Mengejar Cinta Pembantuku

Mengejar Cinta Pembantuku
10. Kasur Terbengkalai


__ADS_3

Semalaman Abimana hanya menghabiskan waktunya untuk memikirkan Amanda anak dari pembantu yang kini juga menjadi pembantu baginya. Sebelum adzan subuh berkumandang Abimana telah menyusun berbagai macam rencana untuk mengetahui satu fakta mengenai janin siapa yang Amanda kandung. Sejak hari di mana jari jemarinya menyentuh perut buncit aman dan merasakan pergerakan dari dalam sana hatinya selalu bergetar dan seolah terikat dengan janin tersebut.


Bahkan tanpa Abimana sadari dia mulai memiliki segelintir rasa serakah rasa di mana dia tidak ingin bila janin tersebut adalah milik pria lain. Tapi satu sisi hatinya yang lain ingin menolak kenyataan tersebut. Menolak kuat-kuat satu fakta bahwa hanya dia yang menodai Amanda di malam kelam itu.


"Ah aku bisa gila kalau seperti ini terus sudah beberapa malam sejak aku pegang perut dia aku jadi tidak bisa tidur seperti ini. Hanya dengan menyentuh perutnya saja aku jadi gelisah begini. Seharusnya aku senang ketika Amanda bilang kalau yang dia kandung itu adalah anaknya dengan pacarnya. Tapi kenapa aku justru ingin berusaha keras untuk membuktikan bahwa apa yang aman Anda katakan itu hanyalah suatu kebohongan saja?"


Abi mana berbicara seorang diri sembari mengancingkan kemejanya satu persatu. Dia menjadi gelisah tak menentu bahkan dia sendiri tidak tahu kemana arah pikirannya saat ini tertuju. Dunianya seperti sedang berporos kepada Amanda seorang.


Pagi itu dia sengaja bangun terlebih dahulu sebelum aman dah dia bahkan sudah menunggu di meja makan dapur sebelum Amanda keluar. Benar saja wanita yang ia tunggu keluar hanya mengenakan pakaian lusuh dan rambut yang ia ikat asal. Sebelum melakukan segala aktivitasnya Amanda memang terbiasa seperti itu dia akan merebus air lalu meninggalkannya untuk salat dan ia akan kembali lagi untuk menyeduh teh manis di pagi hari.


Betapa terkejutnya Amanda ketika melihat sosok majikannya sudah duduk dengan anteng menunggunya tanpa banyak bicara. Abi mana saat itu justru terlihat sangat mirip dengan sosok hantu yang tak bermulut. Dia sama sekali tidak bersuara dan hanya gerak matanya saja yang selalu mengekori Amanda.


"Kenapa dia tiba-tiba ada di sini menungguku seperti ini aku curiga dia mempunyai suatu rencana buruk," pikir Amanda sembari melakukan aktivitasnya seperti biasa.


Akan tetapi dibalik semua ketenangannya itu Amanda pun mempunyai kecemasan. Dia takut jika saja Abimana kembali melakukan hal yang pernah ia lakukan di saat mabuk. Demi berjaga-jaga Amanda secara diam-diam membawa pisau kecil di dalam saku dasternya.


Amanda yang tidak ingin terlihat banyak bercakap dengan majikannya pun hanya mengunci mulutnya lalu pergi dari dapur dan menunaikan ibadah salat subuhnya. Di saat itulah Abimana beranjak dari duduknya dan mengecek kamar Amanda. Entah mengapa pria dengan tinggi 180 cm itu sangat penasaran dengan suasana kamar Amanda.


Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam kamar dan mendapati kasur yang ia beli masih teronggok rapi di dalam kardus. Rupanya Amanda masih tidak menggunakan kasur itu dan lebih memilih menggunakan karpet lantai tipis berhamparkan handuk untuk tidur. Abimana juga memperhatikan kipas kecil yang terlihat lelah memberikan udara dingin di kamar tersebut.

__ADS_1


Entah mengapa saat memerhatikan itu semua hatinya merasa iba. Ada perasaan aneh yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata rasa ingin memberi dan rasa ingin mengayomi itu kembali hadir begitu saja. Iya lalu keluar dengan cepat cepat dari kamar tersebut supaya aman dan tidak memergokilnya berada di sana.


"Aku sudah membelikan kasur itu mahal-mahal, berbahan latex, tipis memang. Tapi kualitasnya bagus dan sangat awet. Tapi dia sama sekali tidak menggunakannya dan itu berarti semenjak malam itu dia masih tidur di lantai seperti tadi? Oh! Ini sangat sulit dipercaya," tekan Abimana dengan suara tertahan dan perasaan geram lantaran pemberiannya seolah tidak dihargai sama sekali.


"Mau makan apa Pak?" Tanya Amanda tiba-tiba yang baru saja keluar dari musala kecil yang ada di salah satu sudut dekat dapur kotor.


"Wih! Bisa nggak sih kamu itu keluar dan nggak tiba-tiba tanya kayak gitu sama aku? Ngagetin aja!" Sembur Abi mana dengan matanya yang nyaris keluar dari tempatnya dia begitu terkejut dengan keberadaan Amanda yang datang secara tiba-tiba.


Amanda tidak memberikan respon berlebih dia hanya diam dan memasang ekspresi wajah datar. Abi mana entah mengapa tiba-tiba merasa canggung. Iya sempat berdehem beberapa kali untuk menetralkan suaranya yang baru saja terkejut.


"Ehem! Aku mau sarapan bubur ayam," jawab Abi mana dan hal itu langsung diangguki oleh Amanda tanpa banyak berbasa-basi lagi.


Amanda menengadahkan tangannya di depan Abimana. "Mana uangnya?"


"Uang apa?" Tanya Abi mana dengan ekspresi wajah yang kebingungan.


"Iya uang katanya mau sarapan pakai bubur ayam berikan aku uang bapak dan aku akan membelikan bubur ayam di jalanan di sana untuk membuat bubur ayam itu diperlukan waktu yang sangat lama dan saya rasa sampai jam 10.00 bubur ayamnya belum matang juga karena kebetulan pagi ini kita ...."


Belum selesai Amanda berbicara Abi mana yang mendengar kan ocehan Amanda yang begitu panjang tersebut pun meletakkan jari telunjuknya di bibir Amanda dan berkata, "Hust!"

__ADS_1


"Banyak omong, nih!" Abimana langsung memberikan selembar uang rp50.000 kepada Amanda.


Pagi itu Abimana sukses menyantap bubur ayam sendirian di meja makan dan Amanda sibuk dengan urusannya sendiri. Di saat Abi mana belum selesai dengan sarapan paginya Amanda sudah terdengar keluar melalui pintu belakang dan menyalakan sepeda motornya. Gadis itu pergi tanpa berpamitan kepada sang majikan.


Abi mana yang melihat kepergian Amanda melalui sisi TV yang terpantau langsung ke monitor yang berada di dalam kamarnya pun seketika menyambar kunci dan dia membuntuti Amanda. Tanpa tersadar Abimana sudah mulai terhipnotis dengan segala sesuatu yang aman dan lakukan. Tanpa sadar pula dia selalu ingin berada di sekitar Amanda meskipun Amanda tidak menebar pesona.


"Eh kenapa aku sampai berada di depan kampus pembantu itu? Kurang kerjaan sekali aku ini," gumam Abimana mengomentari kelakuannya sendiri yang memang menjadi aneh belakangan ini.


----***----


"Kenapa Manda, kamu belum bisa bayar uang semester lagi?" Tanya salah satu teman Amanda yang bernama Sasa.


"Iya aku belum bisa bayar uang semester kayaknya aku bakal ambil cuti panjang deh aku mau kerja keras buat nabung lagi biar bisa nyambung kuliah lagi," jawab Amanda dengan wajah sedihnya.


"Enggak apa-apa Manda, tunda dulu aku juga kayaknya tahun ini bakalan gitu aku mau cari kerja deh paling nggak 1 tahun ini aku ambil cuti dan harus nabung biar bisa lanjut kuliah tahun depan. Soalnya semenjak bapakku kena stroke keuangan keluarga kami jadi terpuruk," kata Lina yang nasibnya pun tidak jauh berbeda dengan aman dan sama-sama mengalami kesulitan ekonomi.


Abi mana yang saya dari tadi dia duduk diam di belakang pohon tempat di mana Amanda berbincang pun mendengarkan semua obrolan tiga serangkai itu. Lagi lagi hatinya merasakan iba, dia tercubit di salah satu sisi hatinya.


"Pantas saja dia sampai tidak bisa membeli kasur gajinya hanya di bawah standar UMR dan dia harus membiayai ibu dan juga adiknya lalu untuk kuliah dia pasti akan kekurangan uang ditambah lagi dengan kondisinya yang sedang hamil dan membutuhkan pertanggung jawaban. Kalau saja fakta tentang istriku itu sudah terbuka dan media mengetahuinya maka aku akan menceraikannya dan apabila anak yang dia kandung ini adalah benar anakku maka aku rela bertanggung jawab sepenuhnya," kata hati Abi mana setelah beberapa malam tersiksa dan tidak bisa memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2