ciuman mereka. Tama mengalihkan ciumannya keleher Kiuw. Rasanya Kiuw sudah sudah tidak sanggup lagi berdiri lagi, kakinya sudah terasa berubah seperti jeli.


"Tama kita tidak seharusnya begini," ucap Kiuw pelan ketika ciuman mereka berakhir dan mencob melepaskan tangan Tama yang berada di pinggangnya.


"Why not?"


"Kita sudah tidak bersama lagi. Seiring waktu semua mungkin telah berubah," Kiuw terus mencoba lepas dari Tama.


"Apa itu hatimu yang berbicara? Aku tidak merasakan semua berubah, masih tetap sama. Masih Qy, punya aku dan aku tidak merasakan perubahan," Tama masih dengan pendirian.


"Itu hanya penilaianmu saja," Kiuw masih mencoba melepaskan diri dekapan Tama. "Aku sekarang bukan Qy yang kamu kenal dan aku juga tidak mau lagi untuk membuka lamaku. Jadi, sekarang lepaskan tanganmu dari tubuhku dan seandainya kita bertemu kembali mari kita tidak saling kenal. Lepas!" Kiuw menyentak kan tangan Tama dari pinggangnya.


Tama yang tidak siap dengan perkataan Kiuw, terpaksa melepaskan tangannya.


"Qy, aku tidak akan melepaskan begitu saja," ketika Kiuw sudah membalikan badannya. "Berapa tahun terakhir aku berjuang mendapatkan semuanya, setelah aku dapatkan dan juga bertemu kamu di sini. Itu adalah hal mustahil bagiku untuk membiarkan kamu pergi lagi," Tama menarik nafasnya dalam-dalam.


"Qy, aku akui aku memang salah. Entah, berapa banyak salah yang telah aku perbuat kepadamu. Mungkin, benar dengan kata maaf saja tidak akan merubah segalanya. Merubah sakit yang kamu pendam sangat lama. Mulai dari aku meninggalkanmu yang menuduhmu selingkuh, meninggalkanmu dan menerima perjodohan yang dibuat Mama aku. Meninghiati cintamu berkali-kali dan menyalah gunakan kepercayaan antara kita. Aku kembali dengan melupakanmu kenangan dan perjuangan cinta kita. Tapi, kamu tetap peduli denganku, mencintaiku, dan berusaha untuk aku supaya bisa mengingat kenangan kita kembali."


"Aku kembali menghianati semua kamu berikan kepadaku. Aku salah Qy, aku sangat salah. Aku mohon kepadamu beri aku kesempatan terakhir," Tama langsung bersujud di kaki Kiuw. Kiuw yang melihat Tama seperti itu, langsung menyuruh Tama berdiri kembali.

__ADS_1


"Jangan seperti itu, Tama," ketika Tama sudah berdiri kembali.


"Aku harus bagaimana lagi. Kamu tidak mau memaafkan aku," jawab Tama pelan.


"Tapi, tidak seperti itu juga," Kiuw tidak sanggup lagi menatap wajah Tama. Saat ini Tama juga sudah menangis.


"Aku harus bagai mana? Aku sudah lama menunggu saat-saat seperti ini. Bertemu denganmu menatapku kembali. Meski, aku sudah tidak pantas lagi berada di depanmu. Aku cukup lama menyiapkan perasaanku bertemu denganmu."


"Tama."


"Oke! Baikalah. Jika, kamu tidak menginginkan aku lagi. Sekarang maaf darimu sudah cukup. Aku... aku akan mencoba untuk menghapus semua. Meski, untukku itu tidak mungkin. Kamu sudah bahagia, tanpa aku. Kamu boleh pergi aku tidak akan menahanmu."


Kiuw langsung membalikan badannya dan meninggalkan Tama. Tama yang melihat kenyataan bahwa, Kiuw lebih memilih pergi dari pada kembali padanya hanya bisa menangisi semuanya.


Tama keluar dari penthause-nya untuk mencari udara segar. Berharap bisa menghilangkan beban pikiran dan perasaan yang begitu sesak terasa. Tidak tahu arah, akhirnya kakinya membawa Tama ke tempat hiburan yang berada tempat dia menginap.


Tama sudah duduk di depan meja batender dan memesan minuman di sana. Satu tegukan terasa melegakan, dua tegukan terasa lepas, dan tiga tegukan terasa bebas.


"Ini sangat melegakan," fikir Tama dan tersenyum miris dengan kenyataan.


Sekarang sudah tidak terhitung lagi, berapa tegukan alkohol yang Tama minum. Tama sudah bebas, tanpa beban pikiran. Tama benar-benar bebas.


*****

__ADS_1


Sudah tengah malam Kiuw juga tidak bisa memejamkan matanya. Kejadian siang tadi sungguh telah mengusik hatinya. Sakit terasa, luka lama terbuka kembali, tapi melihat Tama seperti itu, Kiuw jadi tidak enak hati.


"Aku harus bagai mana lagi? Aku belum bisa melupakan semua. Sangat sakit terasa bagiku," Kiuw terus berperang dengan hati dan pikirannya.


Satu sisi Kiuw belum sanggup untuk sakit lagi dan satu sisi lagi ternyata bertemu Tama, masih membuat jantungnya berdebar tak menentu. Kiuw, sekarang tidak bisa pungkiri bahwa dia masih menyimpan rasa.


Kiuw, turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar menuju dapur. Kiuw saat ini sedang membuat susu, karena dia rasa kalau sudah minum susu, pasti bisa tidur. Setelah meminum susu, Kiuw kembali ke kamarnya dan mencoba tidur kembali.


Sudah satu jam setelah minum susu, ternyata Kiuw belum bisa memejamkan matanya.


"Huf, akubgarus bagaimana lagi. Aku terus kepikiran dia," keluh Kiuw dalam hati.


"Tama, kenapa kamu harus datang. Aku ingin mencoba kata move on, walau itu sulit. Aku harus lewati semua. Semangat! Tapi, tunggu dulu, kurasa ada yang ku lewatkan. Tadi, dia bilang kembali menghianati. Apa mungkin? Apa mungkin dia mengigat semuanya? Oh, itu tidak mungkin! Berarti tadi memang Tamaku yang datang. Tunggu, apa mungkin? Aaaaghh!"


*****


"Aku menjemputmu


Tapi aku kembali tanpamu


Akan ku tinggalkan kenangan kita di sini


Dan tidak akan kembali

__ADS_1


-Tama-


__ADS_2