Mengejar Cinta Kakak Kelas Berujung Perjodohan

Mengejar Cinta Kakak Kelas Berujung Perjodohan
19. Masak bersama


__ADS_3

"Kak aldi mana sih." gumam sandra yang sedang berada di depan gerbang sekolah nya.


"Kenapa kakak disini?." tanya sandra.


"Untuk berterima kasih sama lo karna sudah memberi semangat ke gua."


"Kenapa kakak harus berterima kasih sama gue, bukankah banyak anak-anak yang memberi semangat ke kakak."


Riski terdiam dengan angkuhnya.


"Sudahlah, iya sama-sama." ujar sandra.


"Baiklah kalo begitu, masaklah untuk gua." kata riski.


"Tidak mau tidak ada waktu." Sandra pun berniat akan meninggalkan riski menuju ke halte.


"Masak apa saja yang penting lo yang masak." riski pun menarik tangan sandra.


"Ayo."


"Kemana?." tanya riski.


"Beli yang akan dimasak."


"Ayo."


"Sebentar gue telpon kak aldi dulu."


"Baiklah."


Setelah berpamitan kepada aldi lewat telpon akhirnya sandra dan riski pergi berbelanja yang akan dimasak nanti.


Selesai membeli semua yang dibutuhkan mereka pun pergi dari tempat berbelanja dengan berjalan kaki.


"Sungguh nggak disangka kakak pandai memilih tempat, atap sangat cocok untuk membakar." ujar sandra.


"Cewek ceroboh, kenapa nggak ngerti perasaan gua." gumam riski yang sedang memasukkan daging sapi ke tusukan sate.


"Apa yang kakak bilang?."


"Nggak, baiklah hari ini akan gua tunjukan sama lo." riski pun berdiri dari duduk nya dan membakar daging sapi yang telah ia susuk-susuk tadi.


Namun riski bingung bahan apa yang akan dicampurkan ke daging itu.


"Minyak." ujar sandra.


"Gua tau."


Setelah riski memberikan minyak itu tiba-tiba api yang tadi nya tenang berupa menyala.


"Jangan panik." ujar riski dengan santai ia pun menyodorkan tangan nya kearah sandra pertanda jangan mendekat.


"Ohok, ohok, ohok."


"Aiss, minggir kakak tunggu disana saja." Sandra pun mengolesi gading itu dengan kecap dan membakarnya.


Setelah sekian lama menunggu daging tersebut masak, akhirnya masak juga, sebelum sandra memberikannya kepada riski ia pun meniup daging tersebut lalu memberikannya kepada riski.


"Ini coba kakak cicipi." ia pun menyodorkan itu ke mulut riski dan riski pun melahap nya.


"Bagaimana, mau tambah lagi?."


"Enak."


"Ini ambil dan makanlah."


Sandra pun kembali ke tempat pemanggangan itu.


"Sandra, lo punya bakat juga."


"Jangan tiba-tiba memuji gue, kalo masak semua perempuan pasti bisa."

__ADS_1


"Tidak semua nya." sahut riski.


"Lo juga, jangan hanya memanggangnya saja." riski pun berdiri dari duduk nya dan menyodorkan daging di tangan nya lalu menyuapi sandra.


"Enak kan?." tanya riski.


"Sandra gitu."


Riski yang melihat kecap tepat berada di pinggir bibir sandra, ia pun berniat ingin mengelapnnya tapi tiba-tiba.


"Hey, apa yang kalian lakukan?." teriak penjaga sekolah tersebut.


Ya mereka memasak di malam hari bahkan di atap sekolah.


"Ayo pergi." riski pun menarik pergelangan tangan sandra.


"Sebentar kak." Sandra berbalik badan dan langsing mengambil tas sekolah nya.


"Ayo cepat." riski pun menarik tangan sandra.


"Hey, dari kelas mana kalian." teriak penjaga itu.


Namun tidak direspon oleh mereka berdua, mereka berlalu pergi tanpa menghiraukan penjaga itu.


"Akh." tiba-tiba sanda terjatuh.


"Maaf ini semua gara-gara gua." ujar riski.


"Nggak kok ini bukan gara-gara kakak, gue nya aja nggak hati-hati."


"Ayo sini gue gendong." riski pun membalikkan badannya.


"Nggak usah kak, gue bisa jalan sendiri."


"Gua akan gendong lo ke klinik."


"Naiklah."


Sesampai nya disana riski menurunkan sandra ke tempat ranjang klinik tersebut.


"Seperti nya bidan nya sedang menangani pasien lainnya." ujar riski saat ia melihat di ruang lainnya.


"Sini biar gua lihat luka lo."


Riski pun melihat luka sandra yang berada di kaki kiri pada bagian lututnya.


"Jika luka kecil ini gua juga bisa obati." riski pun mengambil betedine dan perban.


"Lo jangan bergerak, biar gua bantu."


Riski pun dengan telaten mengobati luka sandra dan memperbannya.


"Terima kasih kak."


"Hem."


"Oh iya pasti kakak lapar, ini gue berikan roti ini ke kakak."


"Makasih."


"Iya sama-sama."


"Astaga sudah jam setengah sebelas." teriak sandra kaget saat ia melihat jam di hp nya.


"Tenang nanti gua antar setelah membayar pengobatan tadi, kita tunggu dulu sebentar."


"Iya kak, gue cuman takut mama sama kakak gue khawatir."


"Biar gua nanti yang bicara sama mama lo."


"Kak nanti tolong bayar pengobatan tadi ya besok gue bayar sama kakak, soalnya uang gue tinggal beberapa lembar lagi."

__ADS_1


"Walaupun lo nggak bilang gitu tetap gua bayar, lo nggak perlu bayar ke gua."


"Makasih kak."


"Tapi lo harus melayani gua, contohnya seperti buatin gua makanan dan masakin gua."


"Oke gue turutin, ya sudah gue harus pulang kak-


Baru saja sandra akan melangkahkan kaki keluar ia pun di panggil oleh riski.


"Sandra."


"Hati-hati, gua dengar dari orang lain, kalo di belakang klinik ini dulu ada seorang pasien minum obat tidur gara-gara terlalu banyak minum obat itu akhirnya dia meninggal, sebab itu setiap malam sekitar jam 11 malam selalu ada suara tangisan, sangat menakutkan."


"Gue-gue nggak takut." Namun saat sandra akan keluar dari sana ia pun dikaget kan oleh seorang perempuan.


"Akhhh." ia pun respek memeluk riski.


"Kata nya nggak takut."


"Maaf ada yang bisa saya bantu?." tanya bidan tersebut.


"Maaf saya kira tadi hantu." ujar sandra.


"Iya tidak apa-apa." timbal bidan tersebut.


"Em maaf tadi saya lancang membuka lemari tempat obat itu, karna saya ingin mengobati em pacar saya, tadi saya lihat anda sedang sibuk mengobati pasien lain." ujar riski, sandra yang mendengar riski bilang bahwa dia pacar nya ia pun menundukkan kepala.


"Tidak apa-apa."


"Ini uang nya, kalau begitu kami permisi."


"Iya baiklah, terima kasih."


Akhirnya mereka berdua pergi dari klinik tersebut yang dimana sandra masih setia memegangi tangan riski.


"Maaf gua ngajak lo masak di atap sekolah dan akhirnya kita nggak mencicipi semua yang lo bakar tadi." ujar riski.


"Nggak apa-apa kak, tapi jujur di atap sana udara nya sangat sejuk, apa lagi melihat lampu-lampu dari sana sangat bagus seperti bintang."


"Baguslah kalo lo suka."


"Kapan-kapan kita kesana lagi ya." ajak sandra.


"Hem, ya sudah kalo begitu kita ke halte." ujar riski.


"Iya, kakak nggak dijemput."


"Nggak gua naik angkutan umum, sekalian gua ngantar lo pulang."


"Makasih kak."


Akhirnya mereka menunggu angkutan umum datang.


__


Didalam kamar sandra tidak bisa tidur.


Ting


Terdengar suara pesan masuk dari hp nya, ia pun melihat siapa yang mengirim pesan tersebut.


Kak riski : sudah tidur?."


"Kak riski?, nggak, nggak, nggak mungkin kak riski-


"Ah sudahlah mending gue buruan tidur." gumam sandra.


Sedangkan riski menunggu balasan dari sandra namun tidak ada sama sekali balasan dari sandra.


"Apa dia sudah tidur?." batin riski, akhirnya ia pun tertidur juga.

__ADS_1


__ADS_2