
Hari ini di mana desain terbaru Kiuw dipamerkan, tamu- tamu sudah duduk di tempat yang telah disediakan. Kiuw sangat senang karena desainnya sudah terkenal di mana-mana.
"Nona, ada yang ingin bertemu dengan anda secara pribadi," kata sekretaris Kiuw.
"Memangnya siapa yang mau bertemu dengan saya?"
"Katanya orang yang akan berkerja sama dengan anda, Nona."
"Oke! Di mana?"
"Di penthause hotel ini, Nona," jawab sekretaris Kiuw.
"Aku akan segera ke sana," jawab Kiuw melangkah menuju lantai paling atas.
Kiuw melangkahkan kakinya menuju lantai atas hotel. Saat tiba di depan pintu penthause, Kiuw mencoba menekan bel. Tidak berapa lama menunggu ada orang yang membukakan pintu untuknya.
"Silakan masuk, Nona. Tuan sudah menunggu anda," perintah seseorang pria paruh baya.
"Makasih," jawab Kiuw pelan.
Pria itu membawa Kiuw ke sebuah ruangan, pria itu mengetuk pintu ruangannya tersebut.
"Masuk!" perintah orang di dalam. Kiuw dan pria tersebut masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Tuan, saya telah membawa Nona Kiuw bersama saya," lapor orang tersebut kepada orang yang duduk di kursi tersebut, yang sekarang menghadap kejendela.
"Tinggalkan kami berdua," perintah orang tersebut.
"Baiklah, Tuan!" Pria paruh baya itu meninggalkan ruangan dan sekarang meninggalkan Kiuw bersama pria yang tidak dia kenal.
"Apa kabarmu?" tanya pria tersebut masih belum membalikkan kursinya.
__ADS_1
"Baik! Anda siapa?" tanya Kiuw.
"Apa kamu sudah melupakan aku?" pria tersebut balik bertanya.
"Saya tidak mengenal anda," jawab Kiuw tegas. Lalu pria tersebut membalikan kursinya dan itu sontak membuat Kiuw terkejut.
"Ta... ma!" Kiuw terkejut dan menutup mulutnya.
"Kamu sudah melupakan suaraku?"
"Ada apa kamu di sini?"
"Menemuimu dan menjemputmu."
"Apa maksudmu?" tanya Kiuw bingung.
"Kamu adalah milikku dan akan selalu jadi milikku."
"Kita sudah berakhir!" Kiuw langsung membalikkan badannya dan keluar dari ruangan tersebut.
"Jangan pergi!" bisik Tama, "aku tidak akan mampu lagi menanggung beban ini lebih lama lagi."
Tubuh Kiuw terasa menegang, pelukan yang selama ini dia rindukan. Suara ini yang selalu menghantui. Wajah yang tidak mungkin dilupakan, tapi semua itu kalahkan oleh ego.
"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi! Aku sudah menghapus tentangmu dan tentang kita! Semuanya telah ku buang!"
"Kamu berbohong!" Tama tidak percaya yang dikatakan Kiuw.
"Untuk apa aku berbohong! Sekarang lepaskan aku!"
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu!" Tama membalikkan tubuh Kiuw dan langsung mencium bibir Kiuw.
__ADS_1
"Ciuman yang aku rindukan dan aroma maskulin yang aku rindukan," batin Kiuw dan sekarang tanpa disadari dia malah membalas ciuman Tama.
Kiuw membalas ciuman Tama dengan kasar, untuk menyalurkan rasa sakit yang di rasakannya. Ciuman mereka berakhir ketika mereka sama-sama tidak memiliki pasokan oksigen lagi.
"Masih sama," bisik Tama dan melumat bibir Kiuw lagi. Sekarang Kiuw membalasnya dengan rasa kerinduan.
"Aku merindukanmu," bisik Tama disela-sela ciuman mereka.
*****
"***Kamu milikku dan akan selalu jadi milikku!
Aku tidak akan pernah orang lain memilikimu!
-Tama-
"Apa yang terjadi dengan tubuh?
kenapa tidak mau menolak sentuhan dia?
kenapa aku sangat merindukan sentuhan ini?
ciuman ini
aku sudah berusaha untuk menolak
tapi, tubuhku
tubuhku tidak ini
ada apa ini
__ADS_1
aku ingin berteriak"
-Zeline***-