
"Setengah jam sudah kita ada di sini Bu. Apa ibu tidak haus atau apa? Saya bisa membantu ibu beli minuman," kata Pak Ali yang sebenarnya sudah lelah sekaligus bingung lantaran menunggu di depan sebuah rumah hanya untuk mengamati sebuah rumah yang lainnya.
"Tidak usah Pak Ali, saya tidak haus. Saya hanya rindu dengan adik dan juga ibu," kata Amanda dengan tatapan mata yang terus menuju ke sebuah rumah kecil yang berada di dekat persimpangan.
"Kenapa tidak langsung datang saja?" Pak Ali penasaran.
"Lain kali saja sekarang kita pulang saja," ucap Amanda pelan dengan mengusap air matanya.
"Aneh, katanya rindu. Tapi kenapa tidak mau masuk ke rumah ibunya sendiri? Apa mereka ada masalah semacam tidak direstui?" pikir Pak Ali yang memang belum tahu menahu mengenai awal mula hubungan antara Abimana dan Amanda.
Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, Amanda sama sekali tidak berbicara. Dia hanya diam. Hatinya sesak setelah beberapa menit lalu ia berperang menahan rindu.
__ADS_1
Pa Ali rupanya tidak diam begitu saja. Dia mengamati dan menaruh iba terhadap wanita hamil yang seumuran dengan anak sulungnya. Beberapa kali terdengar isakan dan ia segera mengulurkan tisu.
"Kalau mau menangis jangan ditahan Bu. Menangis saja, tidak apa-apa. Apa mau menenangkan diri dulu ke suatu tempat?" tawar Pak Ali.
"Ke suatu tempat di mana Pak? Saya pusing dan mau istirahat. Antarkan saya pulang saja. Saya mau tidur Pak " Amanda menghindari percakapan yang lebih serius. Dia bisa merasakan bila Pak Ali mulai tertarik dengan urusan dan kisah hidupnya.
"Oh iya, baik!" kata Pak Ali dengan bersemangat dan segera melajukan mobilnya kembali ke rumah.
...----------------...
"Oh, jadi itu sebabnya lo itu ajukan gugatan yang memberatkan dia?" tanya Novan.
"Iya karena itu. Karena gue udah enggak bisa mengontrol dia dan memenuhi kebutuhan batinnya. Dalam persidangan kemarin di secara sengaja menyebutkan berapa gagah dan unggulnya Om Markus. Itu terdengar menjijikkan, tapi itulah persidangan.
__ADS_1
"Maksudnya Lo Ama dia enggak anu anu?" telisik Novan.
"Ya bukan begitu, sama gue juga, sama Om Markus juga. Ah pokoknya dia itu istri durhaka.
"Terus kapan sah-nya?" tanya Novan.
"Belum tahu, tapi aku dapat bocoran dari pengacaraku. Agaknya tidak lama lagi."
"Aku doakan semoga lancar semua urusanmu Abi. Aku tidak menyangka jikalau ternyata istrimu itu wanita gila. Kenapa kamu tidak mengabariku saat dirawat di rumah sakit?"
"Gue enggak mau ngerepotin temen Van. Udah ah, kita harus lanjut kerja. Mau enggak kamu dapat hadiah pergi liburan ke Kanada?" tanya Abimana.
"Ya mau dong. Enak aja, masa iya enggak. Ah gue tahu, Lo juga curiga sama Pak Ahmad tentang undian tahun lalu. Aku merasa dia mengakali kita supaya bisa dapat lebih dulu arisan dan pergi mengajak istrinya.
__ADS_1
Abimana hanya menggidikan kedua bahunya. Ia lalu berpamitan dan pergi menuju ke kamar mandi. Selama melewati lorong, para karyawan semua menyapanya namun betapa terkejutnya dia ketika seorang resepsionis sampai naik ke atas hanya untuk memberitahu bahwa di bawah ada tamu yang memaksa ingin menemui atasannya.
"Bapak, kebetulan Bapak di sini. Ada tamu di bawah memaksa untuk masuk ke ruangan Bapak. Apa yang harus kita lakukan Pak?" tanya Aura bimbang.