Mencintaimu Satu

Mencintaimu Satu
23. Menahan Rindu


__ADS_3

Sinar mentari yang masuk melalui celah-celah gorden, membuat tidur Tama terganggu. Tama mencoba membuka matanya, tapi matanya terasa berat untuk dibuka dan kepalapun terasa sakit. Tama meraba di mana dia tidur sekarang, ternyata dia tidur di atas kasur. Tama mencoba menyemangatkan dirinya, untuk bisa bangkit dari tempat tidur. Meski, terasa sakit seluruh badannya, Tama terus melangkah ke kamar mandi.


Tama sudah selesai mandi, tapi sakit kepalanya tidak kunjung reda. Suhu badannya terasa panas. Tama kembali merebahkan tubuhnya yang dililit haduk ke tempat tidur. Tama mengambil ponselnya di atas nakas dan menelfon sekretarisnya.


"Hallo, Wan. Tolong ke kamarku! Ada yang perlu aku bicarakan," perintah Tama ke sekretarisnya, tanpa menunggu jawaban, Tama langsung memutuskan sambungan telfonnya.


Tidak lama setelah itu, sekretaris yang ditelfon Tama tadi masuk dan ketika melihat keadaan Tama yang pucat langsung berinisiatif untuk menelfon pihak hotel, untuk menelfonkan dokter.


"Tuan, istirahat saja dulu. Sebentar lagi dokter akan datang," katanya sambil merapikan selimut Tama.


"Wan, bagaimana keberangkatan kita hari ini?" tanya Tama pelan.


"Tuan, jangan fikirkan itu dulu. Sekarang Tuan istirahat saja dan saya akan mengurus semua untuk Tuan. Tuan kelihatan sangat tidak sehat."


"Aku tidak apa-apa. Mungkin hanya efek, aku mabuk semalam. Ohya, apa kamu yang membawa aku kembali?"


"Iya,Tuan."


Tak lama setelah itu, bel kamar berbunyi. "Maaf, Tuan aku tinggal sebentar. Mungkin, Dokter sudah datang," Iwan langsung pergi keluar untuk membuka pintu kamar dan kembali bersama seorang Dokter laki-laki. Soalnya kalau Dokter perempuan yang datang tamatlah wirayat Iwan hari ini.


Dokter dipersilakan untuk memeriksa keadaan Tama. Sedangkan Iwan memperhatikan saja di ujung tempat tidur di mana saat ini Tama terdampar. Setelah memeriksa keadaan Tama dan memberikan obat untuk Tama, Iwan langsung menanyakan keadaan Tama.


"Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Iwan ketika Dokter itu keluar dari kamar Tama.


"Sebenarnya aku mau tanya, apa dulu dia pernah kehilangan ingatan?" tanya Dokter itu serius.

__ADS_1


"Oh, itu saya pernah dikasih tahu. Kalau dia dulu pernah mengalami hilang ingatan, tapi sudah sembuh dua tahun yang lalu," jelas Iwan kepada Dokter tersebut.


"Begini, sekarang dia mengalami shock dan takanan. Jadi, itu membuat keadaan ngedrop. Saya beri saran jangan dulu bikin dia banyak berfikir dan banyak istirahat. Ini resep obat yang akan anda tebus. Setelah dia bangun nanti, tolong langsung beri dia obat dengan teratur. Ingat! Jangan biarkan dia berfikir terlalu keras dulu. Saya takut hal yang tidak diinginkan terjadi," Dokter tersebut keluar dari penthause Tama diantar Iwan Samapi pintu.


Iwan kembali ke kamar Tama untuk memeriksa keadaan Tama. Setelah itu dia keluar lagi untuk menebus resep obat yang diberikan dokter tadi. Ketika di Apotik, Iwan tidak sengaja bertemu dengan Kiuw.


"Hai, kamu sekretarisnya, Tamakan?" sapa Kiuw ketika melihat Iwan.


"Iiiya, Nona. Saya sekretarisnya, Tuan Tama."


"Siapa yang sakit?" tanya Kiuw.


"Oh, tidak ada, Nona. Saya cuma beli vitamin untuk saya sendiri," jawab Iwan berbohong.


Kiuw hanya menganggukkan kepalanya saja dan meminta petugas Apotik untuk mengambilkan vitamin untuknya.


"Oh, iya. Makasih," jawab Iwan, "Nona saya pergi dulu," kata Iwan sambil menunduk sopan.


*****


"Maafkan aku, Qy. Aku memang sudah banyak menyakitimu dan melukai perasaanmu. Sekarang aku berjanji tidak akan pernah lagi menyakitimu, Qy. Aku akan mengiklankan semua kenangan kita. Aku akan pergi dari hidupmu selamanya. Selamat tinggal Qy," Tama membalikan badannya dan meninggalkan Kiuw sendiri. Tapi tidak lama setelah itu, tiba-tiba terdengar suara keras dan orang-orang berlarian ke arah suara tersebut.


Kiuw yang juga penasaran dengan orang-orang tersebut, juga pergi ke tempat orang yang berkerumun. Ternyata, ada orang yang ke tabrak mobil. Kiuw yang penasaran, langsung menerobos kerumunan tersebut dan melihat siapa orang kecelakaan. Betapa terkejutnya Kiuw, ternya orang yang tertabrak mobil itu tidak lain adalah Tama.


Kiuw langsung memeluk tubuh Tama yang penuh darah dan menyuruh orang untuk menelfonkan ambulan.

__ADS_1


"Tama, sadar Tama. Kita tidak bisa begini, maafkan aku yang tidak jujur dengan perasaanku. Tama! Buka matamu! Jangan tinggalkan aku!" Kiuw menangis sejadi-jadinya.


Tidak lama setelah itu ambulan datang dan membawa Tama. Kiuw juga tidak mau ketinggalan dia juga masuk kedalam ambulan. Di dalam ambulan, Kiuw tidak henti-hentinya menangis. Tapi, Tama tidak tetap tidak membuka matanya.


Sesampai di rumah sakit, Tama langsung dibawa ke ruang IGD. Kiuw sedang menunggu di luar dan tidak diperbolehkan masuk. Kiuw menunggu dengan gelisah di luar danterus berdoa dalam hatinya. Sekitar empat puluh menit, seorang Dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Keluarga Tama," kata Dokter tersebut.


"Saya, Dok."


"Maaf, kami sydah melakukan dengan semaksimal mungkin. Tapi, nyawa korban tidak tertolong. Maaf! Nanti jenazah akan di pindahkan."


Kiuw yang mendengar kabar tersebut, seperti disambar petir siang bolong. Kiuw tidak mampu lagi menupang tubuhnya. Sehingga tubuhnya langsung jatuh ke lantai. Kiuw menyesali semua terjadi, Kiuw tidak tahu lagi harus berbuat apa. Hanya penyesalan yang dia rasakan saat ini.


Kiuw berlari ke dalam dan tidak mampu lagi menahan semua. "Tama, maafkan aku. Ini semua salahku, jika aku tidak egois, maka semua ini tidak terjadi. Tama! Bangun! Aku mencintaimu! Rasa ini tidak pernah berubah untukmu, hanya ego ini yang menguasai aku."


"Tama! Ini tidak mungkin!"


"Tama!"


"Tama!"


"Jangan tinggalkan aku!"


"Aku mencintaimu!" Kiuw terus menangis.

__ADS_1


*****


__ADS_2