Mencintaimu Satu

Mencintaimu Satu
16. Hadir Diantara Kita


__ADS_3

Tama sedang menunggu Kiuw, di restoran biasa tempat mereka janjian. Tiba-tiba saja ada seorang cewek yang berpakaian sexi duduk di depan Tama.


"Hai, Tama. Sudah lama kita tidak jumpa," sapa cewek sexi itu.


"Tasya?


"Hmmm, aku kira kamu sudah melupakan aku, Tama," ucap Tasya sambil tersenyum kecut. "Aku senang ketemu kamu di sini, Tama."


Tasya sangat gembira sekali karena pertemuannya dengan Tama. Tapi sebaliknya yang dirasakan Tama. Dia merasa tidak nyaman sekali dengan kehadiran Tasya.


"Kenapa kamu berada di sini?"


"Hah, kenapa aku ada di sini? Di sinikan tempat umum. Jadi, siapa saja boleh ke sini dan kebetulan aku melihat mu sendiri ada di sini. Maka, dari itu aku menghampirimu. Oh-ya, tumben kamu sendiri di sini. Mana orang yang selalu menempel padamu seperti perangko?"


"Untuk apa kamu menanyakan, Qy?"


"Enggak ada, cuman bertanya saja. Apa kamu sudah insaf Tama?" tanya Tasya seperti mengejek Tama.


"Itu bukan urusanmu."


"Oh, ternyata sudah. Tapi, aku tidak akan membiarkanmu tertawa bahagia begitu saja. Setelah apa yang terjadi antara kita. Kamu membuangku seperti sampah dan kamu telah merendahkan harga diriku."


"Kamu mau mengancamku?"


"Terserah kamu kalau kamu menganggapnya seperti itu. Ya, sudah aku pergi dulu. Perangko kamu sudah datang," Tasya meninggalkan Tama dan menghilang dipintu di sisi lain.


Saat kepergian Tasya, barulah Kiuw datang dan langsung duduk di dekat Tama.


"Lihat apa sih?"


"Heh, kapan kamu datang?" Tama terkejut karena sudah duduk di sampingnya.


"Baru saja. Kamu lihat apa?"


"Enggak ada kok! Bagai mana lancar urusannya?"


"Lancar dong! Nanti semua persiapannya selesai aku akan mengajak kamu. Aku akan mengadakan opening Minggu depan.


"Oke! Aku akan menunggu kabar darimu nanti," Tama merasa bahagia juga atas keberhasilan Kiuw.


"Oke! Apa kamu sudah pesan?"


"Sudah, sebentar lagi akan datang


*****


Tasya melenggang ke kantor Papanya. Semua karyawan yang di sana terpana melihat penampilan Tasya yang sexi. Tanpa memperdulikan orang yang di sekitarnya, Tasya langsung saja masuk ke lif, menuju ruang Papanya.


Saat Tasya masuk keruangan Papanya. Tasya, tidak menemukan ke beradaan Papanya dan Tasya langsung saja duduk dikursi kebesaran Papanya. Saat iseng membuka bekas Papanya yang berada di atas meja. Tasya, tidak sengaja melihat ada nama Kiuw di atas meja Papanya. Karena penasaran, Tasya membaca berkas itu.


"Wow, ini rencana besar," sorak Tasya dalam hati.


*****

__ADS_1


Tama dan Kiuw saat ini berada di taman belakang rumah Tama. Mereka sedang bersantai-santai saja menikmati suasana sore.


"Tama aku sangat senang sekali, karena kontrak kerja sama ku diterima. Waktu opening nanti disain-disaiin baju yang kurancang akan langsung dipromosikan keberbagai negara dan mengunakan model-model papan atas. Ini awal yang baik untukku," ungkap Kiuw sangat senang.


"Wow! Aku turut bahagia. Aku mendoakan selalu lancar."


"Amin. Makasih Tama."


"Makasih."


"Iya."


"Kamu masih belum memikirkan kegiatanmu, Tama?" tanya Kiuw pada Tama


"Aku berfikir lebih baik aku ikut Papa saja pergi ke kantor. Belajar tentang perusahaan dan lain-lainya.


"Yah, itu sangat bagus. Aku senang kamu sudah memikirkan itu. Aku tidak mau nanti kamu hanya mengandalkan orang tua kamu saja. Tanpa harus berusaha dan memikirkan masa depan kita," kata terakhir diucapkan Kiuw agak pelan. Namun, Tama masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Kata terakhirmu, bisa kamu ulangi lagi, Qy?" Tama mencoba menyuruh Kiuw untuk mengulanginya.


"Memang aku bicara apa?" Kiuw pura-pura tidak mengerti.


"Apa itu dari hatimu?"


"Apa kedengarannya aneh?" Kiuw tidak menjawab pertanyaan Tama.


"Jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan. Kalau hanya untuk mengalihkan pembicaraan."


"Aku ingin mendengarnya sekali lagi."


"Ini siaran langsung," jawab Kiuw sambil tertawa.


"Kamu menggodaku?"


"Entahlah, tapi kalau itu anggapanmu aku tidak masalah."


"Boleh dong," Tama memainkan kedua alis matanya turun-naik, turun-naik.


"Mesum."


"Hahaha... aku gak maksud seperti itu. Apa boleh buat kalau kamu berbicara seperti itu," Tama langsung mendekatkan bibirnya ke bibir Kiuw dan menciumnya dengan lembut. Kiuw kaget, tapi dia masih membalas ciuman yang diberikan, Tama.


"Bibirmu manis," ketika mereka sudah mengakhiri ciuman mereka.


"Raja gombal."


"Boleh nambah?" tanya Tama, yang berniat menggoda Kiuw.


"Gak boleh!"


"Pelit."


"Biarin."

__ADS_1


"Qy, apa dulu kita sebahagia ini?" tanya Tama tiba-tiba.


"Bahagia dan penuh perjuangan."


"Waktu itu di mana awal kita ketemu?"


"Di arena balap liar," Kiuw menjawab dengan enteng, tapi Tama kaget mendengar jawaban Kiuw.


"Apa?"


"Kenapa kamu terkejut? Kan tempat itu, tempat favorit kamu," Kiuw sedikit menyindir Tama.


"Kamu gak aneh-anehkan di sana?"


"Aku? Enggak aneh-aneh. Kamu yang aneh malahan," jawab Kiuw sambil mengulum senyumnya.


"Masa!"


"Hkmmm... Kamu yang aneh minta aku, jadi teman kencanmu. Padahal sudah banyak wanita cantik di sampingmu. Sedangkan aku memunggunginya, anehkan."


"Iya, aneh. Terus kenapa kita bisa berpisah?"


" Karena kamu akan menikah?"


"Apa?" ini lebih mengejutkan Tama.


"Hmmm... Kamu akan menikah."


"Kok bisa," masih belum lepas dengan keterkejutannya.


"Nanti kamu akan mengingatnya."


"Curang!" Bukan Kiuw tidak mau menceritakannya, tapi Kiuw takut nanti terjadi kesalah pahaman antara Tama dan Mamanya.


*****


"Bila Tuhan mengijinkan aku untuk


Mengingat kisah kita lagi.


Aku sangat merasa beruntung memiliki kesempatan itu


Karna, adanya dirimu di sini, di sisiku lagi


Adalah hal yang paling terindah di hidupku.


Mungkin, Tuhan masih sangat menyayangi ku


Sehingga, aku masih diberi kesempatan


Untuk bisa bersamamu lagi"


-Tama-

__ADS_1


__ADS_2