
Sudah hampir dua bulan Kiuw menghindari Tama sejak kejadian malam itu. Sedangkan Tama terus mengejar Kiuw supaya Kiuw mau mendengar penjelasannya, tapi terus menghindarinya dan tidak mau mendengarkan penjelasannya.
Tama pun sudah kehabisan akal untuk bisa mengajak Kiuw bicara empat mata. Saat dikunjungi di rumahnyapun Mamanya bilang Kiuw lagi tidak di rumah dan Tamapun tahu bahwa Mama Kiuw tidak berbohong karena mobil yang biasanya Kiuw pakaipun tidak ada terparkir di gerasi.
Kalo bertanya sama teman-teman Kiuw juga percuma, pastinya mereka tidak mau memberi tahu di mana Kiuw sekarang. Menurut Tama jalan satu-satunya adalah Mamanya sendiri untuk membujuk Kiuw biar Kiuw mau mampir ke rumahnya.
Masalahnya sekarang, apa Mamanya mau bantu dirinya, "aaaggghhhh ... kok jadi ribet gini," erang Tama dalam hati.
Tama menjalankan motornya ke rumahnya, sampai dalam rumah Tama menghempaskan tubuhnya di ruang keluarga. Tama juga melihat Mamanya lagi asik nonton gosip disalah satu stasiun televisi swasta.
"Ma," panggil Tama pelan.
"Hkmmm...."
"Bantuin aku dong!"
"Bantuin apa?"
"Suruh Qy ke sini dong, Ma."
"Untuk?"
"Aku mau bicara sama dia."
"Bicara apa?"
"Ma, jangan gitu dong jawabnya. Aku kan jadi takut."
"Takut?"
"Ma... ku mohon Ma, tolong bujukin Qy mau ke sini."
"Buat apa? Buat kamu sakitin gitu?"
"Tolongin aku Ma...!" Tama terus memohon kepada Mamanya.
Akhirnya, "Baiklah!" dengan berat hati Mamanya mengiyakan keinginan Tama.
Mama Tama mengambil ponselnya di atas meja dan menelfon Kiuw. Tidak berapa detik telfonpun tersambung.
"Hallo Qy."
"Hallo Ma," jawab Kiuw diseberang sana.
"Qy ke rumah Mama yah, Mama kangen banget sama kamu," bujuk Mama Tama.
"Tapi Ma."
"Gak ada Tama di rumah, Mama tunggu yah!" potong Mama Tama cepat dan mengakhiri sambungan telfon.
"Ingat awas kamu nyakitin Qy lagi, Kamu akan benar-benar akan kehilangan dia Ingat itu! Mama mau pergi shopping dulu. Selamat berjuang!"
Satu jam berlalu Tama menunggu Kiuw di rumahnya, "kenapa lama sekali," batin Tama dan terus menatap jam yang berada di ruang tamu rumahnya.
"Apa dia tahu aku minta tolong Mama buat dia ke sini?" batinya lagi.
Asik dengan fikirannya sendiri, Tama dikagetkan dengan ketokan pintu. Tama langsung berlari untuk membukakan pintu, karena dia sangat yakin itu Kiuw.
Saat pintu terbuka ternyata orang mengetuk pintu adalah sales yang menawarkan produknya.
"Sore Mas, maaf ganggu. Saya di sini mau menawarkan produk kami. Produk kami ini berkhualitas ...."
"Maaf...! Saya lagi tidak butuh produk Mas itu, jadi saya mohon dengan sangat Mas boleh pergi. Oke!" Tama langsung menutup pintunya dengan kesal.
"Orang kaya belagu," Mas sales pergi dari rumah Tama.
Sedangkan Tama masih berdiri di belakang pintupun menarik nafas dalam-dalam nencoba menghilangkan kekesalannya. Tapi dia mendengar ketokan lagi membuat kekesalan yang dia hilangkan tadi, tiba-tiba naik kepermukaan lagi. Dengan kesalnya Tama membuka pintu dan meneriaki orang itu.
"MAS GUE GAK BUTUH BARANG LO! SEKARANG...!" Tama menggantung ucapannya.
"Barang?" ulang Kiuw bingung.
"Qy! Maaf bukan kamu yang aku maksud," Tama menjawab dengan cepat.
"Ooo, Mama mana?" tanya Kiuw to the point tanpa basa basi dan expresi wajah yang datar.
"Mama pergi shopping katanya," jawab Tama harus bilang apa. Saat ini dia sangat-sangat salting di hadapan Kiuw.
"Ooo, aku pergi dulu," Kiuw langsung meninggalkan Tama. Tama benar-benar bingung harus berbuat apa saat Kiuw di hadapannya. Saat dia sadar Kiuw sudah hampir di depan pagar rumahnya.
"Qy!" panggil Tama spontan.
Kiuw menghentikan langkahnya, tapi tidak membalikan badannya.
"Qy! Aku mau ngomong sama kamu," Tama menghampiri Kiuw.
"Maaf! Aku lagi sibuk, jadi aku tidak punya banyak waktu. Aku harus pergi sekarang." Kiuw hendak meninggalkan Tama. Sayang sekali tubuhnya didekap Tama dari belakang.
__ADS_1
"Qy! Maafkan aku." ucap Tama lirih.
"Lepaskan aku!"
"Tak akan pernah Qy, sebelum kamu memaafkan aku."
"Lepas!"
"Qy aku mohon maafkan aku."
"Lepas! Kalau tidak aku bakalan teriak," ancam Kiuw tidak main-main pada Tama.
Tama terpaksa melepaskan pelukannya dari tubuh Kiuw, tapi dia tidak menyerah begitu saja. Tama berlutut, memegang kaki Kiuw dan memohon pada Kiuw.
"Kiuw maafkan aku. Aku tahu aku salah. Aku telah menghianati kepercayaan mu. Aku mohon Kiuw maafkan aku," Tama terus memohon sama Kiuw. Supaya Kiuw mau memaafkannya.
"Tama kamu ngapain seperti ini. Berdiriku bilang!" perintah Kiuw pada Tama.
"Aku gak mau sebelum kamu memaafkan aku," Tama tetap pada posisinya.
Kiuw mengangkat tubuh Tama dan menyuruhnya berdiri. "Aku telah memaafkanmu."
"Oh-ya!" Tama nampak senang apa yang didengarnya. "Apa ini benaran Qy? Kamu tidak bercandakan?" Kiuw hanya menganggukan kepalanya.
"Makasih Qy, aku senang sekali."
"Tapi hubungan kita tidak akan seperti dulu lagi. Maaf aku harus pergi," ungkap Kiuw dan melunturkan raut bahagia yang dimiliki Tama.
"Apa maksud mu ini," Tama mencekal tangan Kiuw ketika dia gendak pergi.
"Maksud apa lagi Tama? Kamu minta maaf sama aku. Aku sudah maafkan kamu, sekarang aku yang tanya apa mau mu sebenarnya?"
"Aku tidak bisa seperti ini, Qy," balas Tama yang tidak terima keputusan Kiuw.
"Terserahlah!" Kiuw melepaskan Tangan Tama dan pergi dari hadapan Tama. Baru selangkah Kiuw melangkah Kiuw berjalan, tapi tiba-tiba Kiuw merasakan tubuhnya melayang. Tama mengangkat Tubuh Kiuw kebahunya dan membawanya ke dalam rumah.
"Tama turunkan aku," teriak Kiuw, ketika Tama terus membawa Kiuw ke dalam rumah.
"Tama turunkan aku!" Teriak Kiuw, karena Tama terus membawa Kiuw ke kamarnya.
"Tama!"
"Berteriaklah Qy, gak akan ada orang yang akan mendengarmu. Di rumah ini hanya ada kita berdua, jadi enggak akan ada yang mendengarmu," jelas Tama dan letekan tubuh Kiuw diatas kasur king-nya.
"Kamu mau ngapain Tama?" tanya Kiuw takut melihat Tama dan terus menggeser tubuhnya ke ujung tempat tidur.
"Aku mau ngapain terserah aku, inikan kamar aku," Tama menjawab dengan entengnya.
Tama yang melihat itu sangat terkejut, Tama langsung mengejar Kiuw. Tama melihat Kiuw sudah pingsan dilantai, melihat keadaan Kiuw yang pingsan Tama merasa sangat menyesal apa yang barusan terjadi.
Tama mengangkat tubuh Kiuw dan meletakkannya di atas tempat tidur. Tama menatap Kiuw dengan penyesalan.
"Maafkan aku Qy, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini."
Tama mencoba mengambil minyak telon dan mengusapkannya kehidung Kiuw. Kiuw belum memberikan teaksi, "apa perlu kiberikan nafas buatan," pikir Tama, "aku coba aja," pikir Tama lagi.
Tama perlahan mendekatkan bibirnya kebibir Kiuw, belum sampai Tama bibirnya menyentuh bibir Kiuw, mata kiuw perlahan sudah terbuka.
"Mau ngapain kamu?" tanya Kiuw lirih.
"Maafkan aku!" menjauhkan lagi wajahnya.
Kiuw tidak memjawabnya, Kiuw hanya memalingkan wajahnya dari Tama. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Tama mengambilkan air untuk Kiuw.
"Duduklah dan minum air ini," Kiuw duduk dan mengabil air itu.
"Minumlah! Aku tidak akan mati, meminum air itu," ketika Tama masih melihat Kiuw hanya memandangi air itu.
Kiuw meminum air itu dan meletakan gelasnya di nakas, "Aku mau pulang," mencoba berdiri dari tempat tidur.
"Tidak bisa! Kamu masih sakit," Tama menahan Kiuw.
"Apa pedulimu? Apa kamu peduli sama aku? Apa kamu peduli sama aku saat kamu tidak kasih kabar ke aku dan tidak balas chat ku ataupun angkat telfonku? Apa kamu peduli sama aku saat bersama cewek lain? Apa kamu peduli Tama saat kamu sedang asik bercumbu dengan cewek lain? Apa kamu peduli sakitnya hatiku? Sakit yang kurasakan saat ini belum sesakit apa yang dirasakan hatiku Tama," Tama tidak bisa mengeluarkan suara lagi.
"Kamu tidak peduli! Hanya aku yang berusaha supaya ingatan mu tentang kita bisa kembali. Sedangkan kamu apa? Apa yang kamu lakukan Tama? Hanya bisa hura-hura sana-sini tanpa peduliin aku. Kadang aku berfikir apa aku harus mengakhiri semua dan merelakanmu," Kiuw meluapakan apa yang ada dihatinya, yang selama ini dipendam.
"Qy! Maafkan aku, beri aku kesempatan untuk bisa merubah segalanya."
"Percuma Tama, percuma, kita tidak ditakdirkan untuk bersama."
"Tidak! Tidak itu tidak mungkin aku tidak bisa seperti ini. Kamu sudah janji ke aku Qy, akan selalu ada di sampingku," Tama tidak percaya kalo Kiuw bilang akan mengakhiri semuanya.
"Kenapa kamu bisa seegois ini Tama?"
"Biar! Biar kamu bilang aku egois aku tidak peduli. Aku tidak mau hubungan kita berakhir."
Qy mencoba berdiri lagi, tapi ditahan Tama lagi supaya Kiuw tidak berdiri. "Aku mau ke kamar mandi minggirlah atau kamu mau aku melakukannya di sini?" setelah berkata seperti itu baru Tama mengizinkan Kiuw berdiri. Kiuw melangkah ke kamar mandi tanpa diduga Tama malah mengikutinya.
__ADS_1
Kiuw keluar dari kamar mandi, masih melihat Tama setia berdiri di depan pintu kamar mandi. Kiuw nampak kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Kenapa kamu berdiri disitu?"
"Menunggu mu."
"Ooo," Kiuw melangkah meninggalkan Tama.
"Mau ke mana?" tanya Tama ketika Kiuw hampir samapai depan pintu kamarnya.
"Mau pulang! Apa pedulimu? Urus saja cewekmu!"
"Qy, please dengarkan aku!" Tama terus mengejar Kiuw.
Kiuw terus berjalan tanpa memperdulikan Tama terus memanggil namanya. Tama kehabisan akal, tapi dia akan mencoba rencana yang kedua. Saat Tama sampai di jenjang yang terakhir Tama menjatuhkan tubuhnya kelantai dan itu sontak membuat Kiuw kaget karena Tama jatuh secara tiba-tiba.
"Tama!" teriak Kiuw sambil berlari kearah Tama.
"Tama!"
"Tama! Bangun jangan tinggalkan aku, Tama! Bangun jangan tinggalkan aku," Kiuw tidak dapat lagi menahana air matanya melihat Tama tergeletak dilantai. Tama masih bertahan dengan posisinya, sebenarnya dia tidak sanggup melihat Kiuw menangis seperti itu, tapi harus bagai mana lagi untuk mendapatkan maaf dari Kiuw.
Kiuw mencari minyak angin di lemari dekat Tv. Untungnya Kiuw menemukan minyak angin tersebut dan menghirupkan kehidung Tama. Tak lama setelah itu Tama membuka matanya, walau sebenarnya dia tidak pingsan sama sekali.
"Tama kamu sudah bangun?"
"Hkmmm," Tama mencoba berdiri dan mau melangkah ke kamarnya.
"Mau ke kamar, aku pusing, dan kepalaku sakit," Tama memegang kepalanya dan berjalan tertatih-tatih. Kiuw yang melihat itu jadi tidak tega, akhirnya Kiuw membantu Tama berjalan dengan memapahnya sampai ke kamar.
Kiuw melangkah keluar untuk mengambil air minum untuk Tama. Baru berapa langkah, tangannya ada yang menahan.
"Kamu mau ninggalin aku?" tanya Tama lirih dengan mata terpejam.
"Aku mau ambil air minum untuk kamu."
"Aku gak mau!" menarik tangan Kiuw sehingga jatuh di atas kasur menimpa tubuh Tama.
Kiuw kaget karna sekarang posisinya dia yang menghimpit Tama. Menyadari hal itu Kiuw cepat menggulingkan badannya ke samping Tama dan berniat mau duduk langsung, tapi lagi-lagi badannya ditahan Tama. Tama memeluk Kiuw dari belakang, Kiuw mau menyingkirkan tangan Tama.
"Biarkan seperti ini dulu," bisik Tama lirih ditelinga Kiuw.
"Tapi...!"
"Qy... pliese!" Tama memohon kepada Kiuw. Mau tak mau Kiuw membiarkan Tama memeluknya.
"Tama, aku belum memaafkanmu," ungkap Kiuw.
"Aku tahu dan aku akan terus berusaha untuk memperbaiki semua."
"Tama kenapa kamu tidak melepaskan aku saja. Padahal kamu tidak juga mengingat aku."
"Kata siapa?"
"Aku."
"Aku ingat kamu, kamu selalu jadi yang terbaik di hatiku, dulu, sekarang, dan selamanya."
"Bohong!"
"Aku mau tidur," Tama mempererat pelukannya terhadap Kiuw, "jangan berniat meninggalkan aku Qy."
Kiuw yang juga merasa nyaman didalam pelukan Tama, juga memejamkan matanya dan akhirnya mereka sama-sama tertidur.
*****
"***Apa ini namanya cinta?
Yang begitu mudahnya memaafkan kesalahan pasangan?
Apa ini namanya cinta?
Yang begitu mudah merelakan sesutu berharga?
Apa yang salah dengan semua ini?
Kenapa aku merasa harus melakukan itu?
Apa cinta harus mendapatkan imbalan?
Aku tidak paham
Beri aku pendapatmu tentang cintaku
Aku kenapa aku begitu mudah memaafkannya?
Apa karena aku hanya mencintainya?
__ADS_1
Atau memang benar dia itu takdirku?
-Kiuw***-