
Pagi-pagi sekali Tama pergi ke rumah Kiuw untuk pergi ke sekolah bersama. Kiuw nampaknya terkejut ketika saja Tama sudah ada di meja makannya.
"Pagi Ma! pagi Pa! Tama pagi, kapan kamu ke sini?" Tama hanya senyum saja mendengar pertanyaan Kiuw sambil mengangkat kedua bahunya.
"Mungkin dari tadi malam," gurau Tama.
"Masa iya?"
"Yah begitulah," kata Tama sambil melanjutkan makannya.
Kiuw duduk di samping Tama dan menikmati sarapannya dengan rasa penasaran. Karena tumben sekali Tama pagi-pagi sekali datang ke rumahnya. Tama dan Kiuw sudah selesai sarapan dan bersiap berangkat ke sekolah. Saat di atas motor Tama, Kiuw masih bertanya ada apa gerangan Tama pagi-pagi sudah berada di rumahnya.
"Tama aku masih penasaran tumbenan kamu pagi-pagi ke rumahku. Gak biasanya," masih dengan rasa penasarannya.
"Memang jadi masalah? Aku kan mau dekat sama calon mertuaku," jawab Tama tanpa fikir panjang.
"Masa" expresi Kiuw yang kaget dan agak gugup dengan jawaban Tama. Tama hanya terkekeh geli mendengar reaksi Kiuw. Tidak terasa mereka sudah sampai di sekolah, Tama memakirkan motornya dan Kiuw masuk ke kelas barengan sama Tama.
Tanpa mereka sadari sepasang mata terus memperhatikan mereka dengan mata penuh dendam. Siapa lagi kalo bukan Tasya, yang terus memperhatikan Tama dan Kiuw sejak mereka baru sampai di sekolah tadi.
*****
Malamnya Tama pergi sama temannya ke tempat hiburan. Saat ini teman-temannya sudah menunggu Tama di sana. Tama sudah sampai di tempat hiburan yang ada di Kota tempat tinggalnya sekarang.
"Hy Bro! baru datang nih," sapa teman Tama yang lagi duduk dekat meja batender.
"Iya, ada yang bagus gak hari ini?" Tama bertanya pada temannya itu.
"Tentu dong, ada," sambil meminum minumannya sampai tandas.
"Boleh tu," tanya Tama semangat, "udah lama ni puasa."
"Hahahahahaha... gaya lo Bro!" sambil menepuk bahu Tama pelan, gue panggilin ya, buat lo.
"Oke! gue tunggu di sini!" Teman Tama berlalu meninggalkannya.
Tak lama setelah itu dia datang lagi bersama seorang cewek, sangat sexi sekali, bajunya menampakkan bentuk tubuhnya dengan belah dada yang sangat rendah. Rambut yang bergelombang dicat merah, bibir juga merah menggoda.
"Bagai mana Bro!" tanya Tristan, saat dia membawa cewek itu dekat Tama.
"Oke!" jawab Tama lalu memeluk pinggang cewek itu.
"Selamat bersenang-senang Bro!" Tristan meninggalkan Tama dengan cewek yang baru dibawanya tadi. Sekarang hanya tinggal Tama dan cewek itu entah siapa namanya Tama juga tidak tahu.
"Sayang ke VIP Room yuk!" ajak Tama mempererat rengkuhannya dipinggang cewek itu dan cewek itu hanya mengangguk dan tersenyum menggoda.
Di dalam cewek yang dipanggil sayang oleh Tama terus menempel bagaikan perangko.
"Sayang malam ini kita bersenang-senang," ungkap Tama kepada cewek itu.
"Iya sayang, malam ini hanya milik kita berdua," bisiknya sambil bersulang. Saat ini entah siapa yang mulai dahulu, mereka sudah saling melumat penuh gairah. Tama terus menggeril tubuh cewek itu dengan tangannya tidak satupun yang terlewatkan oleh tangan Tama.
Ciuman panas mereka tidak akan berhenti kalau diantara mereka berdua sudah menghabiskan pasokan oksigen. Deru nafas mereka terdengar jelas di ruangan itu, sebagai nyanyian yang menggairahkan.
Tama kembali mencium cewek itu, sedangkan cewek itu tidak mau kalah untuk membalas cumbuan Tama. Suasana di ruangan itu semakin panas, dikala tangan Tama sudah bersarang di bukit kembar cewek itu. Tanpa melepaskan ciuman mereka, Tama terus meremas bukit kembar di balik baju itu dengan kasar.
__ADS_1
"Sayang kau sangat menggoda sekali," disela ciumannya.
"Aaaaghhhh...!" cewek itu hanya bisa mendesah.
Tama mengangkat tubuh cewek itu dipangkuannya. "Sayang aku ingin menikmatinya," bisik Tama serak di telinga cewek itu.
"Aku milikmu sayang," membalasnya bisikkan Tama sambil melingkarkan tangannya di leher Tama dan mencium bibir Tama dengan gairah yang menggebu-gebu.
*****
Paginya seperti kemarin Tama kembali menjemput Kiuw di rumahnya dan ikut sarapan bersama dan berangkat sekolah bersama. Saat sampai di sekolah, seperti biasa Tama memakirkan motornya di pakiran. Jalan beriringan ke dalam kelas seperti sijoli, tapi saat hampir sampai dalam kelas Tama ada orang yang menarik tangannya.
"Tasya!" Tama nampak kaget karna ditarik tiba-tiba.
"Aku kira kamu lupa namaku Tama," setelah mendapatkan cewek murahan itu.
Tama menarik Tasya menjauh dari kelasnya. "Apa maksudmu heh, bilang Qy cewek murahan?"
"Kamu nanya maksudku? Lucu sekali kamu," Tasya tersenyum tipis.
"Terus aku harus tanya apa sama kamu?"
"He, aku tidak akan membiarkan kamu sama cewek murahan itu tenang. Lihat saja Tama, aku tak akan biarkan itu terjadi. Kamu hanya mencampakkan aku cuma gara-gara dia. Apa kurang aku coba?" Tasya mengungkap perasaan marahnya yang dia pendam selama ini.
"Apa maksudmu? Mau ngancam aku? He, coba saja kalo bisa," Tama berlalu meninggalkan Tasya di sana.
"Tama!" panggil Tasya. Ya hanya berhenti tanpa membalikan badannya, tanpa diduga Tama, Tasya malah berlari ke arahnya dan memeluknya dari belakang, " i love you Tama."
Tama hanya diam saja tanpa membalas ucapan Tasya dan melepaskan diri dari pelukan Tasya. Tama melangkah lagi ke dalam kelasnya.
Sepeninggalan Tama, Tasya tersenyum tipis karena dia tidak akan menyerah begitu saja mendapatkan keinginannya.
*****
"Satu ... dua ... tiga ..."
Balapanpun dimulai, Tama telah menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi. Tikungan demi tikungan dilewati sebelum sampai digaris finish. Tama terus memacu kecepatannya meninggalkan lawannya. Lawannya tidak dapat mengejar kecepatan motor Tama, mau tak mau Tama lebih dulu sampai digaris finish. Tama disambut meriah oleh teman-temannya dan pendukungnya.
Saat itu datang seorang cewek yang begitu sexi, pakaian yang dipakainya menampilkan lekuk-lekuk tubuhnya.
"Kamu mendapatkan aku," bisiknya ketelinga Tama.
Tama mendengar itu hanya tersenyum dan merengkuh pinggang cewek sexi itu posesif. Cewek itu langsung melingkarkan tangannya di leher Tama dan mencium bibir Tama.
Untuk merayakan kemenangan Tama mereka pergi ketempat hiburan malam itu. Malam itu mereka nampak bersenang-senang sehingga dunia ini hanya milik mereka saja, tanpa memperdulikan orang yang ada disekitarnya.
Di tempat lain Kiuw lagi tiduran di kamarnya, sambil membaca buku novelnya. Tiba-tiba Mamanya masuk dalam kamar Kiuw.
"Qy, tidur lagi udah malam," ketika Mamanya masih melihat Kiuw sedang asik membaca.
"Sebentar lagi Ma, nanggung soalnya," jawab Kiuw sambil tersenyum.
"Sudah malam, lanjut besok saja yah!" Mama Kiuw menasehati anaknya.
"Iya deh Mama sayang, Qy siap nih," sambil menyusun bukunya dan meletakan kembali pada tempatnya.
__ADS_1
"Ya sudah tidur lagi, Mama keluar dulu!" Mama Kiuw meninggalkan kamar Kiuw.
"Oke!"
"Qy, apa kabar Tama sekarang?" tanya Mamanya.
"Baik kok Ma!"
"Apa hubungan kamu sama dia baik-baik saja? Kok jarang yah dia ke sini sekarang?" tanya Mama Kiuw.
"Sibuk Ma, kita kan mau menghapi ujian," Kiuw memberi alasan, karena dia tidak mau Mamanya kepikiran yang buruk sama Tama.
"Ya sudah tidur lagi."
"Siap komandan!" Mama Kiuw tersenyum melihat tingkah anaknya.
*****
Seperti malam kemarin Tama, kembali memenangkan pertandingan. Dia seperti telah merajai malam dengan sepeda motornya.
"Selamat Bro, lo, memang the best. Ini kartu untuk lo. Kali ini special buat lo dan bakalan dijamin berkelas. Alamatnya sudah gue kirim lewat chat," ungkap orang itu kepada Tama. Tama yang menerima itu hanya mengangguk saja.
"Wow, menang besar kali ini," fikir Tama dalam hati.
Tama menjalankan motor ke alamat yang telah dikirim temannya tadi. Saat ini Tama sudah samapai di depan pintu kamar yang di dalam chat. Tama langsung menggunakan kartu tadi. Pintu terbuka, Tama melihat suasana remang-remang. Tama terus menyusuri ruangan tersebut sampai akhirnya, Tama melihat cahaya lampu yang berkedip-kedip begitu indah.
Tama langsung masuk ke kamar itu, Tama memperhatikan sekeliling. Tama tidak melihat ada orang. Saat Tama benar-benar sudah masuk ke dalam kamar tersebut. Tiba-tiba ada orang yang memeluknya dari belakang. Tama sempat kaget, tapi ketika mendengar bisikan perempuan tersebut, Tama bisa mengontrol expresinya.
"Kamu mencariku? Aku ada di sini menunggumu dari tadi," bisiknya.
"Apa kamu suka suasananya?" bisiknya lagi. Tama hanya diam saja mendengarnya, karena Tama rasa dia begitu mengenal suara tersebut.
Tama cepat membalikkan badannya, ternyata bebar. Dia tidak hanya mengenal suara tersebut, tapi juga mengenal orang tersebut.
"Tasya!" Tama terkejut. Tasya yang melihat Tama yang terkejut hanya tersenyum saja.
"Kamu ngapain di sini?"
"Aku?" Tasya menunjuk pada dirinya. "Aku menunggumu di sini."
"Ini tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin? Aku akan mendapatkanmu apapun caranya itu," Tasya langsung mendorong tubuh Tama ke tempat tidur dan langsung melumat bibir Tama dengan rakus. Tama cepet membalikan tubuhnya dan sekarang posisinya, Tamalah yang menghimpit tubuh Tasya.
"Aku sudah memperingatkanmu! Apa kamu tidak mengerti?" Tama berbicara tegas kepada Tasya.
"Aku tidak peduli! Yang aku peduli hanya kamu dan kamu hanya milikku. Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia bersamanya."
"Dasar! Aku tidak menginginkan kamu!" Tama langsung bangkit dari tubuh Tasya, tapi belum sempat Tama berdiri, Tasya kembali menarik tubuh Tama. Sehingga Tama kembali jatuh ke atas tubuh Tasya.
"Kamu memang tidak bisa dibawa bicara baik-baik," Tama langsung melumat bibir Tasya kasar dan meraba seluruh tubuh Tasya dengan membabi buta.
Tasya mendesah dengan perlakuan Tama yang kasar. Tama merobek baju Tasya dan membuangnya kesembarangan. Sekarang tidak ada sehelai benagpun yang melekat ditubuhnya Tasya.
Tasya yang sudah dikuasai nafsu tidak terpikirkan olehnya bahwa Tama akan meninggalkannya, ketika dia akan mencapai puncaknya.
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa melakukannya denganmu," Tama langsung berdiri dan meninggalkan Tasya.
*****