
Sampai di sekolah pagi itu, Kiuw sudah berada dalam kelasnya menunggu jam pelajaran dimulai. Saat ini dia belum melihat Tama datang ke sekolah, berapa bulan terakhir ini Tama memang sudah sering telat datang ke sekolah dan sifatnya juga sedikit berubah sama Kiuw.
Sebelumnya Kiuw memang tidak ambil pusing dengan semua itu, toh samapai saat ini Kiuw tidak penah melihat Tama selingkuh di depannya.
Sahabatnya duo E juga sudah bilang sama Kiuw, kalau dia pernah liat Tama sama cewek lain di cafe. Bukan Kiuw tidak mau percaya sama sahabatnya itu, tapi dia percaya sama Tama. Kiuw masih yakin Tama, bahwa Tama tidak akan mengecewakannya.
Gosip-gosippun juga sudah beredaran dikalangan siswi-siswi penggemar Tama, tapi Kiuw menepis semua dia masih memepertahan kepercayaannya terhadap Tama.
Saat istirahat rasa otak Kiuw sudah suntuk banget, Tama juga belum menampakan batang hidungnya sampai saat ini. Entah kemana sesosok Tama?
Kiuw berjalan ke rooftop sekolahnya, rasanya hari ini Kiuw membutuhkan udara segar untuk memulihkan otaknya yang benar-benar sesak. Saat sampai di rooftop, Kiuw duduk, angin menerpa wajahnya seperti ingin memeluk hati Kiuw yang sedang galau.
Tiba-tiba ada suara yang mengusik ketengan Kiuw, awalnya Kiuw tidak menghiraukannya, tapi lama kelamaan suara itu sangat mengganggu Kiuw. Kiuw melangkah mengikuti suara itu ternyata orang sedang pacaran. Kiuw penasaran siapa yang pacaran di lingkungan sekolah saat ini.
"Sayang ...! kok bibir kamu manis sekali."
Deg! Suara itu. Kok seperti kenal, Kiuw menghentikan langkahnya. Kiuw sangat mengenali suara itu, dengan suara Kiuw tidak bisa tertipu. Kiuw kembali melihat ke arah orang yang sedang bermesraan itu.
"Astaga dia benar Tamaku," erang Kiuw didalam hatinya.
Kiuw tidak bisa menahan air matanya saat ini. Saat ini Tama memang nyata bercumbu ria di depan matanya.
"Kiuw, jangan gegabah ambil langkah. Tama kehilangan ingatannya, sabar Kiuw demi kesembuhannya. Sabar, sabar, sabar," Kiuw berperang dengan hatimya. Antara gampar dan meninggalkan Tama di rooftop.
Akhirnya Kiuw memilih meninggalkan Tama dengan entah siapa cewek yang di pacarinya saat ini. Kiuw terus pergi ke kelasnya dan mengambil tasnya saat ini. Dia berfikir membutuhkan suasana kamarnya.
*****
Hari ini Kiuw berencana pergi ke rumah Tama. Saat sampai depan rumah Tama, Kiuw sudah melihat Mama Tama di halaman rumah yang sedang menyiram bunga.
"Ma! Assalamualaikum."
"Walaikum salam, Qy! Sayang gimana kabarnya," sambut Mama Tama hangat sambil memeluk Kiuw.
"Kabar baik Ma, Mama apa kabar. Qy kangen Mama."
"Duh, Mama juga kangen sama kamu. Kok, sudah lama enggak ke sini? Padahal Mama udah sering suruh Tama bawa kamu ke sini. Katanya kamu sibuk," Mama Tama curhat panjang lebar.
"Iyah Ma," mau tak mau Kiuw menjawab iya.
"Kenapa kamu tidak bareng Tama saja ke sini?" sambil jalan membawa Kiuw ke dalam rumah.
"Apa Tama belum pulang Ma?"
"Belum, apa dia tidak kasih kabar kamu?" tanya Mama Tama menyelidik.
"Enggak Ma, kirain Tama sudah pulang."
"Akhir-akhir ini dia sering pulang telat dan sering jarang pulang malahan. Apa dia juga gak kasih tahu kamu Qy?" Kiuw hanya menggelengkan kepalanya lemah.
"Benar-benar tu anak yah! Sepertinya dia keluyuran tak menentu lagi. Kalau seperti ini Mama tidak bisa biarkan, Mama harus kasih pelajaran sama tu anak!" Kata Mama geram dengan kelakuan Tama.
"Ma, biar Qy saja dulu yang ngomong sama Tama yah. Nanati kalau Qy masih gak bisa baru Mama yang tegur, Tama," Kiuw mencoba membujuk Mama Tama.
"Oke, baiklah sayang."
Jam sudah menunjukan 08.00 malam, tapi Tama belum juga menunjukan batang hidungnya. Ditelfon berkali-kalipun tidak ada respon sama sekali. Kiuw berencana untuk pulang saja ke rumahnya, besok dia ke sini lagi untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Ma, Qy pulang lagi yah."
"Enggak tunggu Tama Qy?"
"Udah malam Ma, besok Qy ke sini lagi," alasan Kiuw.
"Ya udah hati-hati dijalan ya, sayang," sambil mengantar Kiuw ke depan.
__ADS_1
"Dah, Ma, besok Qy ke sini lagi. Assalamualaikum."
"Walaikum salam."
*****
Semenjak kejadian di rooftop sekolah waktu itu, Tama tidak pernah menunjukan batang hidungnya di sekolah maupun di rumah. Tama benar-benar hilang entah ke mana, Kiuw sudah menanyakan kepada Mama Tama, bahwa Tama tidak ada masuk kelas.
"Qy, kenapa kamu sepertinya murung banget?" tanya Erika yang melihat Kiuw hanya melamun saja.
"Iya nih, akhir-akhir ini kamu sering melamun. Apa ada masalahkah?" kali ini Elina yang bertanya sama Kiuw.
"Tama gak pulang-pulang selama seminggu ini, aku gak tahu harus bagai mana lagi. Kemaren aku melihat dia sama seorang cewek di rooftop. Aku gak tahu sekarang harus ngelakuin apa? Disatu sisi hati ku yang tersakiti dan satu sisi lagi Tama sedang sakit, dia tidak bisa terlalu banyak berfikir, tapi kali ini aku gak bisa mengendalikannya," ungkap Kiuw keteman-temannya dan tidak bisa menahan air mata lagi.
"Qy, jangan nangis dong. Nanti kita dikirain ada apa-apa sama yang lain," Erika mencoba menenangkan Kiuw. Sedangkan Elina hanya mengangguk tanda setuju.
"Aku tahu di mana Tama, ada teman Kakakku cerita tentang dia kemaren. Nanti malm kita coba liat juga ke sana," ungkap Erika lagi menyuruh Kiuw menghapus air matanya.
"Baiklah." jawab Kiuw singkat.
Sesuai perjanjian, malam ini Kiuw pergi ke rumah Erika. Sebelum itu Kiuw menjemput Elina dulu di rumahnya. Saat sampai di rumah Erika jam sudah menunjukan hampir tengah malam. Kiuw juga kurang paham kenapa harus tengah malam mencari Tama? Apa Tama berubah jadi hantu? Entahlah! Saat ini Kiuw hanya bisa ikut saja.
"Yuk, kita berangkat," ketika Erika sudah naik di tas mobil Kiuw.
"Siap!" jawab Kiuw. Erika memberikan Gps untuk menunjukan arah perjalanan mereka kepada Kiuw. Saat sudah tiba di tempat tujuan mereka, Kiuw juga terkejut ternyata hampir tengah malam ini masih ada juga anak-anak remaja keluar rumah seperti sekarang ini.
"Ini tempat apa, Erika?" tanya Kiuw yang bingung dengan tempat di mana sekarang dia berada.
"Ini tempat orang balab liar, dari informasi yang ku dapat Tama sering ke sini."
"Ngapain dia ke sini?" tanya Kiuw masih belum mengerti.
"Liat saja sendiri nanti. Sekarang pake masker ini biar dia gak kabur pas lihat kita. Oke!" Erika memberikan masker itu kepada Kiuw dan Elina. Mereka memerimanya dan memakainya.
Tak lama kemudian balapanpun dimulai dan saat itu Tama hadir digaris Star. Kiuw kaget melihat Tama ikut andil dalam balapan tersebut dan berniat untuk mencegah Tama, tapi tangan Kiuw ditahan Erika. Kiuw menatap ke arah Erika, "sabar dulu," kata Erika dalam bahasa matanya. Mau tak mau Kiuw harus mengikuti kata Erika untuk bersabar.
Balapan dimulai Tama meninggalkan garis start. Semua lawannya ditinggalkannya, Tama terus memacu kecepatannya supaya menjadi pemenang. Tanpa hambatan yang yang berarti bagi Tama, dia kembali jadi orang pertama mencapai garis finish dan memenangkan taruhannya.
Semua orang bersorak-sorak ketika Tama mencapai garis finish. Sedangkan Kiuw terus memperhatikan Tama yang dikelilingi banyak orang.
"Selamat Tama lo selalu jadi pemenangnya," sambil menjabat tangan Tama.
"Thank's bro!" balas Tama dengan senyum bangga terpancar di wajahnya.
"Ini penghasilan malam ini," sambil menyerahkan uang ke arah Tama.
"Wow! Thank's sekali lagi bro!"
"Soal yang lo minta gue udah siapin untuk lo special dijamin lo bakalan suka."
"Oh-ya! mana?"
"Oh, itu orangnya," sambil menunjuk ke belakang Tama. "Namanya Sisi. Apa lo suka?"
Tama melihat ke arah orang yang ditunjuk lawan bicaranya itu. Ternyata memang ada seorang cewek yang menuju ke arahnya, menggunakan dress mini yang menampakan lekuk-lekuk tubuhnya.
"Gue suka," jawab Tama ketika cewek itu sudah berada dekat Tama. Tama langsung memeluk pinggang cewek itu posesif.
"Okelah kalo lo suka. Selamat bersenang-senang," meninggalkan Tama dengan cewek sexi itu.
Sedangkan Kiuw masih menatap Tama dengan tidak percaya. Kepercayaan diri bahwa dia mempercayai Tama tiba-tiba langsung runtuh dengan kenyataan yang ada.
Tama yang masih belum menyadari ada yang memperhatikannya dari tadi masih asik sama ceweknya.
"Sayang malam ini kita ke mana?" Tama berbisik ketelinga cewek itu.
__ADS_1
"Ah, terserah kamu saja," sambil membelai rahang Tama lembut.
"Kamu sangat menggoda sayang," Tama langsung melumat bibir cewek itu sedangkan cewek itu langsung membalas lumatan demi lumatatan yang diberikan Tama.
Kiuw tidak tahan lagi melihat adegan yang ada di depan matanya. Ini terlalu menyakitinya. Tama melakukannya seperti dia tidak mempunyai kekasih saja. Kiuw mendekati Tama yang masih asik berciuman panas di depan umum seperti ini.
"Tama...!" panggil Kiuw sudah di dekat Tama.
Tama merasa dipanggil melepaskan ciuman mereka dengan rasa kesal, "mengganggu saja," umpatnya dalam hati dan melihat ke arah suara yang memanggilnya itu. Tama nampak kaget melihat Kiuw berada ada di depan matanya.
"Qy....
"Ya, selamat untuk semuanya. Aku senang melihat kamu baik-baik saja," Kiuw sudah sekuat tenaga menahan supaya air matanya tidak jatuh di depan Tama. Ini lebih sakit dari apa yang dirasakannya dahulu. Kiuw meninggalkan Tama dengan keterkejutannya, berlari ke arah mobilnya dan diikuti dua sahabatnya di belakang.
"Kiuw biar aku yang bawa mobil," saat Kiuw maumasuk dalam mobilnya.
"Oke baiklah! Kita keapartemenku saja," pintanya kepada Erika. Kiuw masih melihat kebelakangnya berharap Tama mengejar ternyata nihil dia tidak melihat Tama.
****
***Cinta terasa menyakitkan sekali,
Ketika hanya sebelah pihak saja merasakan cinta.
Cinta kan terasa membunuh
Ketika orang yang yang telah dipercaya menghianati.
Apa ini yang dimanakan cinta
Mengapa hanya rasa sakit yang ku rasakan
Salah kah aku mencintainya
Salah kah aku hanya dia yang kucinta
Salah kah aku percaya kalau dia ada rasa untuk ku
Kenapa jadi begini
Hanya aku memiliki rasa rindu
Kenapa hatiku ini
Kenapa hanya namanya terukir indah
Aku sakit mencintaimu
Telah banyak waktu kita lewati bersama
Apa masih belum cukup untuk mengenalku
Apa belum cukup hanya aku
Kenapa masih ada orang lain jadi orang ketiga
Yang kamu kasihi
Aku tak berharap banyak kali ini
Cukup kenali aku dan perasaan ku
Aku tidak bisa kamu mainin terus
Karna aku juga manusia yang punya hati*** ...
__ADS_1
*****