Mencintaimu Satu

Mencintaimu Satu
4. Akan Ku Dekati Kamu


__ADS_3

Saat ini di kelas Kiuw murid-murid lainnya mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia. Semua murid memperhatikan apa yang dijelaskan guru depan kelas. Sehingga kelas terlihat sanagat damai.


"Oke! Anak-anak untuk pelajaran hari ini saya akan membagi kelompok. Tiap-tiap kelompok masing-masing empat orang, tunggu saya tuliskan."


"Siap Pak!!!" jawab semua murid kompak.


Pak Hasan mulai menulis dipapan tulis masing-masing kelompok Elina dan Erika satu kelompok dan sedang Kiuw satu kelompok dengan Tama. Kiuw kaget pas melihat apa yang dilihat dipapan tulis.


"Kiuw kamu satu kelompok dengan Tama," bisik Erika.


"Iya, aku tahu! Kenapa harus satu kelompok dengan dia?"


"Apa salahnya?" tanya Erika.


"Gak ada salah kok, aku hanya bercanda."


Saat jam isrtirahat seperti biasa Kiuw dan sahabatnya pergi ke kantin. Setelah mendapatkan pesannya mereka mencari meja kosong. Mereka menikmati makanannya, sehingga ada seorang duduk saja tanpa permisi samping Kiuw.


"Hai Qy! hai Duo E!" sapa Tama yang tiba-tiba dan dengan panggilan yang berbeda.


"Hai juga Tama," jawab Erika dan Elina. Sedangkan Kiuw hanya tersenyum tipis menatap Tama.


"Qy, maaf! ada sisa makanan dimulutmu Qy." ungkap Tama. Kiuw yang mendengar itu langsung saja lap mulutnya dengan tisu.


"Qy, maaf bukan di situ tapi di sini...!" Tama langsung membersihkannya, yang membuat Kiuw jadi salting. Mereka lama saling pandang satu sama lain, jantung Kiuw berdebar begitu cepat.


"Ciiieeeeeeee...!" Sorak Erika dan Elina.


"He-eh!" Kiuw dan Tama terkejut dengan suara Erika dan Elina.


"Jadian saja, sepertinya kalian cocok deh!" ungkap Elina.


"Oh-ya aku setuju," ucap Erika


"Aku lebih setuju," kali ini Tama yang menjawab.


"Apaan sih gak jelas banget," respon Kiuw cepat.


"Qy, apa salahnya kalo misalnya kita jadian?" tanya Tama, ketika melihat reaksi Kiuw seperti itu.


"Gak tahu ah...! Aku gak dengar." dengan gaya pura-pura tidak dengar.


"Masa iya?" tanya Tama lagi.


"Tahu ah...! aku masuk kelas dulu," Kiuw bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke kelasnya diikuti sahabatnya


Sepeninggalan Kiuw dan sahabatnya Tama tinggal sendiri di kantin sedang asik makan ada saja orang yang ganggu Tama.


"Hai Tama, aku Tasya anak Tataboga," sapanya dengan gaya agak centil ke arah Tama. Tama yang melihatnya hanya tersenyum tipis saja lihat cewek yang ada di depannya.


"Apa aku boleh duduk di sini?" tanyanya lagi. Tama hanya mengangguk saja menanggapi peryanyaan Tasya. Tasya tersenyum bahagia melihat respon Tama. Tama tetap melanjutkan makannya sedangkan Tasya terus memperhatikan Tama.


"Lo, kenapa lihat gue segitu amat, jangan bilang lo naksir gue?" tanya Tama to the point.


"He-eh, kalo iya bagaimana? Salahkah gue naksir sama lo?" Tasya malah bertanya balik sama Tama.

__ADS_1


"Gak apa-apa juga," Tama berdiri dan pergi dari kantin menuju kelasnya. Cewek-cewek memandang Tama, dengan tatapan yang memuja. Saat Tama lewat di depan mereka. Mereka seperti terhipnotis dengan ketampanan Tama.


*****


"Qy, pulang sama aku aja Qy?" pinta Tama pas Kiuw sampai di parkiran.


"Gak bisa Tama aku bawa mobil," Kiuw memberikan alasan pada Tama.


"Mana kunci mobilmu, biar nanti sopir Mama ku yang jemput."


"Trus, sahabatku bagai mana?" alasan Kiuw lagi.


"Mereka sudah ku suruh pulang naik Taxi dari tadi. Gak ada alasan lagi Qy, mana kunci mobilmu!"


"Memang gak pernah berubah," desis Kiuw pelan.


"Kamu bilang apa?"


"Gak ada! Nih!" sambil nyerahin kunci mobilnya ke arah Tama.


"Ayok naik! aku kan mau ke rumah kamu juga nanti jadi sekalian aja sama kamu."


"Aku gak nanya," jawab Kiuw agak ketus. Tama hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Kiuw.


"Ya sudahlah, yang penting kamu ikut aku, itu yang paling penting," Tama melajukan motornya dan berhenti di Pos Satpam untuk menitip kunci mobil Kiuw. Tama menjalankan lagi motornya menuju rumah Kiuw. Sebenarnya sekarang ini rumah Kiuw dan Tama satu komplek cuman beda gang saja. Pas sampe dekat komplek rumah Kiuw, Tama menghentikan motornya di taman dekat komplek. Saat siang taman agak sepi pas sore baru ramai.


"Kok! berhenti di sini sih Tama?" tanya Kiuw bingung.


"Ada yang ku bicarain sama kamu. Ayok! Kita duduk di sini dulu sebentar," ajak Tama menarik tangan Kiuw. Kiuw yang menyadari tangannya dipegang Tama jantungnya sudah gak bisa dikatakan baik lagi. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Kiuw dan Tama sampai disalah satu tempat yang telah tersedia di taman itu dan mereka duduk di sana.


"Katanya mau bicara? cepat katakan! nanti teman-teman sudah menunggu di rumah aku!" perintah Kiuw.


"Iya," sambil tersenyum kasnya Tama, " Qy," panggil tama dan menggenggam tangan Kiuw lagi dan memberikan sesuatu ditangan Kiuw. Kiuw melihat apa yang diberikan Tama ketangannya langsung kaget dan merasa senang sekali.


"Ini sapu tangan yang aku cari-cari. Kenapa bisa ada sama kamu?" tanya Kiuw senang.


"Apa kamu lupa kejadian waktu di Mall itu? Kamu menjatuhkannya di sana."


"Maaf kejadian waktu itu dan terima kasih telah menemukannya untukku. Ini sangat penting sekali buat aku," jelas Kiuw kepada Tama.


"Apa itu dari pacarmu?" Kiuw hanya mengangguk saja.


"Tapi sekarang dia telah melupakan aku dan aku juga tidak mengenali wajahnya lagi. Aku cuman masih ingat matanya."


"Maaf bukan maksudku mengungkit masa lalumu dan aku juga minta maaf soal yang di Mall kemaren."


"Iya, enggak apa-apa. Aku juga salah."


"Selain itu aku juga mau ngomong sama kamu. Sebenarnya memang ini terlalu cepat untuk aku mengatakannya padamu Qy. Sejak pertemuan kita lagi di kelas aku ada rasa sama kamu Qy. Aku rasa aku sudah pernah ketemu sebelumnya jauh sebelum kamu nabrak aku waktu di Mall itu, tapi entahlah Qy aku juga tidak tahu itu. Intinya di sini aku punya rasa sama kamu Qy. Apa kamu mau menerima aku jadi pacar kamu Qy?"


"Tama! apa kamu bercanda? aku... aku... belum bisa Tama, kita belum lama kenal Tama?" jawab Kiuw agak gugup.


"Qy, kenapa seperti beri aku alasan yang pasti. Apa kamu sudah kemakan isu yang tersebar di sekolah Qy? Aku gak ada rasa sama mereka Qy dan aku juga tidak pernah ungkapkan rasa cintaku sama mereka Qy."

__ADS_1


"Tama!"


"Qy, aku benci penolakan Qy." potong tama sebelum Kiuw memberi alasanya lagi. "Ku mohon, Qy terima aku yah!" Tama semakin eret menggengam tangan Kiuw. Kiuw hanya diam berfikir apa yang terjadi saat ini. Dia jadi tidak tahu harus bicara apa. Disatu sisi dia juga sangat senang dan satu sisi lagi tama tak mengenali dirinya itu yang bikin Kiuw merasa sedih.


"Diamnya kamu Qy, itu ku anggap kamu menerima aku jadi pacar kamu Qy. Satu lagi hari ini resmi kita jadian."


"Tama!" Teriak Kiuw, " aku belum jawab apa-apa sama kamu." protes Kiuw.


"Aku gak mau tahu itu Qy," kata Tama pada ku dan langsung mengajak Kiuw pergi dari taman dan pergi ke rumah Kiuw. Sampai di rumah Kiuw, Tama dipersilakan masuk dan disuruh tunggu di ruang tamu. Sementara Kiuw ganti baju ke kamarnya.


"Qy, cepatan temanmu sudah lama menunggu ini," teriak Mama dari dapur. Karena dia sempat lihat Tama agak gelisah menunggu Kiuw sendiri di ruang tamu. Mamanya Kiuw juga sempat menyapa Tama di ruang tamu sebelum melanjutkan kerjanya di dapur.


"Iya Ma! Qy sudah siap nih," jawab Kiuw turun dari kamarnya yang dilantai dua.


"Ajak temanmu itu makan siang dulu."


"Iya Ma!"


"Mama kok familiar dengan nama itu Qy?"


"Nanti ku ceritaiin ya Ma."


"Oke! Sekarang ajak taman mu itu makan siang dulu," Kiuw hanya mengangguk dan pergi ke ruang tamu di mana Tama menunggunya sekarang.


"Tama!" panggilnya, Tama menoleh ke arah Kiuw dan tersunyum. "Yuk ikut dengan ku kita makan siang dulu," Tama hanya mengangguk dan mengikuti Kiuw ke ruang makan. Tama meresa suasana rumah ini begitu dekat dengannya, terasa begitu familiar melihat wajah Mama Kiuw dan juga yang ada di rumah ini terasa sangat akrab dengannya.


"Nak! kok kamu kelihatannya gelisah?" tanya Mama Kiuw ketika melihat Tama gelisah.


"Gak kenapa-kenapa Tante," jawab Tama cepat.


"Silakan dimakan jangan sungkan-sungkan yah, anggap saja rumah sendiri."


"Siap Tante!"


Setelah makan siang baru teman-teman Kiuw yang lain datang untuk mengerjakan tugas kelompok mereka. Mereka bikin tugasnya sangat fokus sekali sehingga tak menyadari hari semakin sore. Merasa semua telah diselesaikan mereka pamit pulang ke rumah masing-masing termasuk juga Tama.


*****


Saat ini Tama berada di kamarnya, matanya tidak mau tidur, karena masih memikirkan suasana yang ada di rumah Kiuw begitu dekat dengannya.


"Kenapa aku merasa aku sudah sering ke rumah Qy," batin Tama.


Tama mencoba mencari buku lamanya dalam lemari mana tahu menemukan petunjuk. Tama menemukan sebuah buku berwarna merah muda dan nama dibuku tersebut. Tama terkejut ketika membaca nama yang ada di sana.


"Kenapa buku Kiuw ada di sini fikir Tama?"


Tama mencoba membuka buku harian tersebut, Tama terkejut tertulis di sana ada nama dirinya dan Kiuw. Tama jadi tambah penasaran dengan halaman berikutnya, ternyata hanya foto kebersamaan mereka. Tama semakin kaget dengan kenyataan yang ada.


"Apa hubungan ku sedekat ini dulu sama Qy? Tapi kenapa aku tidak mengingatnya?" fikir Tama lagi. Tama mencoba mengingat-ingat kejadian yang telah dilupakannya, tapi sepertinya semua itu sia-sia.


Tama ingat, waktu kecelakaan waktu itu. Mamanya pernah bilang kalau dia kehilangan separuh ingatannya. Oleh sebab itu, Mamanya membawanya kembali ke Indonesia untuk menjemput ingatannya tersebut.


"Apa itu Qy? fikir Tama lagi, tapi Tama cukup lelah untuk mengingat itu. Sehingga tanpa disadrinya, Tama tertidur.


*****

__ADS_1


__ADS_2