Mencintaimu Satu

Mencintaimu Satu
1. Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Saat pulang sekolah Kiuw sedang jalan-jalan sama teman-temannya disebuah mall yang terkenal di Kotanya. Mereka hanya makan siang dan bercerita saja. Menghabiskan waktu luang mereka pada siang ini. Bercerita sana sini, ketawa ketiwi.


"Aku ke toilet dulu yah semua, kebelet nih," ijin Kiuw keteman-temannya. Semua temannya hanya mengangguk ketika Kiuw minta ijin. Kiuw berlalu meninggalkan temannya, tapi sebelum sampai di toilet, karena terburu-buru Kiuw tidak menyadari bahwa dia menabrak seseorang yang ada di depannya.


"Awwww...!" pekiknya, ketika badannya terbentur sama tubuh seseorang. Kiuw jatuh kelantai dengan posisi yang agak miris.


"Kalau jalan itu, jangan pakai mata kaki. Pakai itu mata lo, apa gunanya tuhan ngasih lo mata kalo tidak lo manfaatkan. Kalo gak bisa juga tuk manfaatkan mata lo itu dengan benar, mending lo sumbangin deh mata lo itu!" hardik orang itu ke arah Kiuw.


"Maaf, aku enggak sengaja. Aku buru-buru Kak. maaf,maaf,maaf ya Kak," kata Kiuw memohon pelan dan masih menahan sakit dibokongnya paska tabrakan tadi. Karena tak kunjung mendapatkan respon dari orang yang ditabraknya tadi, Kiuw pergi tergesa-gesa karena tidak tahan lagi menahan mau pergi ke toilet.


"Dasar! orang punya otak. Bukannya minta maaf dengan benar malah menyelonong saja," gerutu Tama pelan.


Tanapa disadari Kiuw dia menjatuhkan sesuatu yang penting baginya. Sebuah sapu tangan warna pink ada namanya. Tama yang melihat itu langsung mengambil sapu tangan itu dan pergi dari tempat itu tanpa berniat untuk mengembalikannya.


"Kita akan bertemu lagi nantinya," batin Tama dan tersenyum tipis melihat sapu tangan itu.


"Kok lama sekali sih Kiuw?" tanya temannya ketika Kiuw sudah duduk dikursinya lagi.

__ADS_1


"Iya, tadi ada masalah sedikit pas aku mau pergi ke toilet tadi," jelasnya keteman-temannya.


"Seriuskah?" timpal Elina yang memperhatikan sahabatnya dari tadi.


"Iya Kiuw, seriuskah? kok wajahmu seperti ketekuk seperti itu?" pertanyaan bertubi-tubi datang dari sahabatnya.


"Dibilang serius gak juga sih. Cuman kata-kata cowok itu bikin aku sakit hati," jelasnya lagi.


"Masa?" teriak sahabat Kiuw.


"Iya, pas aku pergi ke toilet tadi. Aku tak sengaja menabrak seorang cowok karena buru-buru. Eh, malah dia ngata-ngatain aku."


Elina yang dari tadi hanya mangguk-mangguk mendengar penjelasan Erika. Dia juga membenarkan penjelasan Erika. "Benar itu Kiuw usahlah kamu fikirkan. Secara kamu kan enggak kenal dia. Jadi, anggap saja itu hanya angin lalu."


"Iya, makasih atas saran kalian" sambil meluk sahabatnya.


"Tentunya dong!" jawab Elina dan Erika kompak.

__ADS_1


Kiuw mengantarkan sahabatnya pulang dan sekarang dia sudah berada di kamarnya. Saat mau ganti baju dia baru sadar bahwa ada sesuatu yang hilang. Benda itu sangat dekat dengannya yaitu sapu tangan pinknya. Dia langsung panik dan menelfon sahabatnya.


"Hallo Erika, Elina," pas sambungan vidio callnya sudah tersambung dengan sahabat-sahabatnya.


"Hallo juga Kiuw, ada apa sih ? tumben vc padahal baru ketemu barusan?" jawab Elina sambil senyum.


"Iya, ada apa Kiuw? tanya Erika bingung.


"Kalian ada liat gak sapu tanganku pas di cafe tadi?" tanya Kiuw dengan wajah yang nampak panik.


"ENggak , aku enggak liat," jawab Erika cepat


"Aku juga."


"Duh...! bagaimana ini. Kalian tahukan sapu tangan itu sangat penting bagiku dan sekarang hilang," ungkap Kiuw agak terisak, seperti mau menangis.


"Iya, kami tahu Kiuw, tapi harus gimana lagi. Kita berdua gak lihat sapu tangan itu," jelas Elina dan dibenarkan Erika.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu," kata Kiuw pelan dan mengakhiri sambungan telefonnya. Kiuw menangis sepuas-puasnya di kamar.


*****


__ADS_2