
Bab Dua Puluh
I Want You
***Telah banyak waktu yang telah kita lewati
Mungkin tidak cukup waktu untuk menjelaskannya
Sudah ku jalani hari-hari tanpa dirimu
Apa yang ku rasa hanya kekosongan
Aku sudah mengingat kisah kita
Aku sudah mengingat perjuangan kita
Aku telah menyesal
Kini aku sendiri di sini tanpamu, tanpa bayangmu
Apa arti aku ini
Terlalu banyak salah untuk dimaafkan
Tapi, aku masih berharap kamu memaafkan aku
Terlalu egois didengar
Tapi aku menginginkannya
Beri aku kesempatan
Beri aku waktu untuk menjelaskan
Biarkan aku memelukmu
Aku hanya ingin kamu
Maaf, maaf, maaf!
Hanya kata itu yang ingin ku ucapkan aku
Jangan menghindar lagi dariku
Izinkan aku untuk jumpa
Aku tidak sanggup lagi hanya melihatmu
__ADS_1
Dari jarak yang tak mampu ku gapai
Biarkan aku memelukmu
Sekali saja
Aku masih menginginkanmu***
*****
Tiga tahun kemudian
Tama sekarang duduk di kursi kebesarannya, sebagai CEO di perusahaan besar di Indonesia. Satu tahun menjabat sebagai CEO, sudah banyak aspirasi yang diraihnya. Membuat perusahan meningkat pesat, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Sekarang dia sudah dipercayakan sepenuhnya oleh Papanya.
"Pak, untuk proyek kita dengan desainer Kiuw Andari bagaimana? Apa Bapak melakukan kunjungan kerjanya?" tanya sekretaris Tama.
"Atur secepatnya," perintah Tama dengan nada dingin. Saat ini Tama terlahir lagi sebagai sosok yang sangat dingin, arogan, dan keras.
"Baik Pak," Tama hanya menganggukkan kepalanya tanpa melihat lawan bicaranya.
"Aku akan menjemputmu," batin Tama.
Di tempat lain dan negara lain nampak Kiuw lagi sibuk dengan kerjaannya. Pekerjaan adalah hiburan tersendiri baginya untuk beberapa tahun belakangan ini. Karena perkejaanlah yang bisa bikin dirinya nyaman, tanpa harus memikirkan hal yang membuatnya sakit.
Ponsel Kiuw berdering, Kiuw melihat siapa yang meneleponnya. Kiuw tersenyum melihat layar ponselnya.
"Oke!" jawab Kiuw singkat.
"Aku jemput di butik ya."
"Siap!" Kiuw meletakan kembali ponselnya di atas meja. Tak lama kemudian ada orang yang mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk!" perintah Kiuw.
"Siang Tuan Putri, aku datang untuk menjemput Tuan Putri," Kiuw hanya tersenyum saja melihat tingkah konyol pria yang ada di depannya ini.
"Oke! Tunggu sebentar," jawab Kiuw menirukan mimik dan nada bicara pria itu.
Berapa tahun terakhir ini hanya pria ini yang menemani Kiuw. Namanya Barack, dia mempunyai sebuah restoran di Paris. Selama tiga tahun ini, Kiuw mengembangkan butiknya sampai ke Paris. Kembali ke topik.
Barack tersenyum melihat Kiuw juga menirukan cara bicaranya. Mereka berjalan beriringan ke luar. Saat Kiuw baru sampai di luar butiknya, ternyata dia sudah banyak wartawan yang mengepungnya. Memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada Kiuw.
"Nona Kiuw, apakah yang bersama anda saat ini adalah pacar anda?"
"Nona Kiuw, apa benar sampai sekarang belum bisa melupakan kekasih anda dahulu?"
"Nona Kiuw, kapan anda mau kembali ke Indonesia?"
__ADS_1
"Nona kapan peluncuran desain terbaru?"
"Nona Kiuw."
"Nona Kiuw."
Kiuw hanya tersenyum saja menanggapi pertanyaan wartawan. Sedangkan Barack melindungi Kiuw dari wartawan yang berdesakan.
*****
Kiuw dan Barack tiba disebuah restoran Jepang yang terkenal di sana dan mereka sudah memesan makanan untuk mereka.
"Kenapa tadi banyak wartawan? Padahal pas aku masuk tidak ada. Aku merasa bersalah sama kamu," Barack merasa bersalah karena membawa keluar Kiuw pada waktu yang tidak tepat.
"Aku juga tidak tahu. Ya, enggak apa-apa, tadi kamu kan sudah berusaha menolong aku."
"Tapi, aku tetap merasa tidak enak sama kamu," ungkap Barack menatap ke arah Kiuw. " Oh-ya, ada satu pertanyaan yang pengen aku ketahui jawabannya langsung dari kamu?"
"Apa?"
"Apa kamu benar belum move on?" tanya Barack hati-hati.
"Move on dari apa coba?" Kiuw pura-pura bingung.
"Jujur saja sama aku. Masa selama tiga tahun belakangan ini kita bersama, kamu masih saja menyembunyikan sesuatu sama aku. Aku mau kok jadi penggantinya."
"Kamu jangan ngacok deh! Aku tidak ada menyembunyikan apapun dari kamu," Kiuw mencoba tuk tetap tenang.
"Masa!" Barack masih tidak percaya.
"Pesanannya Tuan," memutus perkataan Barack. Kiuw merasa bersyukur kedatangan pelayan restoran, karena bisa menghindar dari pertanyaan Barack. Mereka makan dengan tenang, tanpa mengeluarkan kata sepatahpun.
"Apa kamu kembali ke butik atau pergi jalan-jalan denganku?" tanya Barack ketika mereka menyelesaikan makan mereka.
"Aku mau kembali ke apartemen saja. Maaf, enggak bisa menemani kamu jalan-jalan."
"Enggak apa-apa kok. Aku orangnya santai," ungkap Barack sambil tersenyum. Barack akhirnya mengantarkan Kiuw ke apartemennya.
*****
"Aku belum move on?
Entahlah! Aku juga belum paham dengan perasaan ku
Move on sebuah kata yang saat ini belum ku tahu artinya"
-Kiuw-
__ADS_1