
Ujian akhir sekolah telah berlalu, mereka melaluinya dengan baik. Berapa bulan telah berlalu setelah peristiwa itu terjadi. Tama memang telah membuktikan kesungguhannya kepada Kiuw.
"Qy, terima kasih masih berada di sampingku," ungkap Tama sambil memegang tangan Kiuw. Saat ini mereka berada di tempat di mana, Tama pernah ungkapkan perasaannya.
"Hkmmmm... Aku akan membantu kamu mendapatkan ingatanmu sepenuhnya. Suapaya kamu bisa mengingat bagaimana perjuangan kita dahulu," jawab Kiuw sambil memandang ke arah Tama
.
"Iya, aku juga ingin mengingatnya."
"Apa rencanamu setelah ini?"
"Maksudmu?" Tama bingung menjawab pertanyaan Kiuw.
"Maksudku setelah menerima hasil ujian, apa kamu mau melanjutkan studymu?"
"Aku belum ada rencana," Tama menjawab pertanyaan Kiuw singkat.
"Kenapa?"
"Tidak tahu, kalau kamu?" Tama balik tanya kepada Kiuw.
"Aku. Aku mau buka butik sendiri."
"Butik sendiri?"
"Iya nanti kamu sudah mendapatkan ingatanmu, kamu pasti tahu."
"Ohya, begitukah?"
"Hkmmm...."
"Kita ke taman bermain yuk! Sudah lama kita tidak ke sana."
"Ayuk!" mereka meninggalkan pantai menuju ke taman bermain.
Mereka sekarang sudah berada di taman bermain. Suasana taman bermain selalu ramai, temapat ini sangat cocok untuk orang yang lagi patah hati. Kenapa? Karena wahananya semua menguji ardenalin.
__ADS_1
"Kita mau naik apa yang pertama?" Tanya Tama, saat sudah masuk di taman bermain.
"Seperti biasa kita masuk ke rumah hantu terlebih dahulu," Kiuw langsung berjalan ke arah rumah hantu yang berada di samping kiri mereka.
"Oke! Kita akan naiki semua wahana yang ada di sini."
"Oke! Siapa takut," jawab Kiuw tak kalah semangat.
Tama memesan tiket untuk mereka berdua, karena antrian tidak terlalu ramai sehingga mereka tidak terlalu lama mengantri untuk mendapatkan tiket masuk.
"Aku heran sama kamu Qy, kamu takut sama hantu, tapi masih suka masuk rumah hantu," ungkap Tama yang terheran-heran melihat Kiuw.
"He... Aku juga enggak tahu," jawab Kiuw cengengesan.
"Yuk, kita ke tempat yang lain."
"Ayok!" Kiuw menjawab dengan semangat, sambil memeluk lengan Tama. Tama yang melihat tingkah Kiuw hanya tersenyum saja.
Tama dan Kiuw mulai menaiki wahana yang ada di sana. Saat ini rona bahagia terpancar jelas dimata Kiuw. Wahan terakhir yang akan mereka naiki adalah bianglala.
"Sebelum naik itu kita beli minum dulu. Bagai mana?" Tama minta pendapat kepada Kiuw.
"Oke! Aku yang beli minumnya,"Tama meninggalkan Kiuw yang sedang menunggu antrian.
Tama membeli minum dekat wahana itu saja, karena dia tidak mau meninggalkan Kiuw terlalu jauh. Ketika Tama sudah mendapatkan minuman yang dia pesan, Tama langsung ke tempat di mana Kiuw berada saat ini.
"Kenapa lama sekali? Giliran kita sudah dekat, ku kira hanya aku yang bakalan naik sendirian."
"Aku ngantri juga."
Kiuw dan Tama masuk ke dalam keranjang bianglala. Meski bukan pertama kali Kiuw naik bianglala, tapi Kiuw selalu takjub melihat pandangan yang dari atas.
"Qy, kamu liat apa?"
"Aku sangat suka melihat pemandangan dari atas sini. Karena dari atas sini aku bisa melihat setiap sudut kota," jelas Kiuw yang mata tidak bisa lepas dari melihat pemandangan.
"Menurut aku kalau kita artikan dalam kehidupan kita, kita diajarkan kalau kita jangan terlalu fokus melihat bintang dilangit, melihat juga ke bawah karena kita juga akan menemukan keindahan."
__ADS_1
"Tumben. Kamu dapat ilham dari mana?"
"Enggak dari mana-mana. Itu dari lubuk hatiku paling dalam."
"Masa."
"Khmmm, kamu mengerti maksudnya?"
"Apa?"
"Dalam kehidupan itu kita tidak boleh sombong, selalu ingin terdepan dari orang-orang. Sebenarnya rendah hati itu lebih berharga. Apa kamu mengerti sekarang," Kiuw hanya mengangguk saja.
"Kiuw apa kamu mencintaiku?"
"Maksudmu? Kiuw bingung dengan pertanyaan Tama yang tiba-tiba dan telah membuat jantungnya tak karuan.
"Kamu pasti tahu, dulu wajahku tidak seperti ini. Sekarang wajahku hanya rekayasa dari para dokter saja," Tama hanya menundukan kepalanya.
"Masalahnya apa?
"Masalahnya aku ini hanya memakai topeng."
"Aku tidak pernah berfikir seperti itu. Mau kamu pakai topeng atau tidak, aku hanya ingin hatimu selalu ada nama aku dan kembalinya ingatanmu. Biar kamu bisa ingat bagaimana perjuangan kita dulu. Kalau wajah tampan atau apa namanya. Itu hanya bonus bagiku," jelas Kiuw meyakinkan Tama.
"Berarti kamu mencintaiku?" Tama menatap wajah Kiuw mencari kebenaran.
"Memangnya pernah aku bilang tidak mencintaimu?"
Mendengar jawaban Kiuw seperti itu. Tama langsung memeluk Kiuw dan mencium bibirnya. Kiuw yang mendapat pelukan dan ciuman secara mendadak membuatnya awalnya terkejut, tapi akhirnya Kiuw membalas pelukan dan ciuman Tama. Kembali mereka melakukan ciuman di dalam keranjang bianglala.
*****
"Cinta kita adalah kisah kita,
Rindu kita adalah pertemuan kita,
Kamu selalu di hatiku hanya ada kamu.
__ADS_1
-Tama-