
Kiuw menuju hotel di mana dia dan Tama bertemu kemarin. Kiuw Samapi di lobi hotel dan kebetulan sekali melihat Iwan baru keluar dari lif. Kiuw langsung menyusul Iwan.
"Hai, kamu masih ingat aku?" tanya Kiuw ketika sudah di dekat Iwan. Sedangkan Iwan hanya menganggukkan kepalanya.
"Apa Tama masih di sini? Apa aku bisa ketemu sama dia?" tanya Kiuw to the point.
"Maaf, Nona, Tuan Muda sudah kembali dua hari yang lalu," jawab Iwan berbohong.
"Aku mohon, aku tahu kamu berbohong," Kiuw tidak menyerah begitu saja.
"Maaf, aku sedang sibuk," Iwan langsung meninggalkan Kiuw di sana.
Kiuw tidak menyerah begitu saja, dia berniat akan menunggu seharian di sini. Itulah tekat Kiuw yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
Satu jam kemudian Kiuw melihat Iwan kembali ke hotel dan sekarang Iwan menjijing sebuah kantong. Kiuw yakin dari bentuk kontong tersebut isinya makanan. Kiuw bergegas menyusul Iwan masuk lif. Iwan yang melihat Kiuw sangat kaget.
"Kenapa anda masih disini, Nona?"
"Aku mengikutimu?" Iwan bingung harus jawab apa sekarang.
Akhirnya pintu lif terbuka, Iwan keluar dan disusul Kiuw. Kiuw membuntuti Iwan, Iwan hanya bisa menghela nafas berat melihat situasinya. Sampai di pintu, Iwan berhenti dan Kiuw juga ikut berhenti.
"Apa anda kurang kerjaan, Nona?" tanya Iwan agak kesal.
"Hkmm, mungkin. Aku yakin Tama ada di dalam dan aku masuk bersmamu."
Iwan hanya tersenyum tipis. "Untuk apa anda mencari Tuan Muda lagi, Nona. Apa belum cukup anda menyakitinya? Saya tidak akan membiarkan anda masuk, meski Tuan Muda ada di dalam."
"Maksud anda apa?" Kiuw tidak menyangka dia mendapat tuduhan seperti itu.
"Aku tidak perlu menjelaskannya lagi. Pasti, anda sudah tahu melebihi saya." Kiuw hanya diam saja. "Kenapa? Anda masih yakin mau masuk setelah menolaknya?"
Kiuw terdiam, tapi dia yakin dengan perasaannya sekarang. Selain mimpi buruk yang menghantuinya. Kiuw juga tidak mungkin terus berbohong dengan perasaannya sendiri.
"Aku ingin ketemu Tama. Jangan halangi aku menemuinya," ucap Kiuw mantap. Iwan menatap mata Kiuw dan dia mencari keraguan, tapibdia tidak menemukannya. Iwan membuka pintu dan mempersilahkan Kiuw untuk masuk ke dalam.
Kiuw melihat keseliling tidak melihat keberadaan Tama. Kiuw jadi was-was dengan keadaannya sekarang ini.
__ADS_1
"Tuan Muda ada di kamarnya," ucap Iwan dan itu langsung memecahkan fikiran negatif Kiuw.
Kiuw langsung melangkah masuk ke dalam kamar dan yang pertama dilihat Kiuw adalah cahaya remang-remang. Kiuw terus melangkah ke dalam dan melihat orang sedang terbaring di balik selimut.
Kiuw melihat wajah orang tersebut dan Kiuw yakin itu Tama. Kiuw menutup mulutnya yang melihat keadaan Tama saat ini. Kiuw terus mendekat ke arah Tama dan Kiuw melihat wajah pucat Tama dengan jelas.
"Iwan, aku tidak mau makan. Jangan paksa aku, semua makanan yang kamu beli rasanya hambar. Apa orang di sini tidak ada yang pandai memasak?" dengan suara yang berat Tama mengoceh dan mata masih tertutup.
Kiuw melihat itu tidak bisa lagi menahan air matanya. Kiuw langsung menjatuhkan tubuhnya dan memeluk Tama.
"Maafkan aku," ungkap Kiuw terus menangis. Tama perlahan membuka matanya, siapa yang memeluknya saat ini. Tama tidak yakin apa yang dia lihatnya, malah sekarang dia beranggapan ini hanya mimpi saja.
"Ah, pergi dariku! Jangan hantui aku lagi! Kamu sudah aku iklaskan dan berbahagialah!" Tama berteriak. Kiuw awalnya sangat terkejut, tapi akhirnya dia yang menyesali apa yang terjadi sebelumnya. Karena ego dia semakin menyakiti Tama dan juga menyaki dirinya sendiri.
"Tama, ini aku Qy-nya kamu. Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi," tangis Kiuw semakin pecah dan meluk erat tubuh Tama.
Tama masih merasa tidak yakin langsung mendorong tubuh Kiuw dan terpental ke lantai. Kiuw merasakan sakit di bokongnya, tapi dia tidak mau menyerah dan terus menyakinkan Tama.
"Tama ini aku! Ini aku Qy-nya kamu. Maafkan aku yang telah membuatmu menderita. Aku tidak mendengarkan hatiku, aku malah mementingkan egoku sendiri. Tama, tatap aku! Coba pegang wajahku," Kiuw meletakkan tangan Tama ke wajahnya.
"Coba kamu rasakan! Ini aku! Aku Qy!" Kiuw menekankan setiap katanya. Tama meluai meraba dengan tangannya dan merakannya.
"Maafkan aku! Maafkan aku!" Kiuw tidak henti-hentinya mengucapkan kata itu.
"Kamu benar Qy-nya aku?"
"Iya, ini aku."
Mendengar itu Tama langsung memeluk Kiuw dengan erat. "Jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu."
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi," Kiuw mempeerat pelukannya. Tama membawa tubuh Kiuw dalam selimut dan memeluknya lebih erat lagi.
"Ini terasa sangat nyaman sekali," fikir Tama dan tertidur lagi.
*****
"Tidak! Jangan tinggalkan aku!" teriak Kiuw dan langsung bangun dari tidurnya. Kiuw melihat sekeliling ini bukan kamarnya dan Kiuw baru ingat ini adalah kamar Tama. Kiuw melihat kesampingnya, masih ada Tama. Kiuw langsung mencium seluruh wajah Tama.
__ADS_1
Tama yang dicium secara bertubi-tubi, menjadi terganggu dan membuka matanya. Tama sanagt terkejut ketika melihat siapa yang telah menciumnya.
"Kiuw?" Tama nampak bingung kenapa ada Kiuw di sini.
"Tama, maafkan aku. Aku... aaku... tidak akan pernah meninggalkanmu lagi dan aku juga mau pulang bersamamu," ungkap Kiuw sambil menangis.
Tama mencoba untuk bangun dari tidurnya dan meraba wajah Kiuw. "Apa ini benar kamu Qy?" Kiuw hanya menganggukkan kepalanya dan terus menangis.
Tama langsung memeluk Kiuw tubuh Kiuw dan sekarang gantian malah Tama yang mencium seluruh wajah Kiuw.
"Aku bahagia kamu di siani?"
"Kamu sakit? Apa sudah minum obat?" tanya Kiuw cemas.
"Aku sudah tidak sakit lagi, karena obatku sudah ada di sini," jawab Kiuw sambil memeluk Kiuw erat.
"Kamu tampak pucat," ungkap Kiuw lagi. "Kita makan dulu yah," bujuk Kiuw.
"Aku gak mau kamu tinggalkan aku," rengek Tama.
"Kalau begitu kita pesan di hotel saja."
"Baiklah."
*****
"***Aku Tidak mau kehilangan mu
Bahagiaku bersamamu
Dan akan selalu begitu."
-Tama-
"Dirimu yang selalu ku cinta
Hanya kepadamu hati ini berlabuh."
__ADS_1
-Kiuw***-