
Pagi yang cerah saat Kiuw datang ke sekolah, tapi tidak secerah hatinya saat ini. Kiuw benar-benar tidak bersemangat untuk pergi ke sekolah. Karena suasana hati yang kurang baik jadi Kiuw tidak memperhatikan apa yang ada disekitarnya. Tak sengaja dia menabrak orang lagi, tapi seperti kemaren. Soalnya kemaren dia samapi terpental.
"Maaf, maaf,maaf," ucap Kiuw pelan dan ada rasa bersalah.
"Ya, gak apa-apa, Nak," jawab orang itu.
"Makasih Tante, maafkan saya sekali lagi Tante," jelas Kiuw, yang masih belum memperhatikan lawan bicara. Kiuw masih menundukan kepalanya, kerana masih merasa bersalah. Saat Kiuw mengangkat wajahnya dan melihat lawan bicaranya, Kiuw merasa orang di depannya saat ini sangat familiar.
"Tan... tan... te... Sinta," Kiuw menyebut nama itu dengan expresi terkejut.
"Kiuw... benar kamu Kiuw?" tanya Sinta dengan nada yang kurang percaya juga, "Sayang, sudah lama kita tidak bertemu sayang," ungkap Sinta nampak begitu gembira melihat Kiuw.
"I... iii... ya... tante."
"Apa kabar sayang?" tanya Sinta.
"Baik tante."
"Kamu sekolah di sini sayang?"
"Iya, tante ada apa di sini?" tanya Kiuw heran dan Kiuw juga merasa aneh atas sifat Sinta yang bersahabat dengannya.
"Tante, daftarin Tama ke sini sayang," ungkap Sinta ke Kiuw.
"Tama?"
"Iya, Tama. Kan hanya Tama yang tante punya," jelasnya.
"Masuk jurusan apa Tama, Tan?" Kiuw penasaran.
"Akutansi."
"Kok bisa sama ya, Tan," ungkap Kiuw.
"Ohya, kebetulan sekali yah."
Tidak terasa bel berbunyi tanda mulainya jam pelajaran pertama. Sebenarnya masih banyak sekali pertanyaan yang akan ditanyakan Kiuw sama Sinta.
__ADS_1
"Ah, sayang sepertinya pembicaraan kita diundur lain waktu. Nanti, Tante hubungi kamu, Tante mau cerita banyak sama kamu. Kasih dong nomor WA kamu."
Kiuw menyerahkan ponselnya ke Sinta dan Sinta pun menyalin nomor WA Kiuw.
"Sayang, tante ke ruang guru dulu yah, bye bye bye. Nanti, tante hubungi kamu deh!" Sinta berlalu meninggalkan Kiuw. Menurut Kiuw ini sangat aneh, seperti bukan Tante Sinta yang dia kenal.
Samapai di kelas, Kiuw sudah disambut oleh teman-temannya.
"Tumben kamu telat Kiuw?" tanya Erika.
"Gak ada kok," Kiuw berlalu dan langsung duduk dibangkunya.
"Tahu gak Kiuw ada murid baru, kata anak-anak cowok ganteng."
"Ohya!" sebenarnya dalam hatinya Kiuw begitu penasaran dengan sosok anak baru itu. Setelah pertemuannya dengan Tante Sinta tadi. Jantungnya berdetak lebih cepat, seperti orang habis meraton.
Tidak berapa lama datanglah guru mata pelajaran pertama hari ini. Guru itu langsung mengumumkan di depan kelas.
"Perhatian anak-anak sekarang di kelas kita kedatangan murid baru," jelas guru yang ada depan kelas. Sedangkan murid semua hanya diam mempertikan, "Tama masuk," perintah guru yang namanya Buk Susan.
"Kiuw, sempurna banget kalo dijadiin pacar yah?" tanya Erika. Karena Erika teman sebangku Kiuw, tapi Kiuw diam saja tak bergeming dengan expresi yang tak dapat dibaca.
"Kiuw...!" panggil Erika, karena di acuhkan saja sama Kiuw, "Kiuw...! You oke?"
"He-eh! Oke!"
"Gimana menurut kamu Tama?"
"Biasa saja," jawab Kiuw singkat dan mengalihlan pandangannya ke bukunya lagi.
"Masa iya?" balas Erika bingung melihat sahabatnya. Cowok sesempurna begini dibilang biasa, "Astaga Kiuw kamu ini buta atau apa sih," batin Erika.
"Iya," jawab Kiuw singkat padat dan tepat.
"Tan, ini bukan Tama aku Tan. Ini siapa Tan, kok dia nggak kenal sama aku. Matanya saja yang aku kenal Tan. Tidak dengan wajahnya dan hatinya. Ini bukan Tama aku Tan." gumam Kiuw dalam hatinya.
Sedangkan Tama masih di depan kelas menjawab pertanyaan anak-anak dengan senyuman nakalnya. Apalagi cewek-cewek berebutan untuk bertanya. Kalau tidak disela Buk Susan mungkin sampai jam pulang mereka masih bertanya hal yang tak penting itu.
__ADS_1
"Anak-anak sudah yah, kalau seperti ini jam pelajaran akan habis," jelas Buk Susan. Dengan suara yang lembut dan penuh perhatian. "Untuk kamu Tama duduklah di bangku yang kosong!"
Hari ini Kiuw sungguh tidak bisa kosentrasi mengikuti pelajaran. Masalah hilangnya sapu tangannya yang belum terselesaikan ditambah sekarang teka-teki soal Tama ini. Tiba-tiba saja ada orang yang melemparnya dengan sebuah kertas. Kiuw yang dari tadi melamun seketika terkejut dan mencari siapa orang lemparnya dengan kertas.
Ternyata yang melemparnya dengan kertas adalah Tama,"apa maunya ini anak ngelempar-lempar dengan kertas," batin Kiuw. Tama hanya tersenyum saja pas Kiuw melihat ke arahnya.
Tidak terasa waktunya jam istirahat Kiuw, Erika dan Elina pergi ke kantin untuk mengiasi perut yang berteriak-teriak yang minta diisi setelah perperangan dengan pelajaran tadi. Kiuw dan teman-temanya sudah mendapatkan makanan yg mereka pesan dan mereka duduk dimeja yang telah disediakan.
Tapi ada hal yang gak di sangka-sangka Tama duduk samping Kiuw. Sahabat Kiuw yang melihat jadi terkejut, tapi lain dengan Kiuw dia masih fokus dengan makanannya tak menyadari kehadiran Tama.
"Kiuw!" panggil Erika, tapi Kiuw masih diam saja enggak menyahut sedikitpun.
"Kiuw!" kali ini Elina yang memanggil Kiuw sambil memegang tangannya.
"He-eh, yah! ada apa?" jawab Kiuw agak terkejut. Melihat reaksi Kiuw yang seperti itu Elina sadar ternyata dari tadi Kiuw hanya melamun. Badannya saja yang ada di sini, tapi fikirannya entah ke mana.
"Kiuw lihat deh, di samping kamu ada siapa!" ungkap Erika kepada kiuw yang suaranya agak pelan.
"Ada apa?" tanya Kiuw, "Wait! sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Kiuw terkejut melihat Tama ada di sampingnya.
"Sejak?" bingung mendengar pertanyan Kiuw. "Aku dari tadi ada di sini, itu makanya jangan ngelamun saja. Oohhhh... pantas kamu nabrak aku kemaren ternyata kamu suka ngelamun ternyata."
"Apaan sih gak jelas banget jadi orang. Pergi sana!!!" ungkap Kiuw.
"Kenapa? aku juga pembeli di sini, lagian tidak ada tulisan dilarang di sini."
Kiuw yang mendengar jawaban Tama, benar-benar kesal dan jengkel mendengarnya, "terserah kamu mau ngapain di sini itu bukan urusanku. Oke! selamat menikmati makannya," Kiuw berdiri dan berlalu dari sana.
Erika dan Elina pun sangat kaget melihat tindakan Kiuw. Tidak seperti biasanya Kiuw, akan meninggalkan lawan bicaranya seperti Sekang ini.
"Kiuw...!" panggil Erika dan Elina serempak dan ikut mengejar Kiuw.
Tama hanya tersyum karismatik saja melihat kepergian Kiuw dan teman-temanya,"Liat aja nanti Kiuw kamu kan bertekuk lutut didepan ku" batin Tama dan melanjutkan makanannya.
Tidak terasa jam istirahat telah berakhir semua murid masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Mengikuti pelajarannya dengan seriusnya. Saat ini Tama sedang memperhatikan Kiuw yang sedang serius mengikuti pelajaran yang diberi guru di depan kelas.
*****
__ADS_1