
Hari ini Mama Tama berencana pergi ke rumah Kiuw untuk memperjelas masalah yang pernah dia buat dan sekarang membuat Tama hilang ingatan. Saat sampai di rumah Kiuw Mama Tama menghentikan mobilnya. Dia memandang ke arah rumah Kiuw untuk dab menguatkan hatinya. Setelah cukup lama memandang ke arah rumah Kiuw. Dia keluar dari mobilnya dan masuk kehalaman rumah Kiuw pas di depan pintu rumah Kiuw, Sinta Mamanya Tama mencoba memencet bel yang ada di samaping pintu utama itu.
Ting... tong... ting... tong...
Ting... tong... ting... tong...
Tak lama setelah itu ada orang yang membukakan pintu dan ternyata itu adalah Emeli Mamanya Kiuw. Emeli namapak kaget siapa yang datang ke rumahnya sepagi ini.
"Sinta!" Emeli nampak kaget.
"Emeli maaf mengganggu, ada banyak hal yang harus ku bicarakan denganmu," langsung menyatakan maksud dan tujuannya datang ke rumah Emeli. "Apa aku boleh masuk?"
"Hkmmm... boleh. Silakan masuk Sinta," Emeli mempersilakan Sinta masuk dan duduk di ruang Tamu. "Sebentar ya Sin ku bikinin minum dulu ya," Sinta hanya mengangguk saja.
Emeli kembali dengan dua gelas teh hangat dan sepiring cemilan, "silakan Sinta diminum dan dicicipi cemilannya."
"He-eh! iya Emeli," kata Sinta agak kaget dan mencoba menetralkan perasaannya dengan meneguk teh hangatnya.
"Apa maksud kedatangan mu kali ini Sinta?" mencoba membuka pembicaraan.
"Aku... aku... hanya ingin minta maaf sama kamu Emeli dan juga sama Kiuw karena keegoisan ku. Ku tega menghancurkan perasaan anak-anak," ungkap Sinta dengan suara yang agak berat menahan tangisnya.
"Apa aku tidak salah dengar?" jawab Emeli masih belum percaya dengan penjelasan Sinta saat ini.
"Aku mengerti kamu Emeli, kamu boleh tidak percaya denganku. Tapi, yang ku ucapkan untuk saat ini adalah dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku benar-benar telah menyesal semua hal yang telah ku perbuat saat itu. Aku telah menghina mu sekeluarga, membuat settingan bahwa Kiuw menghianati Tama. Padahal semua itu tidak benar, aku jahat sebagai orang tua, aku telah merenggut kebahagiaan anakku. Sekarang Emeli aku sadar dan aku telah dapat karmanya," ungkap Sinta sambil menangis.
"Tamaku sekarang sudah berubah Emeli dari wajah, sifat dan tingkah laku. Kamu sudah lihat kan Emeli wajah Tamaku. Sebenarnya aku tak sanggup untuk menanggung ini," jelas Sinta lagi sambil terisak.
"Sinta tenangkan dirimu, ceritakan pelan-pelan aku akan mendengarnya."
__ADS_1
"Emeli, Tamaku pernah kecelakaan beberapa waktu lalu. Semua muka hancur dan untung matanya tidak apa-apa. Tapi ada yang membuatku sedih lagi bahwa dia menderita amnesia. Dia tidak begitu ingat hari-hari yang dia lewati dulu. Dia kembali dimasa waktu dia belum ketemu Kiuw. Pada saat itu sifatnya yang suka gonta-ganti pacar dan nongkrong kadang susah diatur. Aku sudah berusaha keras untuk menyembuhkannya, tapi hasilnya nihil," Masih dengan berderai air mata mengungkap perasaan yang dirasakan saat ini.
"Apa yang kamu lakukan dengan wajah Tama? Apa itu operasi plastik?" tanya Emeli hati-hati.
"Iya, kamu benar Emeli. Wajah Tama saat ini adalah operasi plastik. Semua kesempurnaan yang dia miliki adalah palsu," ungkap Sinta sedih.
"Kenapa kamu begitu bersikeras untuk memisahkan Tama dan Kiuw waktu itu Sinta?"
"Itu karena keserakahanku Emeli yang tak pernah puas dengan harta yang telah ku miliki. Aku menjodohkan Tama dengan rekan bisnis ku di Inggris, supaya perusahaan kami menjadi lebih besar dan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Sehingga aku mengorbankan kebahagian anakku Tama. Jadi, pas hari di mana Tama dan anak rekan bisnisku mau mengadakan pertunangan tanpa tidak disengaja Tama mendengar pembicaraan ku dengan Papanya. Tama kecewa saat itu, marah sehingga dia membatalkan pertunangan itu dan pergi dari tempat acara membawa motornya dengan kecepatan melebihi rata-rata," Sinta tambah terisak mengingat kejadian naas itu.
"Aku sangat panik saat itu. Aku tidak bisa berfikir jernih nelihat keadaan seperti itu. Rekan bisnisku marah-marah padaku karena Tama membatalkan pertungan secara sepehak. Dia mengancam ku dengan membatalkan kesepakatan yang telah kami buat. Saat itu aku hanya bisa pasrah dengan kecebohan dan keserakahan diriku. Sampai tengah malam Tama belum juga pulang. Aku semakin cemas dan khuwatir. Ponselnya dihubugi tidak pernah tersambung sejak kejadian itu. Menjelang pagi aku mendapat telfon ternyata itu... itu... dari rumah sakit yang menyatakan Tama ku kecelakaan karena disebabkan dia mabuk terlalu banyak mengesumsi alkohol. Aku tidak bisa berfikir jernih lagi tambah banyak hal-hal buruk yang melintas difikiranku. Kami langsung pergi ke rumah sakit melihat keadaan Tama ku dan begitulah kenyataan sekarang dia mengalami Amnesia. Keadaan wajah yang hancur."
"Emeli aku mohon sama kamu dan Kiuw, tolong bantu aku untuk memulihkan ingatan Tama ku" Sinta besujud dihadapan Emeli.
"Sinta apa yang kamu lakukan, tidak perlu seperti ini juga." bantah Emeli sambil menyuruh Sinta duduk lagi.
"Kamu seharusnya minta maaf sama Kiuw Sinta, bukan sama aku. Di sini Kiuwlah yang paling tersakiti bukan aku."
"Apa Kiuw akan mau memaafkan aku Emeli? Aku sangat takut sekali sekarang merasa sangat tidak pantas mendapat maaf dari Kiuw."
"Kamu jangan mengambil kesimpulan dulu, aku tahu Kiuw orangnya tidak seperti itu."
"Syukurlah Emeli, tapi ku mohon sama kamu dan Kiuw nantinya. Kamu maukan bantuin aku mengembalikan ingatan Tama," dengan mimik wajah yang memohon.
"Iya Susan, aku akan mencoba membantu kamu dan akan mencoba bicarakan juga sama Kiuw nantinya.
"Terima kasih Emeli, terima kasih. Aku bahagia sekali mendengarnya," sambil memegang tangan Emeli.
"Iya, sama-sama. Tapi, kamu harus menepati janjimu Sinta, bahwa kamu tidak akan menyakiti putriku lagi," Emeli mengingatkan Sinta.
__ADS_1
"Iya tentu Emeli, aku tak akan mengulang kesalahan yang sama lagi."
"Kali ini aku percaya sama kamu."
Sinta begitu senang melihat respon Emeli, begitu bersahabat sama dia. Karena itu dia berjanji pada dirinya sendiri tak akan menyianyiakan kesempatan ini.
Lama saling bercerita-cerita pengalaman hidup yang mereka lewati berumah tangga. Akhirnya Sinta mohon pamit untuk pulang ke rumahnya, karena dia rasa urusannya selesai.
"Emeli lain kali kamu ke rumahku yah, aku masih tinggal di rumahku yang lama," basa-basi Sinta.
"Iya lain kali aku akan mengunjungimu."
"Aku tunggu kedatanganmu Emeli di rumahku."
"Iya!"
"Aku pamit dulu yah! Aku akan mengatur waktu ketemuan sama Kiuw."
"Hati-hati dijalan Sinta."
*****
Berkata jujur bukan satu hal yang ditakuti
Sebelum kita jujur kepada orang lain
Jujurlah pada diri kita sendiri
-Sinta-
__ADS_1