
Balutan putih baju gamis simple berbahan sutera dan riasan tipis make up natural menambah cantik paras wanita yang baru saja melahirkan. Manda tengah duduk di depan cermin setelah akad dan juga kepengurusan serangkaian surat dan data putranya. Tertarik sudut bibirnya ketika tubuh mungil yang ada di atas pangkuannya menggeliat.
"Kayaknya dia haus, kamu enggak menyusuinya?" tanya Abimana yang saat itu juga berada di ruangan yang sama dan tengah sibuk menumpuk berkas pernikahan.
"Iya, tapi apa Bapak enggak bisa keluar? Aku malu kalau harus berganti pakaian dan menyusuinya sedangkan ada Bapak di sini." Amanda berbicara dengan tatapan matanya yang menatap Abimana melalui pantulan cermin di hadapannya.
"Kamu mengusir suamimu sendiri? Cek!" Abimana berdecak. Ia pun menatap cermin dan bertukar pandang.
"Kita ini sekarang suami istri Manda. Kita sudah sah, tidak ada salahnya aku ada di sini, justru kamu yang harus membiasakan diri," kata Abimana seraya mendekat dan memegang kedua pundak Manda tanpa merubah pandangannya.
"Tapi aku sangat malu, dan dia. Dia terus menatapku dengan tatapan macam apa itu. Lalu putraku, ah dia juga sama saja dengan ayahnya. Tatapan macam apa itu Nak. Matanya sudah basah dan dia pasti akan menangis sebentar lagi. Hhh ... Kalian ini kenapa kompak sekali?" Manda mengomel dalam hati.
"Ya sudah kalau begitu Bapak gendong sebentar dia, aku mau berganti pakaian di kamar mandi," kata Manda dengan menatap datar Abimana.
"Letakan saja dia di ranjang. Dia belum bisa bergerak banyak kan? Aku akan membantumu untuk berganti pakaian. Mulai sekarang ada kewajiban ku untuk menjaga dan melindungi serta membantu kalian berdua, jadi kamu jangan menolaknya atau aku akan berdoasa," ucap Abimana yang kemudian bergerak mengambilkan baju ganti untuk istrinya, Manda.
"Ah iya, dia benar. Aku yang harus membiasakan diri dengan semua ini. Sekarang, dia bukan lagi majikanku, tapi dia suamiku. Lalu bayi mungil tampan ini adalah keturunannya, secara langsung aku merupakan bagian dari kehidupannya saat ini," kata hati Manda seraya meletakkan si kecil yang belum mempunyai nama itu di atas kasur empuknya.
"Ini bajumu," kata Abimana dengan menyodorkan daster untuk Manda.
"Bapak, apa aku harus berganti pakaian di sini?" tanya Manda dengan tatapan matanya yang nampak ragu.
"Apa salahnya? Kamu istriku. Ganti saja di sini Manda, sekalian aku ingin melihat luka jahitan di perutmu. Apa semuanya baik-baik saja. Aku harus teliti untuk itu dan menjagamu dengan baik. Oh iya, kita sudah punya anak. Jangan memanggilku seolah aku ini masih majikanmu. Panggil aku dengan sebutan lain," pinta Abimana yang membuat Manda terdiam mencerna permintaan itu.
"Aku ingin dipanggil ayah oleh putraku dan bukan Bapak." Abimana mendekati Manda menatapnya dengan jarak dekat.
"Ayah, baik. Aku juga akan memanggilmu dengan sebutan itu." Manda menentukan panggilannya. Dia sama sekali tidak ada inisiatif untuk membuat panggilan sendiri.
__ADS_1
Abimana sedikit membungkuk, satu tangannya lalu mengusap pipi Manda. Ia tersenyum dan berkata dengan begitu lembut, "Buat panggilan yang lain dan gunakan saat kita sedang berdua. Ini pernikahan sungguhan dan aku tidak mau kita main-main saja. Sudah ada dia dalam hidup kita, jadi jangan berpikir untuk main-main."
Cup.
Sebuah kecupan Abimana daratkan di kening Manda. Wanita itu menyentuh keningnya dengan mata yang membulat. Dia seolah tidak percaya.
"Bapak cium saya?" tanyanya masih dengan tangan yang menempel di kening dengan tatapan tidak percaya.
Abimana tersenyum lalu mengulangi hal yang sama, ia mencium lagi pipi wanita itu.
Cup!
"Iya, kenapa? Mencium istri itu besar pahalanya. Kita ini menikah sungguhan jadi apa saja yang kita lakukan di dalamnya harus sebenar-benarnya dengan perasaan dan ketulusan."
Abimana mendekat, dan mengikis jarak. Tatapan matanya begitu teduh dan menenangkan. Ia lalu mendekap erat tubuh Manda dengan satu tangan yang bergerak lembut mengusap punggung wanita muda itu.
"Walaupun awalnya tidak dengan cerita yang baik, tapi aku ingin setelahnya kita sama-sama memperbaikinya. Tujuan kita adalah untuk masa depannya dan aku ingin menua bersama wanita yang telah memberikanku keturunan ini. Jangan pernah berpikir untuk mendua atau pun berpisah denganku ya. Kalau pun hal buruk itu nantinya terjadi, aku akan membawa putraku dan kamu silahkan mencari bahagiamu sendiri."
"Jangan bawa dia, hartaku hanya dia. Baik, kita akan hidup bersama dan memperbaiki semuanya. Ajari aku untuk bersikap dewasa." Manda berbicara dengan pelan dan suara yang bergetar.
Abimana tersenyum, ia merenggangkan pelukannya dan memberikan jarak sepanjang lengan. Ia menatap teduh dan lembut Manda.
"Kamu itu sudah dewasa, jauh dari apa yang kamu pikirkan. Kamu sudah menjadi wanita hebat yang mampu bertahan seorang diri di tengah badai yang aku ciptakan. Akulah yang seharusnya meminta maaf karena menyertmu ke dalam masalah hidupku."
Manda hanya diam, dia merasa sangat nyaman dan tenang kali ini. Sikap hangat dan lembut Abimana berhasil membuatnya merasa dibutuhkan dan dihargai sebagai seorang ibu dan wanita.
Perlahan, jarak itu kembali terkikis dengan mata yang terpejam namun tepat sasaran. Abimana mulai menyesap madu dari bibir Manda.
__ADS_1
Ciuman hangat penuh kasih itu terjadi, basah dan bertukar saliva. Terjadi dengan lembut dan perlahan membuat Manda merasa sangat nyaman dan berada di puncak kenikmatan.
"Oe!" jerit tangis bayi mungil itu membuyarkan segalanya.
"Oh, dia cemburu aku merebut Ibunya?" kata Abimana dengan tatapan bahagia.
"Kayaknya," jawab Manda sambil tersenyum dan mengelap bibir Abimana. "Lepaskan aku."
"Lepas? Apa maksudnya lepas?" Abimana mengeratkan pelukannya dengan hati-hati. Ia menatap lekat Manda dengan sebelah alis yang terangkat.
Manda tersenyum. "Iya lepasin dulu, kamu gendong dia, aku mau ganti baju. Bagaimana bisa aku mau ganti baju kalau kamu terus seperti ini?"
"Oh, aku pikir apa," kata Abimana pelan sambil tersenyum kecil. Ia langsung beralih pada si kecil dan menggendongnya.
Dengan malu-malu Manda mulai melucuti pakaiannya. Barulah saat itu Abimana tersadar kalau istrinya itu sebenarnya tidak boleh melakukan gerakan membungkuk dan Manda sudah melakukannya. Hal itu ketahuan setelah ia melihat langsung Manda kesusahan untuk mengambil dasternya yang jatuh.
"Manda, kamu kesulitan membungkuk dan tidak boleh melakukannya bukan? Lalu pagi tadi saat memakai celana da*am?"
"Iya aku melakukannya dan sedikit nyeri memang. Tapi aku hati-hati kok," jawab Manda yang membuat Abimana langsung meletakkan si kecil dan membantunya.
Abimana langsung kembali memeluk Manda dan menghujani keningnya dengan ciuman bertubi-tubi. "Maaf ya, karena aku kamu jadi sakit begini. Kenapa enggak bilang? Aku bisa bantu kamu kan?"
"Tapi tadi kan kita belum sah Pak," jawab Manda.
"Pak? Kamu panggil aku Bapak lagi?" protes Abimana tidak suka.
"Iya terus panggil apa?"
__ADS_1
"Sayang mungkin," usul Abimana seraya tersenyum manis.
Blush! memerah pipi Manda mendengarnya.