
Kiuw langsung menghampiri Tama, sedangkan Tama tidak menyadari kehadiran Kiuw di sampingnya.
"Hai, kamu melamun lagi?" bisik Kiuw di telinga Tama.
"He-eh, Kiuw, kamu mengagetkan saja."
"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu sering ngelamun? Ada masalahkah?" Kiuw mencoba bertanya kepada Tama.
"Gak ada kok. Cuman lagi mikirin kamu saja," alasan Tama.
"Mikirin aku?" Kiuw bingung dengan pernyataan Tama.
"Iya, kamu hanya kamu."
"Dasar tukang gombal."
"Biarin gombal, aku kan kekasih kamu juga," Tama menaik turunkan alis matanya.
"Iya sih...."
"Kok gitu jawabnya," protes Tama.
"Biarin, kan aku juga kekasih kamu," jawab Kiuw sambil mengulum senyumnya.
"Hah, kamu curang membalikan kata-kataku."
"Haha... biarin."
"Bagaimana persiapan opening-nya besok?" tanya Tama sambil memegang tangan Kiuw.
"Lancar kok. Mungkin hanya tinggal sepuluh persen lagi," jelas Kiuw dan tersenyum ke arah Tama.
"Apa opening nanti sangat penting bagimu, Qy?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu. Aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu dari aku?"
"Gak ada kok. Aku cuman bertanya saja. Karena kamu semangat sekali."
"Alasan," Kiuw kurang yakin dengan jawaban Tama.
"Setelah ini kita ke mana?"
"Kita pulang saja, aku ngantuk banget nih."
"Ya, sudah kita pulang saja dan tidur."
Kiuw dan Tama beranjak meninggalkan restoran. Tama menjalankan mobilnya ke komplek di mana mereka tinggal. Tapi, Tama tidak membelokkan mobilnya ke rumah Kiuw. Tama mengentikan mobilnya di rumahnya sendiri. Tama melihat Kiuw sudah tertidur saat perjalanan, Tama mengangkat Tubuh Kiuw dan membawanya ke dalam kamarnya.
Tama membaringkan Tubuh Kiuw pelan-pelan. Tama memandangi wajah Kiuw dan mencium keningnya.
"Maafkan aku," bisik Tama. Tama juga merebahkan tubuhnya di sebelah Kiuw dan membawa Kiuw ke dalam pelukannya.
__ADS_1
*****
Selesai makan malam, Tama langsung mengantarkan Kiuw pulang ke rumahnya.
"Selamat malam Qy, aku balik dulu yah!"
"Iya hati-hati."
"Mana salam perpisahannya," Kiuw yang mengerti maksud Tama, langsung mencium bibir Tama singkat, tapi tengkuk Kiuw ditahan Tama untuk memperdalam ciumannya.
"Qy, aku selalu mencintaimu," bisik Tama.
"Aku juga. Hati-hati dijalan aku masuk dulu. Bye!"
"Bye, sayang."
Tama sudah memastikan Kiuw aman masuk dalam rumah. Tama menjalankan mobilnya keluar komplek dan memakirkan mobilnya di perempatan jalan untuk menelfon seseorang.
"Hallo!" saat telfon Tama telpon sudah tersambung.
"Hallo juga sayang! Apa kamu sudah memikirkannya dengan benar?" jawab Tasya girang.
"Kita bertemu di mana?
"Oke! Aku akan mengirim alamatnya padamu lewat chat."
"Oke! Baiklah," jawab Tama langsung memutuskan sambungan telfonnya.
Tama langsung menuju kamar sesuai petunjuk dari resepsionis, bahwa kamar yang ditujunya berada dilantai lima. Tama sudah sampai di depan pintu kamar dan langsung menekan bel. Tak lama setelah itu pintu terbuka, Tasya langsung tersenyum manis kepada Tama dan langsung memeluk Tama.
"Aku kira kamu tidak akan mau," ungkap Tasya saat mereka sudah di dalam kamar. Tama hanya diam saja tidak menanggapi perkataan Tasya.
"Aku bikinin kamu minum dulu," Tama hanya mengangguk saja menanggapi perkataan Tasya.
Tidak berapa lama Tasya keluar membawa dua gelas air berwarna merah berserta cemilan.
"Mari kita rayakan malam kita dengan dengan anggur merah," ungkap Tasya sambil menyediakan satu untuk Tama. Tama hanya menerimanya dan tersenyum ke arah Tasya.
"Aku ke belakang dulu mau mengambil cemilan yang lainnya," Tama kembali hanya menganggukkan kepalanya.
Saat kepergian Tasya, Tama mengeluarkan sebuah pil dari kantong celananya dan langsung menelan bersama anggur merah yang diberikan Tasya tadi. Tasya keluar dengan sepiring kue lagi, tapi dengan baju yang berbeda. Baju yang digunakan, Tasya sangat sexi dan itu membangkitkan gairah Tama. Apa lagi Tama sudah menelan sebuah pil perangsang. Tama langsung saja menyerang tubuh Tasya dan melumat bibirnya kasar.
Tama memang sudah hilang kendali, dia sudah di kuasai oleh nafsu. Tama terus memperdalam ciumannya dan lidah yang saling menari satu sama lain. Tama menurunkan ciumannya ke leher Tasya. Sedangkan Tasya hanya mendesah apa yang dilakukan Tama.
Tama merobek baju tipis yang dipakai Tasya. Ternyata, Tasya sudah tidak mengunakan pakaian dalam, sehingga langsung memperlihatkan tubuh sexi, Tasya. Tama langsung mengisap payudara Tasya dan meremasnya dengan kasar.
"Aaahhh... aaahhh... aaahhh... Tama," Tasya mengerang kenikmatan sambil meliuk-liukkan badannya.
"Apa ini sangat nikmat," ungkap Tama disela-sela isapannya.
"Aaahhh... Tama," Tasya mencoba melepaskan baju yang dipakai Tama. Tama hanya membiarkan Tasya membuka baju. Sehingga sekarang Tama sudah bertelanjang dada.
__ADS_1
"Tama tubuhmu sangat sempurna aku menyukainya. Aroma nya juga sangat menggairahkan aku. Akan ku puaskan kamu malam ini. Tasya berdiri dihadapan Tama dan menarik Tama untuk mengikutinya. Tasya menarik Tama ke dalam kamar, Tasya langsung tidur telentang di atas tempat tidur dan sedikit membuka kakinya.
"Sayang, buka celanamu. Aku sudah tidak tahan lagi juniorku ada di dalam diriku," ungkap Tasya dengan suara yang menggoda.
Tama langsung membuka celananya dan sekarang Tama sudah tidak menggunakan sehelai benangpun. Tama langsung merangkak ke arah Tasya dan menindihnya. Tama langsung mengarahkan juniornya ke ****** Tasya. Tama menghentakkan juniornya untuk mendorong masuk ke ****** Tasya.
"Aaahhh...!" Tasya mendesah panjang ketika junior Tama masuk sempurna dalam dirinya. Tama langsung mengoyangkan pinggulnya dengan cepat. Tasya tetap mendesah walau Tama sangat kasar untuk mencapai kenikmatan.
"Aaahhh... aaahhh... aaahhh...!" Tasya terus mendesah lebih keras.
"Terus sayang, aku suka goyangannya." Tasya meracau tidak jelas. Tama terus menggoyangkan pinggulnya dengan cepat biar dia cepat mendapatkan pelepasan.
"Aaaaaaaaaahhhhhhhhh...!" Tasya mendesah panjang, karena dia mendapatkan puncaknya dan tidak lama setelah itu baru Tama mendapatkan puncaknya juga.
Tama langsung berdiri dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. Tama tidak memperdulikan Tasya lagi. Saat Tama keluar dari kamar mandi Tama melihat Tasya sedang tidur dan tubuhnya sudah ditutupi selimut. Tama yang sudah berpakaian lengkap segera meninggalkan Tasya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Tasya.
"Aku mau pulang, urusan kita sudah selesai. Ku harap kamu menepati janjimu," Tama langsung melangkah keluar dari kamar hotel.
Sepeninggalan Tama, Tasya hanya tersenyum saja.
"Aku akan menepati janjiku, tapi tidak untuk merelakan mu dengan dia," ungkap Tasya dengan tatapan penuh rencana.
*****
"***Maafkan aku
Mungkin ini memang jalan yang salah
Aku telah menghiatimu lagi
Aku memang tidak pantas untukmu
Tapi, aku tidak bisa melepasmu
Kedengaran sangat egois
Biar aku tidak peduli
Yang ku mau hanya kamu
Apa kamu akan mau memaafkan aku lagi
Aku hanya ingin melindungi mu
Aku tidak ingin kamu bersedih
Yang ku mau hanya kamu"
-Tama***-
__ADS_1