Mencintaimu Satu

Mencintaimu Satu
6. Kencan Pertama


__ADS_3

Tama melajukan motor sportnya kesebuah taman bermain yang ada dekat daearah itu.


"Kamu benar mau ngajak ku ke sini Tama?" tanya Kiuw kurang percaya.


"Iya, apa kamu tidak suka Qy?"


"Suka, suka banget malahan Tama. Maksih sudah mengajakku ke sini, Erika dan Elina gak mau ku ajak ke sini. Selalu saja ada alasannya." ungkap Kiuw berapi-api. "Oh-ya Tama aku mau naik semua wahana yang ada di sini, apa kamu mau?"


"Oke siapa takut!" tantang Tama.


"Ayok! Kita mulai dari mana nih?"


"Bagai mana kita mulai dari rumah hantu, bagai mana?" usul Tama.


"Ayok! Let's go!" teriak Kiuw. Tama hanya geleng-geleng kepala liat kelakuan Kiuw.


Pas di dalam rumah hantu Tama hanya bisa senyum-senyum melihat kelakuan Kiuw. Pantas saja sahabatnya gak mau diajak Kiuw ke sini. Lihat saja kelakuannyanya katanya berani dan tidak takut dengan hantu. Tapi, kenyataannya adalah sebaliknya. Kiuw malah berteriak-teriak histeris dan memeluk Tama Kuat. Sehingga membuat Tama susah berjalan ulah Kiuw.


Keluar dari rumah hantu Tama dan Kiuw naik wahana yang menguji ardenalin. Tama tidak habis fikir dengan Kiuw dia sebenarnya takut tapi tetap ngotot naik semua wahana tanpa kecuali. Terakhirnya Tama dan Kiuw menaiki biang lala, setelah mengantri cukup panjang akhirnya mereka mendapatkan giliran untuk naik biang lala. Untungnya pas di giliran mereka tidak ada orang lain di gerbong bianglalanya.


Gerbong bianglala yang mereka naiki berhenti pas di puncak dengan ketingian 30 meter. Suasana yang sanagat mendukung melihat pemandangan di atas sana sungguh romantis.


"Qy, jangan pernah tinggalkan aku apapun keadaannya nanti yah. Kadang aku merasa kamu akan meninggalkan aku." ungkap Tama dengan suara berat.


"Kamu ngomong apa sih Tama. Aku gak akan ninggalkan mu." jawab Kiuw mantap.


"Kamu serius Qy?"


"Iya,"


Tama namapak senang sekali secara reflex dia langsung memeluk Kiuw yang ada di sampingnya saat ini.


"Tama jangan kek gitu nanti kita jatuh." kata Kiuw menutup kegugupannya.


"Gak akan Qy," Tama mempererat pelukannya. Kiuw merasa senang diperlakukan Tama seperti itu. Berasa ini Tama yang dia punya dulu penuh kelembutan.


"Qy," panggil Tama, sedangkan Kiuw masih dipelukannya.


"Hkmmm..." jawab Kiuw.


"Kirain kamu tidur tadi."


"Memang boleh aku tidur disini?" Tama merenggangkan pelukannya dan melihat wajah Kiuw yang sendu. Mata, hidung dan mulut sangat seperti akrab di hati Tama, jadi Tama sangat nyaman melihat wajah Kiuw. Tama mendekatkat wajahnya kewajah Kiuw sehingga kening mereka menempel satu sama lain. Kiuw hanya diam saja dengan kedekatan mereka, rasa seperti terhipnotis dengan keadaan sekarang ini. Lalu Tama mendekatkan bibirnya kebibir Kiuw dan mencium bibir Kiuw dengan lembut. Awalnya Kiuw hanya diam saja tak membalas ciuman Tama. Lama-lama Kiuw juga menikmati dan membalas ciuman Tama.


Tama dan Kiuw sama-sama tak menyadari bahwa bianglala yang mereka naiki sudah berputar dari tadi. Sehingga mereka menyadari ketika bianglala berhenti dan itu pas juga ciuman mereka berakhir. Kiuw turun dari bianglala dengan pipi yang merah dan jantung yang seperti meraton, "oh my god kenapa nih jantungku,"batin Kiuw. Sedangkan Tama terus menggenggam tangan Kiuw dengan erat.


"Qy, kamu gak lapar? Kita makan dulu, baru kita pulang bagaimana?" Tama melihat Kiuw yang dari tadi hanya diam.


"Khmmm... iya nih aku juga lapar nih," rengek Kiuw pada Tama. Tama hanya senyum saja melihat tingkah Kiuw. Tama membawa Kiuw ke tempat orang jualan bakso yang ada disana.


"Kamu mau makan disini Qy?" tanya Tama soalnya ragu Kiuw mau makan di sini.

__ADS_1


"Ayok! aku suadah lapar nih," menarik tangan Tama masuk warung bakso.


Tama melihat Kiuw sekilas nampaknya Kiuw sangat menikmati makananya. Tama hanya tersenyum saja melihat Kiuw makan. Setelah menghabiskan makan baksonya, Tama dan Kiuw langsung pergi dari sana menuju dimana motornya di parkir tadi.


Kiuw nyampe rumah sekitaran jam delapan malam. Tama mengantar Kiuw samapai depan pintu rumahnya.


"Tama! masuk dulu."


"Gak Qy, udah malam. Kamu pasti capek, istirahat lagi yah," kata Tama sambil mengusap puncak kepala Kiuw lembut.


"Oke! baiklah. Kamu hati-hati dijalan yah, jangan lupa nyampai rumah kabari aku."


"Iya, kamu masuk gih. Aku pulang dulu yah sampai jumpa besok," kata Tama lembut dan mencium kening Kiuw lembut.


Kiuw masuk dalam rumahnya sedangkan Tama naik motor sport-nya pergi dari rumah Kiuw ke rumahnya. Sebenarnya rumah Kiuw dan Tama itu satu kompleks, tapi beda gang saja.


Di kamarnya Kiuw....


Kiuw baru saja siap membersihkan diri karena badannya terasa lengket-lengket seharian di luar rumah. Sambil membayangkan apa yang telah terjadi barusan.


Kiuw duduk dimeja belajarnya menuliskan sesuatu di buku diarinya.


Akhirnya kamu kembali lagi


Setelah sekian lama aku menunggu mu


Tanpa kabar dari mu


Hanya bisa rindu dan janji setia yang bisa ku genggam


Dan itu bukan keinginanmu


Sekarang kamu kembali


Bersama dengan rindu dan cinta


Tapi mengundang banyak tanya di hatiku


Kadang aku berfikir itu bukan kamu


Dan kadang aku  merasa itu kamu yang kurindukan...


Kaumu ungkapkan cinta seperti dahulu yang pernah terjadi


Kaumu beri aku kasih sayang yang takkan pernah ku pungkiri


Kamu kamu kamu entahlah


Aku juga tak  mengerti


*****

__ADS_1


Di rumah Tama...


"Asslammu'alakum Ma... aku pulang Ma!" ketika sampai di rumahnya.


"Walaikumusalam sayang, kamu dari mana?" tanya mama Tama nampak khuwatir.


"Aku pergi jalan-jalan Ma, sama Qy-nya aku," Tama menjawabnya enteng.


"Qy? maksud kamu Kiuw kah?" tanya Mamanya dengan expresi terkejut.


"Hkmmmm... iya"


"Apa kamu ingat Kiuw, Tama?"


"Tentulah ma Qy kan pacar Tama sekarang?"


"Apa itu main-main saja Tama? seperti pacar-pacarmu yang sering kamu ajak kencan Tama?"


"Dari mana Mama tahu," menatap Mamanya dengan curiga.


"Mama tahu saja sayang dan apa yang tidak Mama tahu tentang anak Mama."


"Oh-ya! Tapi Qy berbeda Ma, aku nyaman sama jika aku dekat sama dia Ma."


"Tama Mama harap kamu jangan sia-siain Kiuw yah," pinta Mama Tama dengan nada memohon ke Tama.


"Apa Mama kenal Kiuw?"


"Iya! Nanti kamu juga mengingatnya sayang."


"Tapi ma...!"


"Sudah sayang, makan dan istirahat lagi sayang,"


"Baiklah Ma, mungkin aku akan mengingatnya lagi saat waktunya telah tiba. Aku juga mau istirahat saja Ma, aku merasa letih sekali.


"Apa kamu tidak makan dulu sayang?"


"Tidak Ma, aku sudah makan tadi sama Qy, aku istirahat saja."


"Baiklah sayang, selamat istirahat sayang."


"Iya Ma," Tama pergi ke kamarnya untuk istirahat.


Sepeninggalan Tama, Mama Tama, Sinta hanya bisa membatin dalam dirinya. Melihat keadaan anaknya saat ini. "Maafkan Mama sayang karena keegoisan Mama kamu jadi begini. Mama berjanji akan memperbaiki semuanya untuk kamu."


*****


Tak selamanya masalah itu


Akan menimbulkan masalah

__ADS_1


Kita bisa memetik pelajaran


Dari masalah itu.


__ADS_2