
Happy Reading!!
Pagi l-pagi sekali Tama di bagunkan oleh Mamanya untuk bergegas mandi. Meski, awalnya dia tidak mau, tapi Tama terus dipaksa Mamanya. Dengan berat hati, Tama melangkah ke kamar mandi.
Selesai mandi Tama sudah memakai pakaian santai dan menuju meja makan, karena saat ini keluarganya berada di sana.
"Pagi Ma, Pa," sapa Tama, "tumben Mama dan Papa sudah rapi, seperti mau kekondangan."
"Masa iya," jawab Mama Tama.
"Cepat habisin sarpanmu dan ikut dengan kami," perintah Papa Tama.
"Kenapa aku harus ikut?" Tama bingung dengan orang tuanya.
"Ikut saja yang jelas!"
"Tapi Ma," protes Tama.
"Tidak ada tapi-tapian Tama," Mamanya memperingakan Tama.
"Baiklah," jawab Tama tidak semangat, "siapa sih yang nikah, Ma? Kenapa juga aku harus ikut. Lebih bagusnya aku ke rumah Qy saja."
"Jangan banyak protes juga, Tama. Menurut saja sama Mama, nanti kamu pasti akan terus berterima kasih kepada Mama.
"Aku gak ngerti maksud Mama."
"Maka dari itu, kalau kamu tidak mengerti menurut saja apa yang Mama bilang," kali ini Tama tidak protes lagi, karena percuma, Mamanya tetap akan memaksanya.
Selesai sarapan Tama dan keluarganya, pergibke sebuah gedung yang sangat indah dengan dekorasinya. Tama tidak berhenti menatap setiap dekorasi yang ada di sana dan berencana akan membuat pesta pernikahan melebehi ini.
__ADS_1
Tama tidak sadar, sekarang dia sedang berada di sebuah ruangan. Tama menatap sekeliling dan tampak bingung juga kenapa dia berada di sini.
" Ma, kenapa kita berada di sini?" tanya Tama kepada Mamanya, tapi Namanya tidak menjawab malah menyuruh orang membawakan baju ganti untuknya.
"Kamu ganti bajumu dengan ini," ucap Mamanya, tanpa memperdulikan kebingungan Tama.
Masih dengan bingungnya Tama memakai baju tersebut. Saat dia sudah siap memakai baju itu dan berkaca. Tama baru sadar, ini adalah baju pengantin pria. Tama segera keluar dan mencari Mamanya.
" Ma, apa-apaan ini! Sipa yang mau menikah?" tanya Tama kepada Mamanya.
"Kamu yang make, berarti kamu yang nikah," jawaban Mamanya membuat jantung Tama berhenti berdetak.
"Apa! Aku yang menikah? Sama siapa? Aku tidak mau menikah kali tidak sama Kiuw!" Tama menyerocos dengan kepanikannya.
"Maaf Tama, Mama tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kamu harus melupakan Qy, mulai hari ini. Mama akan menikahkan kamu dengan rekan bisnis Papa, kamu.
"Apa! Mama jangan bercanda, Mama sudah tahu bagai mana perjuanganku tiga tahun ini," Tama syok.
"Tidak bisa Ma! Aku tidak bisa ini terjadi. Aku harus pergi dari sini," ucap Tama panik.
"Kamu mau, membuat perusahaan kita bangkrut."
"Bangkrut? Aku rasa perusahaan aman-aman saja," jawab Tama, masih mempertahankan pendapat dan pendiriannya.
"Sekarang tidak aman."
"Astaga! Ini tidak mungkin."
"Ya sudah kamu siap-siap. Sebentar lagi acara akan dimulai."
__ADS_1
Tama kali ini tidak bisa ngomong apa sama Mamanya. Kenapa dia selalu jadi tumbal.
"Astaga!" Tama terus mengeluh dalam hatinya dan mencarinya jalan untuk kabur, tapi Mamanya tidak pernah beranjak dari tempatnya. Bagaimana caranya akan kabur? Tama terus berfikir,btapi masih tidak menemukan ide apapun.
"Maafkan aku Qy," hanyabkata itu yang selalu terulang dalam hati Tama.
Tiga puluh menit kemudian, Tama selesai dan Mamanya langsung membawa Tama kebaula yang sudah disiapkan untuk akad nikah. Tam sudah berencana akan kabur, tapi Mamanya seolah bisa membaca gilirannya. Tangan Mamanya tidak lepas dari Tama dan Papany di samping kirinya.
"Astaga! Apa-apaan ini!" keluh Tama dalam hatinya.
Ketika sampai di aula yang sudah disiapkan. Tama sudah melihat penghulu dan berserta sakti ada di sana.
"Hari ini memang tamatlah wirayatku," fikir Tama lagi.
Tama di persilakan duduk di depan penghulu dan akan segera membacakan ijab kabul.
"Ijab kabul seperti apa yang akan aku ucapkan? Namanya saja aku tidak tahu," maki Tama dalam hati.
Tidak lama setelah itu, keluarlah pengantin wanita di sebuah ruangan. Tama nampak terpana dengan sosok wanita tersebut. Sehingga matanya tidak bisa beralih dari sosok wanita tersebut. Tama terpesona.
Sedangan wanita tersebut hanya menundukkan kepalanya, tanpa melihat sekelilingnya. Tatapannya tampak kosong.
"Kita mulai akadnya," ucap penghulu.
Tama melihat tangan siapa yang disalami saat ini. Orang yang dilihat Tama hanya memberikan senyum simpul.
*****
"Kamu milikku dan akan selalu milikku
__ADS_1
Ini akan berakhir bahagia."
-Tama-