
Kiuw telah mengantar sahabatnya pulang, tiba-tiba saja mobil yang dia kendarai bannya bocor. Kiuw melihat keri-kanan untuk mencari kendaraan umum, tapi yang dicari dan yang ditunggu itu tak kunjung datang. Tiba-tiba ada motor sport berhenti di depannya, karena yang mengendarai menggunakan helm hitam, Kiuw tidak begitu mengenalinya.
"Ada apa Neng, mogok yah?" tanya orang itu sambil buka kaca helmnya. Kiuw begitu familiar dengan suara itu.
"Tama!" agak terkejut dengan kedatangan Tama yang tiba-tiba
"Iya, butuh tumpangan?" tawar Tama masih dengan senyum yang menggoda.
"Tidak!"
"Yakin tidak? Di sini terkenal loh dengan pembegalan yang sadis," Tama mencoba menakut-nakuti Kiuw. Kiuw yang mendengar penjelasan Tama jadi agak ngeri, mana hari sudah mulai sore.
"Yakin, tidak butuh tumpangan?" tanya Tama lagi.
Kiuw berfikir positif dan negatifnya kalau ikut dengan Tama. Meski, banyak yang negatifnya menurut Kiuw. "Ya sudah kalo gak mau ikut, aku pulang dulu," Tama menghidupkan motornya dan sidikit menggasnya.
"Tama! aku ikut," ungkap Kiuw.
"Nih pakai," menyodorkan helm ke Kiuw.
Di atas motor awalnya ada rasa kecanggungan antara mereka. Kiuw juga pengen nanya apa yang ada di otaknya.
"Tama!" panggil Kiuw agak keras karna kalau pelan pasti Tama tidak dengar.
"Iya, ada apa?"
"Hkmmm... apa kamu tidak kenal aku?"
"Ya, tentu aku kenal. Kalau tidak kenal kenapa aku harus repot-repot beri tumpangan sama kamu."
"Maksudku bukan itu, ya udah lupain saja. Ohya di depan berhenti yah," pinta Kiuw.
"Oke!"
__ADS_1
Tama menghentikan motornya pas depan rumah Kiuw, "Tama masuk dulu ku bikinin minum deh."
"Gak usahlah Qy, aku ada janji sama teman aku. Lain kali saja aku pasti akan minum, minuman bikinanmu," sambil mengedipkan sebelah matanya dan pergi dari rumah Kiuw.
Setelah itu Tama pergi ke sebuah cafe di mana dia dan teman-temanya telah tentukan. Setelah sampai di cafe tama mencari temannya itu.
"Hai bro! sudah lama menunggu? maaf aku ada urusan tadi," alasan Tama sama temannya.
"Aku dah tahu lo bro, lo selalu sibuk."
"Hehe... lo tahu aja. Mana nih kok belum datang juga?" tanya Tama.
"Ooo... itu bentar lagi datang kok, mereka dah WA aku."
Tak lama setelah itu datang dua cewek kearah Tama dan Boby. Cewek itu langsung duduk di kursi yang kosong.
"Oke Tama perkenalkan ini Sisi pacarku dan itu Jelita temannya Sisi. Ayo kalian bekenalkan!"
"Hay, Tama aku Sisi."
"Jelita," mengulurkan tangannya ke arah Tama.
"Tama," tersenyum menggoda melihat jelita.
Mereka memesan makanan dan minuman menghabiskan waktu dengan bercanda sana-sini. Jelita terus memperhatikan Tama, dia begitu kagum dengan apa yang dilihatnya memang benar-benar sempurna.
Saat pulang Jelita juga diantar Tama samapai rumahnya dengan wajah senang Jelita turun dari atas motor Tama.
"Makasih Tama, aku senang sekali kamu mengantar ku pulang."
"Iya tidak masalah, aku senang kok dekat dengan kamu. Kapan-kapan kita pergi jalan yah!"
"Tentu! ku tunggu kabar darimu Tama," dengan wajah berseri-seri.
__ADS_1
"Bye, Jelita!"
"Bye, Tama!" sambil melambaikan tangannya kearah Tama.
Sampai di rumah Tama sudah ditunggu oleh Mamanya dimeja makan.
"Nak kok baru pulang mama sudah nunggu dari tadi."
"Iya mah maaf, Tama ke tempat teman aku dulu tadi Mah."
"Yah udah, gak apa-apa. Bagaimana sekolahmu lancar?" tanya Mama Tama.
"Lancar kok mah, lancar banget malahan mah."
"Ohya, Mama ikut senang dengarnya," ungkap Mama Tama nampak senang.
"Papa ke mana Ma?" tanya Tama.
"Papamu ada urusan di luar tadi, katanya dia mau ketemu teman lamanya," jelas mamanya lagi. Mereka menikmati makan malamnya dengan tenang tanpa ada suara hanya ada suara sendok yang bertautan.
*****
"Aku merasa ini bukan pertemuan yang pertama bagi kita,
Aku akan mencoba mengingatnya."
-Tama-
"Cinta bukan hal yang mustahil untuk melupakan
Bukan hal yang mustahil untuk kembali
Aku saja yang mengingat mu
__ADS_1
Kamu kemana?"
-Kiuw-